Sampailah pada Waktu yang Tak Perlu Berdalih
Selamat datang, para pembaca rakus! Jika selera kamu untuk membaca tidak terpuaskan dan kamu suka meletakkan pena mu sendiri di atas kertas. Berima adalah tempat untuk kamu. Mari tumbuh bersama dengan mempelajari beberapa hal melalui kata-kata meski terkadang sulit di terjemahkan dalam satu pikiran.
Dolorosa Sinaga & Budi Santoso di kuratori oleh Alexander Supartono menggelar pameran bertajuk "Pameran Seni Rupa Patung dan Aktivisme" pada 20 Juli sampai 19 Agustus 2024 yang bertempat di Gedung A, Galeri Nasional.
Tema pameran yang diambil Dolorosa dan Budi masih terus mengusung tentang isu hak asasi manusia, pembelaan serta solidaritas pada kaum perempuan.
Pameran seni rupa "Patung dan Aktivisme: Dolorosa Sinaga & Budi Santoso" inj menampilkan lebih dari 53 karya. Salah satu karya yang menarik perhatian adalah I, the Witness.
———————
Dolorosa Sinaga
I, the Witness
109 x 78 x 230 cm
iron plat
2024
I, the Witness adalah penghormatan terus menerus dan perjuangan menuntut keadilan yang terus berlanjut untuk Ita Martadinata (1980-1998), salah seorang korban perkosaan massal kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Pada 8 Oktober 1998, Martadinata dibunuh dengan brutal di kamar tidurnya, hanya seminggu sebelum dia bersaksi di depan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat. Kasus pembunuhan ini belum terpecahkan sampai sekarang. Lewat tangan Dolo, Martadinata hadir dalam keabadiannya dalam sosok langsing yang berdiri tegak di depan meja kesaksian. Dia memakai kebaya encim keemasan, simbol kekekalan sekaligus mewakili identitas etnisnya. Tatapan matanya yang tajam dan mulutnya yang terbuka akan terus menyuarakan mereka yang tertindas.
Label: galerinasional, literasi, menulis, pameran, travelling, ulasan
Label: kata, literasi, menulis, novel, pikiran, puisi, sajak, senja
"L" merupakan sebuah novel romansa sederhana dengan berbagai permasalahan orang dewasa di dalamnya, kerumitan dalam mempercayai cinta, kerumitan mengungkapkan rasa hingga berujung pada penyesalan.
Novel "L" merupakan sebuah cerita tentang sosok perempuan bernama Ava Torino yang mempunyai misi cukup unik dalam hidupnya, dirinya berambisi untuk bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang bisa melengkapi daftar alfabet dari A sampai Z.
Semua sudah ia dapatkan bahkan dari alfabet tersulit yaitu X, dia sudah berhasil memacarinya sekaligus menjadikannya mantan. Satu huruf yang cukup lama ia tunggu dan tak juga kunjung dipertemukan adalah, laki-laki yang memiliki nama dengan alfabet L.
Hingga suatu hari ia mencoba kemustahilan yang bahkan dirinya tidak percaya, atas permintaan teman-teman satu kerjaannya. Hal itu adalah memegang tangan Buddha sambil melakukan make a wish yang dipercaya, jika kamu berhasil memegang tangan Buddha, maka keinginanmu akan terkabul. Seluruh rekan kerja Ava tidak ada yang berhasil saat melakukan itu.
Namun, lain halnya dengan Ava yang mengatakan jika hal tersebut tidak sulit untuk dilakukan, buktinya ia bisa dengan mudah memegang tangan Buddha, lalu Ava segera diminta untuk berdoa dan meminta satu keinginan. Ava mengikutinya dan meminta dalam hati untuk dipertemukan dengan L, "the Last" "the Love "the Last Love".
Akhirnya ia dipertemukan dengan seseorang yang mempunyai alfabet L, bernama Ludi yang bertemu dalam waktu yang terbilang berdekatan setelah dirinya melakukan kegiatan kemustahilan tersebut.
Namun, sebelum itu dirinya sempat bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat menarik, bernama Rei, Ava berharap pada saat itu laki-laki itu memiliki nama depan dengan alfabet L saja. Namun, tidak mungkin...
Berjalannya waktu, Ava dan Ludi menjalin hubungan. Ludi adalah seorang laki-laki yang sikap dan tindakannya diinginkan dan diimpikan oleh seluruh perempuan, termasuk Ava.
Lambat laun, banyak yang berubah dalam kehidupan Ava setelah memegang tangan Buddha dan setelah pulang dari Jogja, yang bertemu Rei.
Pertemuannya dengan Rei tidak hanya sampai disitu, dirinya juga bertemu kembali dengan Rei di Bali, disinilah Ava memiliki waktu lebih banyak untuk dapat mengenal Rei. Rei sangat menghibur dirinya saat di Bali, ditengah pekerjaannya yang mendesak, urusan teman, sampai keterlambatan pesawat yang membuatnya ribut dengan pacarnya, Ludi.
Tak lama dari kepulangan dari Bali, Ava memilih keluar dari tempat kerjanya dan dirinya mendapat tawaran pada salah satu perusahan Creative, yang dimana ternyata menjadi satu tempat kerja dengan Rei.
Sejak di Bali Rei sudah selalu melarang keras keseharian Ava yang buruk yaitu, rokok dan alkohol. Padahal untuk pertama kali bertemu Rei, Ava mengenal nya sebagai laki-laki perokok aktif yang di kerjai teman-temannya karena hangover, hingga ia bisa sampai di Jogja.
Sampai saat Ava menjadi teman satu kerjanya Rei. Laki-laki itu tetap selalu melarang keras Ava dalam soal Rokok, Rei akan selalu menyembunyikan korek dan menghancurkan batang rokok yang dimiliki Ava.
Lain halnya dengan Ludi yang terkesan tidak masalah dengan hal itu, terkadang ink juga yang menjadi pertanyaan Ava. Namun semuanya ditepis dengan dalih Ludi adalah laki-laki baik yang bisa menerima Ava apa adanya, sampai Ava memutuskan menerima lamaran Ludi.
Ava pernah bertanya sekaligus bersyukur atas kehidupannya yang baik-baik saja. Namun, segalanya terjawab pada waktunya.
Dimana saat Ava sudah merubah kehidupannya, sikap dan segala tindakan nya serta menghentikan pencarian nama alfabet untuk terakhir kalinya dan mencoba untuk merasakan cinta yang sebenarnya bersama Ludi.
Ava bukan lagi perempuan yang selalu menganggap ringan suatu hubungan yang hanya dihadiri dengan "jadian dan putus". Dirinya mencoba untuk menjadi serius dalam hubungan dan percaya pada pasangan.
Namun, saat itu tiba, Ava tidak menyadari jika karma tidak mengenal batas waktu. Rahasia besar terbuka di penghujung kehidupan Ava menuju hari H tunangannya dengan Ludi dan penghujung kebersamaannya dengan Rei, segalanya menjadi sebuah kelegaan sekaligus penyesalan terdalam selama hidupnya bagi Ava Torino.
....
Ketika kamu disakiti 20% jangan pernah membalasnya 1% pun dengan tindakan apapun apalagi sampai 100%, karna 20% itu akan berbalik ke kamu. Mungkin kecil angkanya, tapi besar rasanya di kamu itu, infinity. Karma itu pasti ada dan itu akan terus berulang-ulang jika kamu terus membalas karma yang seharusnya bukan tugas kamu untuk membalasnya.
Sakit hatinya manusia pada setiap tindakan dan perkataan yang kita lontarkan itu yang paling bahaya adalah ketika dia tidak mengatakannya.
Lebih mengecewakannya lagi, seringnya karma datang disaat kita sudah mulai menyesalinya dan berharap mengubah perilaku dan tindakan akan terhindar dari karma. Namun, karma itu sendiri tau jika dia tidak datang, perubahanmu tidak bisa terjadi begitu saja.
Akhirnya segalanya terlihat, kegelapan yang melanda dari awan hitam yang mengelung secara betah dalam satu titik, kini telah pergi. Tenang, adalah rasa yang dapat menyentuh saat ini. Mungkin, inilah hasil perjalanan panjang dari hal yang ku sebut pelarian sementara.
Karena ternyata aku pikir, kita butuh berlari dibanding terus menghadapi, berlari untuk dapat melihat lebih banyak hal yang bisa kita dapat sebagai bahan untuk menghadapi masalah itu. Bukan begitu?
Tidak selamanya pelarian membuat konotasi buruk akan lemahnya diri yang tak mampu untuk menghadapi situasi yang terjadi.
Bahkan jika kita tidak dulu berlari, kita tidak akan pernah mengetahui cara menghadapi situasi itu dan pada akhirnya hanya sebisa yang kita lakukan untuk menghilangkan masalah itu. Penglihatannya terlalu sempit untuk tetap disitu dan berharap segalanya selesai.
Namun, pada akhirnya aku selesai, aku melihat sinar. Aku merasa tenang. Aku kembali berjalan. itu yang kurasakan.
Hingga... terhantam pada satu hal yang membuatku harus terbangun dari mimpi. Aku kebingungan untuk mencari matahari yang baru saja ku lihat tadi, terang dan tenang yang ku rasakan. Hingga semua mulai tersadar jika, segalanya memang hanya mimpi.
Sudah terlalu lama, sampai pada akhirnya memutuskan untuk berjalan. Bahkan sudah sejauh ini perjalanannya, sampai-sampai setiap jawaban yang ada, aku pikir itulah jawabannya. Namun pada akhirnya ku disadarkan, jika nyatanya kau tidak pernah menemukan jawaban yang sebenarnya.
Dan... Nyatanya pun perjalanan yang kulakukan selama dan sejauh itu pun tidak pernah aku lakukan.
malam adalah saksi bisu
dari dinginnya asa yang kandas diterjang rasa
terjaga dalam detik demi detik yang kian berkedip
sabit di tengah kerumunan awan mendung
setengah enggan memancarkan cerahnya
hanya kerlip lampu malam memantul
dalam air danau yang merubah dari pandangan
sunyi di luar terasa menyeruak
namun dalam pikiran bising tak lagi mampu terjamah
sepenuh hati diri ini meminta diam
agar tak membangunkan jiwa-jiwa yang terlelap
tidak ada yang mampu mendengar lelahnya tubuh terseret gelombang
bagai imajinasi yang tak mampu diterjemahkan
rintihan letih menggaungkan sebuah realita
Semua memiliki warnanya masing-masing, tidak seluruh akan putih atau akan hitam. Hidup mereka adalah milik mereka begitupun sebaliknya, hidupmu hanya milik mu. Namun, terkadang tidak ada salahnya mereka berbagi tentang kehidupannya, tentang bahagia nya atau bahkan tenang lukanya, tentang jerit tangisnya, frustasinya atau gelak tawa kebahagiaannya.
Seringkali didapat perbedaan cara pandang antara seseorang yang bercerita dengan pendengarnya. Hal itu wajar, karena setiap kamu memiliki mata masing-masing. Jika apa yang mereka utarakan tidak mampu kamu terima, tidak ada salahnya tetap mendengar bukan?
Mungkin saja kepalanya terlalu berisik sehingga pikirannya kacau untuk sekedar menyampaikan apa yang dimaksud, tidak perlu pula kamu membandingkan kebisingan pada setiap manusia. Karena dalam hidupnya mereka lah yang menjalani, bukan kamu atau yang lainnya.
Kamu bahkan tidak tahu betapa besar usahanya selama ini untuk menutupi kelemahannya dan menyingkirkan ketidakpercayaannya pada setiap orang untuk hanya sekedar bercerita.
Setiap orang memiliki ceritanya masing-masing dan dalam ceritanya mereka adalah pemeran utamanya, jika mereka merasa tidak nyaman dengan yang mereka jalani, tidak perlu dibandingkan. Karena hanya mereka yang memahami.
Cukup dengarkan dan hargai saja perbedaannya, karena di beberapa kesempatan mungkin kamu tidak menyadari, bahwa telinga dan diam bisa menjadi hal yang paling besar harganya dibanding organ tubuh dan tindakan yang lain.
Hidup adalah sebuah perjalanan, entah bagaimana akhirnya yang harus dinikmati adalah prosesnya. Jatuh bangun dalam segala hal adalah sesuatu yang biasa dan terpenting adalah bagaimana kamu bisa membangun pondasi terkuatmu, pondasi yang di bangun untuk dirimu sendiri kelak, karena di depan sana kita tidak tau apa yang akan terjadi, entah menemui danau dan harus berenang menyebranginya, entah pula menemukan pohon tumbang yang harus kita singkirkan untuk kita bisa melewatinya atau bahkan bukit tinggi yang harus kita daki berapapun ketinggiannya.
Lalu mungkin saja di dalam bukit itu terdapat banyak jurang, entah berapa kali kita harus terpelosok kedalam jurang itu, sampai akhirnya dapat menemui tujuan dan mendapatkan apa yang di cari.
Jika dalam perjalanan dan proses itu kamu tidak mempunyai pondasi yang kuat, kamu akan gagal dan hidupmu terhenti disana, padahal seharusnya tidak. Kaki mu masih baik-baik saja, hanya lecet tertusuk ranting pohon dan kamu masih bisa berjalan untuk dapat menemukan obat dan menyembuhkan lukamu. Namun, kamu kalah dengan dirimu sendiri yang sudah lebih dulu mengatakan "tidak bisa."
Maka dari itu jadilah yang terkuat versi dirimu sendiri, bangunlah pondasi itu sekuat yang kamu bisa. Jikalau nanti kamu terjatuh, kamu tidak ragu untuk bangun lagi, karena jika bukan kamu orangnya lalu siapa lagi yang bisa menolong dirimu sendiri pada hal terburuk yang menimpa mu nanti.
Pada akhirnya pula, suatu saat nanti kamu hanya akan menemukan dirimu sendiri. Hanya sendiri.
Kehilangan untuk yang kedua kali pada orang yang sangat berarti dalam hidup adalah sebuah pukulan telak yang tak mampu terelakan. Lohita Sasi seorang gadis yang telah kehilangan ibunya dan bertahan hidup bersama ayahnya yang selalu menyayanginya serta meneguhkannya atas kehilangan yang telah merenggut perempuan yang mereka cintai yaitu Ibu Lohita. Namun, semua kehilangan rasanya sangat lengkap setelah Lohita juga harus kehilangan Ayah nya di saat dirinya masih sangat membutuhkan sosok orang tua yang menyayanginya.
Sebelum kepergiannya Ayah Lohita meninggalkan secarik kertas yang berisi pesan untuk dapat mempertahankan Besali (Bengkel pandai besi) yang telah menghidupi keluarganya selama ini dan salah satu yang dapat menghidupi kembali Besali tersebut adalah seorang laki-laki bernama Sapta yang telah bekerja dengan Ayah Lohita sejak ia menduduki bangku SMK, seorang laki-laki yang sangat dipercayai Ayah Lohita dan mampu memangku tanggung jawabnya untuk mengurus Besali.
Lohita sendiri bukanlah anak tunggal, ia merupakan anak bungsu dari keempat kakak laki-lakinya yang lebih memilih merantau untuk bekerja ke kota, karena mereka tidak ingin berurusan langsung dengan Besali. Jarak yang cukup jauh antara umur Lohita dengan kakak-kakaknya membuat Lohita tidak dekat dengan mereka berempat, di tambah pula kehadiran mereka yang hanya beberapa kali dalam sebulan untuk pulang mengunjungi keluarga.
Tanggung jawab menghidupkan Besali juga bukan hal yang mudah bagi Lohita. Dimana hal itu berarti dirinya harus menemui dan berbicara langsung dengan Sapta teman masa kecilnya yang kini hubungan mereka sudah sangat menegang. Tidak ada lagi percakapan dan canda tawa yang sering mereka lakukan dulu. Dan Lohita sendiri lah yang membangun tembok pemisah itu, sedangkan Sapta masih sama seperti yang perempuan itu kenal sejak dulu. Sapta adalah laki-laki yang banyak bicara, cuek namun sangat perhatian. Ada hal yang membuat Lohita harus menjaga jarak dari Teman masa kecilnya itu.
Selama memikirkan bagaimana cara menghidupkan Besali selain harus berbicara dengan Sapta, akhirnya Lohita dibantu oleh laki-laki bernama Rey, seorang penulis yang kerap kali mampir ke toko buku mandiri milik Lohita. Rey adalah seorang perantau yang bekerja sebagai penyiar radio dan diselingi oleh kegiatan menulis. Rey mempunyai ide untuk memasang iklan lowongan pekerjaan di Besali milik Ayah Lohita, meski Rey pun awalnya memberi masukan untuk dapat memanggil kembali pekerja terdahulu yang pernah bekerja bersama Ayah Lohita daripada harus mengangkat orang baru. Namun, Lohita masih tetap ragu untuk memikirkan hal itu.
Pada akhirnya di seratus hari kepergian Ayahnya Lohita sudah harus membuat keputusan. Berulang kali para pelanggan yang memesan Besi di tempat Ayahnya menanyakan akan dibukanya Toko pandai besi itu dan terpaksa Lohita harus menjawab dengan nada kebingungan.
Kisah Lohita dan keluarga nya adalah cerita yang sangat menyentuh, rumah yang biasanya ramai dengan suara Ayah dan Ibunya kini hanya tinggal sunyi tanpa bising. Bukan hal yang mudah bagi Lohita harus hidup tanpa kedua orang tuanya serta jauh dari keempat saudara kandungnya yang merantau di kota.
Kisah Lohita, Sapta dan Rey juga merupakan sebuah romansa yang dikemas secara sederhana dan tidak muluk-muluk. Namun, tetap dengan gaya percintaan masa remaja yang ada di tahun yang lebih baru ini
Konflik yang dibuat penulis sangat jelas dan tertata dengan rapi, serta rasa yang disampaikan penulis melalui kalimat nya sangat berhasil dalam membuat pembaca merasakan seperti ada di suasana dan menjadi tokoh dalam tulisannya.
Terkadang ketakutan yang kerap kali muncul disaat tidak pasti adalah kita sendiri yang mengundangnya, kita lah yang memberi masuk bahkan membuat ketakutan itu mengguratkan dengan bebas penanya dalam pikiran kita. Sehingga seringkali kita malah menduga-duga hal yang belum pasti akan terjadi.
Tidak salah untuk bersikap waspada. Namun, jika sikap waspada itu malah membatasi diri kita mungkin itu yang perlu dikoreksi. Sikap ketakutan atau overthiking yang berlebihan sangat tidak dianjurkan untuk terus ditumbuhi dan disirami setiap waktu. Karena hal tersebut sudah dipastikan sangat merugikan.
Ruang gerak yang kita lakukan jadi terbatas, sebab rasa takut yang sudah lebih mendahului daripada kaki yang melangkah. Seharusnya kedua hal tersebut bisa berjalan beriringan, rasa takut dapat digantikan dengan sikap waspada yang tidak berlebih dan kaki harus tetap berjalan.
Jika ketakutan dalam diri terus dibiarkan, kamu tidak akan menumbuhkan nilai dirimu sendiri, melainkan malah akan menciptakan seorang pecundang dalam dirimu, tentu setiap orang tidak ingin dirinya disebut pecundang.
Maka dari itu segeralah hempaskan hantu-hantu yang berterbangan dalam akal pikiran, ubah ketakutan mu menjadi sebuah sikap waspada yang bisa kamu gunakan untuk tetap berhati-hati dalam setiap langkah yang kamu pijak.
Seringkali perempuan tidak memiliki suara untuk memilih setiap warna yang ia suka, kata yang ingin diucapkan dan langkah aman yang ia pilih. Hal ini terjadi sebab kesetaraan yang telah mendarah daging dalam tubuh manusia, orang-orang selalu menganggap jika perempuan yang lahir hanya dapat mengikuti takdir yang telah disampaikan oleh para pendahulunya.
Perempuan hanya bisa terbang mengikuti angin yang menghembus tak tentu arah, tidak ada satupun bangunan yang mampu melindunginya dari badai yang sewaktu-waktu dapat menerpanya.
Jika perempuan tidak mengikuti aturan hidupnya sebagai “perempuan” maka sudah dipastikan ia akan dicemooh dan di caci maki, bagai barang yang tidak berharga dan tak mempunyai nilai.
Perempuan dituntut harus sempurna sedangkan laki-laki tidak apa tidak sempurna “karena mereka laki-laki.” Ketika perempuan berselingkuh maka habislah ia dipermalukan dan kata-kata "jalang” "cabo" "tidak ada harga diri" sudah pasti akan melekat dan terpaku dalam dirinya.
Namun, ketika laki-laki yang berselingkuh orang tidak memperdulikannya atau mengatakan “mungkin istrinya yang tidak bisa bersolek, tidak bisa melayani suaminya sampai-sampai suaminya harus jajan di luar.” dan sebagian hanya berkata "ya namanya juga laki-laki" mirisnya, sering ditemukan kata-kata seperti itu terlontar dari mulut yang juga seorang perempuan. Betapa nikmatnya menjadi laki-laki yang terus berlindung dalam kalimat se receh "Namanya juga laki-laki."
Dalam beberapa adat yang masih ditegakkan oleh suku pedalaman yaitu menuntut agar perempuan harus bisa melakukan segalanya. Seperti, mengurus kelima anaknya, memasak pagi-pagi buta untuk suami dan anak-anaknya, setelahnya harus pergi ke ladang mencari nafkah, di tengah terik siang kegiatan mencuci baju dan segala perabotan di kali juga harus dilakukan, dan sorenya harus memberi makan hewan ternak di rumahnya.
Belum selesai sampai disitu, malamnya ia harus menyediakan makanan dan kopi yang disajikan untuk teman-teman suaminya yang berkumpul di pekarangan rumah, belum sempat beristirahat ia juga harus memuaskan nafsu dari suaminya hingga pagi menyongsong kembali dan kegiatan itu terus menerus dilakukan selama hidupnya. Jika tidak dapat melakukan semaunya tamparan pukulan, tendangan akan dengan pasti mendera tubuhnya.
Mengapa hal itu harus terjadi? mengapa perempuan yang harus melakukan segalanya? kenapa bukan laki-laki? jawabannya karena dalam hal ini laki-laki merasa bahwa dirinya sudah membeli seorang perempuan dengan mahar yang sangat fantastis sehingga ia sudah mendapat harga dirinya dengan begitu perempuan lah yang dituntut untuk tahu diri ketika sudah diberi mahar yang besar maka perempuan itu harus berguna di rumahnya.
Betapa tangguh seorang perempuan dalam hidupnya, dan betapa pengecutnya laki-laki dalam hidupnya. Ia harus menginjak-injak perempuan terlebih dahulu supaya terlihat, agar mereka tidak terhalang, agar mereka terlihat hebat dan berharga.
Ketakutan jika ia tidak menginjak perempuan, maka perempuan akan berdiri secara lantang dan akan menghalangi tubuh laki-laki yang haus akan kehormatan dan harga diri.
Langit muram yang ditampilkan pada warga bumi sore ini cukup menenangkan, tidak begitu muram, namun senyum merekah nya hanya terlihat lebih sedikit daripada murungnya. Berjalan di hamparan pasir lembut tanpa alas seakan terapi kaki yang cepat menyembuhkan dari beratnya langkah untuk setiap tujuan.
Angin kencang yang membelai kulit, menembus tiap dinding pori-pori tubuh, menerpa halus sela-sela helaian rambut. Burung yang berlarian sambil bernyanyi kesana-kemari, seakan-akan memperlihatkan kebahagiaan yang tak berujung, tak kenal hari yang terlihat telah menurunkan sedikit cahayanya.
Gulungan ombak yang cukup tinggi sore ini tak menggetarkan anak-anak manusia yang berenang di tepi nya, atau sekedar mencelupkan kaki nya saja, agar tersentuh oleh buih laut yang menepi terbawa ombak.
Setelah jauh berjalan untuk menjauhi keramaian demi mendapatkan tempat yang lebih sepi aku duduk di atas pasir yag beralaskan sandal yang ku pakai. Mulai membuka setiap halaman buku yang ku genggam sedari tadi.
Membaca di tepi laut, sekaan menyiratkan ketenangan dan menyurutkan kegelisahan dalam diri. dengan alunan symphony gelombang yang mendebur tepian, kerisik halus yang membungkus setengah telapak kaki, nyiur burung yang berhambur nyaring di gendang telinga, serta riuh angin yang seolah bergelut menerpa tubuh, sesekali mampu membuatnya limbung.
Halaman demi halaman kandas kubaca kalimat demi kalimat mampu ku pahami membuatmu masuk kedalam cerita, membaca buku itu sangat berkesan. Ketika kamu sudah membacanya kamu tidak lagi melihat bahwa itu sebuah buku, tidak hanya melihat itu sebuah kata yang beruntun hingga membentuk kalimat sampai membentuk sebuah cerita.
Ketika kamu sudah membacanya kamu tidak hanya melihat hanya sekedar itu. Kamu akan jauh melihat apa yang tidak orang lain lihat, mendengar apa yang tidak orang lain dengar, dan merasa apa yang orang lain tidak rasakan.
Rasanya seperti kamu yang mempunyai ceritanya, rasanya kamu yang mengalaminya dan itu tidak akan dimengerti oleh orang yang tidak gemar membaca. Rasanya jika ditanya apa satu-satunya hal yang harus kamu lakukan sekali seumur hidupmu selain berkelana sendirian di kota orang adalah membaca di tepi pantai.
Kini langit sudah semakin menggelap, menidurkan matahari dan membangunkan rembulan. terlihat dari sebelah timur dari tempat aku termenung rembulan sedikit demi sedikit menampakkan dirinya yang indah, mulai menunjukan jelitanya pada seluruh kegelapan.
Seolah-olah menyampaikan bahwa nyatanya dalam kegelapan sekalipun setiap orang masih tetap bisa bersinar, setidaknya untuk dirinya sendiri.
Label: alam, literasi, menulis, travelling