Minggu, 25 Agustus 2024

Sampailah pada Waktu yang Tak Perlu Berdalih

Tak perlu diksi, tak perlu bahasa asing, tak perlu berbelit lidah dan kata. Singkat saja, aku mencintaimu. 

Urusan mengerti apa aku tentang arti cinta adalah belakangan, yang ku tau pasti kalimat itu adalah yang satu-satunya terlintas dalam pikiranku dan selama ini terus ku padamkan kehadirannya. 

Padahal nyatanya Aku Mencintaimu adalah hal yang telak, tak bisa di ganggu gugat. Meski dengan beribu elakan sendiri mengenai "memang cinta itu apa?" Dan dalam diriku pun yang sebenarnya menjawab "kamu."

Label: , , , , ,

Jumat, 16 Agustus 2024

Sumpah, Tidak Bermaksud

Sebab dicintai ketika sedang proses pulih akan membuat kita seakan menjadi orang jahat.

Label: , , , , ,

Minggu, 11 Agustus 2024

Pameran Galeri Nasional Dolorosa Sinaga, I the Witness

 

Dolorosa Sinaga & Budi Santoso di kuratori oleh Alexander Supartono menggelar pameran bertajuk "Pameran Seni Rupa Patung dan Aktivisme" pada 20 Juli sampai 19 Agustus 2024  yang bertempat di Gedung A, Galeri Nasional. 

Tema pameran yang diambil Dolorosa dan Budi masih terus mengusung tentang isu hak asasi manusia, pembelaan serta solidaritas pada kaum perempuan. 

Pameran seni rupa "Patung dan Aktivisme: Dolorosa Sinaga & Budi Santoso" inj menampilkan lebih dari 53 karya. Salah satu karya yang menarik perhatian adalah I, the Witness.

———————

Dolorosa Sinaga


I, the Witness

109 x 78 x 230 cm 

iron plat 

2024


I, the Witness adalah penghormatan terus menerus dan perjuangan menuntut keadilan yang terus berlanjut untuk Ita Martadinata (1980-1998), salah seorang korban perkosaan massal kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Pada 8 Oktober 1998, Martadinata dibunuh dengan brutal di kamar tidurnya, hanya seminggu sebelum dia bersaksi di depan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat. Kasus pembunuhan ini belum terpecahkan sampai sekarang. Lewat tangan Dolo, Martadinata hadir dalam keabadiannya dalam sosok langsing yang berdiri tegak di depan meja kesaksian. Dia memakai kebaya encim keemasan, simbol kekekalan sekaligus mewakili identitas etnisnya. Tatapan matanya yang tajam dan mulutnya yang terbuka akan terus menyuarakan mereka yang tertindas.

Label: , , , , ,

Kamis, 01 Agustus 2024

Terima Kasih untuk Tidak Pernah Menyerah

Dia terlalu banyak memendam segalanya sendirian, membuatnya tidak stabil dalam mengungkapkan emosi. 

Seringkali meletup-letup jika dirinya melihat hal yang tidak sesuai dengan perasaannya.

Dia hanya terlalu lama memendam
Dia hanya tak pernah di dengar
Dia hanya terlalu cemas
Dia hanya tak pernah menemui tempatnya

Dan hanya dia yang mampu bertahan menghadapi semua saat segalanya tak pernah berpihak kepadanya

Dialah dirimu. Terima kasih untuk tidak melayangkan bendera putihmu. 

Label: , , , , ,

Senin, 22 Juli 2024

Duniaku yang Lain


Mereka tidak pernah tau, jika aku kerap kali menyusup dalam dunia antah berantah. Dimana tidak ada yang mengenaliku dan melihatku, tapi aku bisa melihat mereka semua. Bahkan terkadang aku merasa menjadi salah satunya.

Mereka tidak pernah tau jika aku memiliki banyak dunia  dengan beragam kisah yang tidak berkesinambungan. Disebuah tempat asing. Namun, anehnya terasa nyaman

Sama seperti dunia yang aku jalani ini, tapi bedanya di duniaku satunya, aku menjalani semua dengan ringan. Ya, pasti sang pembuat alur ceritanya pun sudah beda.

Label: , , , , ,

Kamis, 11 Juli 2024

Aku Di Suatu Saat Nanti

Pada suatu saat nanti
Aku hanya ingin menjadi bagian dari bintang-bintang kecil di langit.

Pada suatu saat nanti
Aku hanya ingin menjadi bagian dari buih ombak yang menggulung di lautan.

Dan pada suatu saat nanti 
Aku ingin menjadi satu nama abadi dalam sebuah karya yang bisa di nikmati.

Label: , , , , , , ,

Minggu, 07 Juli 2024

Review Novel "L" karya Kristy Nelwan



Judul Buku              : L

Karya                       : Kristy Nelwan
Penerbit                   : PT Grasindo
Editor                       : A. Ariobimo Nusantara
Tahun Terbit            : Agustus 2008
Tebal Halaman        : VIII + 344

"L" merupakan sebuah novel romansa sederhana dengan berbagai permasalahan orang dewasa di dalamnya, kerumitan dalam mempercayai cinta, kerumitan mengungkapkan rasa hingga berujung pada penyesalan.

Novel "L" merupakan sebuah cerita tentang sosok perempuan bernama Ava Torino yang mempunyai misi cukup unik dalam hidupnya, dirinya berambisi untuk bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang bisa melengkapi daftar alfabet dari A sampai Z.

Semua sudah ia dapatkan bahkan dari alfabet tersulit yaitu X, dia sudah berhasil memacarinya sekaligus menjadikannya mantan. Satu huruf yang cukup lama ia tunggu dan tak juga kunjung dipertemukan adalah, laki-laki yang memiliki nama dengan alfabet L.

Hingga suatu hari ia mencoba kemustahilan yang bahkan dirinya tidak percaya, atas permintaan teman-teman satu kerjaannya. Hal itu adalah memegang tangan Buddha sambil melakukan make a wish yang dipercaya, jika kamu berhasil memegang tangan Buddha, maka keinginanmu akan terkabul. Seluruh rekan kerja Ava tidak ada yang berhasil saat melakukan itu.

Namun, lain halnya dengan Ava yang mengatakan jika hal tersebut tidak sulit untuk dilakukan, buktinya ia bisa dengan mudah memegang tangan Buddha, lalu Ava segera diminta untuk berdoa dan meminta satu keinginan. Ava mengikutinya dan meminta dalam hati untuk dipertemukan dengan L, "the Last" "the Love "the Last Love".

Akhirnya ia dipertemukan dengan seseorang yang mempunyai alfabet L, bernama Ludi yang bertemu dalam waktu yang terbilang berdekatan setelah dirinya melakukan kegiatan kemustahilan tersebut.

Namun, sebelum itu dirinya sempat bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat menarik, bernama Rei, Ava berharap pada saat itu laki-laki itu memiliki nama depan dengan alfabet L saja. Namun, tidak mungkin...

Berjalannya waktu, Ava dan Ludi menjalin hubungan. Ludi adalah seorang laki-laki yang sikap dan tindakannya diinginkan dan diimpikan oleh seluruh perempuan, termasuk Ava. 

Lambat laun, banyak yang berubah dalam kehidupan Ava setelah memegang tangan Buddha dan setelah pulang dari Jogja, yang bertemu Rei.

Pertemuannya dengan Rei tidak hanya sampai disitu, dirinya juga bertemu kembali dengan Rei di Bali, disinilah Ava memiliki waktu lebih banyak untuk dapat mengenal Rei. Rei sangat menghibur dirinya saat di Bali, ditengah pekerjaannya yang mendesak, urusan teman, sampai keterlambatan pesawat yang membuatnya ribut dengan pacarnya, Ludi.

Tak lama dari kepulangan dari Bali, Ava memilih keluar dari tempat kerjanya dan dirinya mendapat tawaran pada salah satu perusahan Creative, yang dimana ternyata menjadi satu tempat kerja dengan Rei.

Sejak di Bali Rei sudah selalu melarang keras keseharian Ava yang buruk yaitu, rokok dan alkohol. Padahal untuk pertama kali bertemu Rei, Ava mengenal nya sebagai laki-laki perokok aktif yang di kerjai teman-temannya karena hangover, hingga ia bisa sampai di Jogja.

Sampai saat Ava menjadi teman satu kerjanya Rei. Laki-laki itu tetap selalu melarang keras Ava dalam soal Rokok, Rei akan selalu menyembunyikan korek dan menghancurkan batang rokok yang dimiliki Ava.

Lain halnya dengan Ludi yang terkesan tidak masalah dengan hal itu, terkadang ink juga yang menjadi pertanyaan Ava. Namun semuanya ditepis dengan dalih Ludi adalah laki-laki baik yang bisa menerima Ava apa adanya, sampai Ava memutuskan menerima lamaran Ludi.

Ava pernah bertanya sekaligus bersyukur atas kehidupannya yang baik-baik saja. Namun, segalanya terjawab pada waktunya.

Dimana saat Ava sudah merubah kehidupannya,  sikap dan segala tindakan nya serta menghentikan pencarian nama alfabet untuk terakhir kalinya dan mencoba untuk merasakan cinta yang sebenarnya bersama Ludi. 

Ava bukan lagi perempuan yang selalu menganggap ringan suatu hubungan yang hanya dihadiri dengan "jadian dan putus". Dirinya mencoba untuk menjadi serius dalam hubungan dan percaya pada pasangan.

Namun, saat itu tiba, Ava tidak menyadari jika karma tidak mengenal batas waktu. Rahasia besar terbuka di penghujung kehidupan Ava menuju hari H tunangannya dengan Ludi dan penghujung kebersamaannya dengan Rei, segalanya menjadi sebuah kelegaan sekaligus penyesalan terdalam selama hidupnya bagi Ava Torino.


....


Ketika kamu disakiti 20% jangan pernah membalasnya 1% pun dengan tindakan apapun apalagi sampai 100%, karna 20% itu akan berbalik ke kamu. Mungkin kecil angkanya, tapi besar rasanya di kamu itu, infinity. Karma itu pasti ada dan itu akan terus berulang-ulang jika kamu terus membalas karma yang seharusnya bukan tugas kamu untuk membalasnya.

Sakit hatinya manusia pada setiap tindakan dan perkataan yang kita lontarkan itu yang paling bahaya adalah ketika dia tidak mengatakannya.

Lebih mengecewakannya lagi, seringnya karma datang disaat kita sudah mulai menyesalinya dan berharap mengubah perilaku dan tindakan akan terhindar dari karma. Namun, karma itu sendiri tau jika dia tidak datang, perubahanmu tidak bisa terjadi begitu saja.



Label: , , , ,

Rabu, 26 Juni 2024

Perjalanan yang Nyatanya Tidak Pernah Dilakukan


Akhirnya segalanya terlihat, kegelapan yang melanda dari awan hitam yang mengelung secara betah dalam satu titik, kini telah pergi. Tenang, adalah rasa yang dapat menyentuh saat ini. Mungkin, inilah hasil perjalanan panjang dari hal yang ku sebut pelarian sementara.


Karena ternyata aku pikir, kita butuh berlari dibanding terus menghadapi, berlari untuk dapat melihat lebih banyak hal yang bisa kita dapat sebagai bahan untuk menghadapi masalah itu. Bukan begitu? 


Tidak selamanya pelarian membuat konotasi buruk akan lemahnya diri yang tak mampu untuk menghadapi situasi yang terjadi.


Bahkan jika kita tidak dulu berlari, kita tidak akan pernah mengetahui cara menghadapi situasi itu dan pada akhirnya hanya sebisa yang kita lakukan untuk menghilangkan masalah itu. Penglihatannya terlalu sempit untuk tetap disitu dan berharap segalanya selesai.


Namun, pada akhirnya aku selesai, aku melihat sinar. Aku merasa tenang. Aku kembali berjalan. itu yang kurasakan.


Hingga... terhantam pada satu hal yang membuatku harus terbangun dari mimpi. Aku kebingungan untuk mencari matahari yang baru saja ku lihat tadi, terang dan tenang yang ku rasakan. Hingga semua mulai tersadar jika, segalanya memang hanya mimpi.


Sudah terlalu lama, sampai pada akhirnya memutuskan untuk berjalan. Bahkan sudah sejauh ini perjalanannya, sampai-sampai setiap jawaban yang ada, aku pikir itulah jawabannya. Namun pada akhirnya ku disadarkan, jika nyatanya kau tidak pernah menemukan jawaban yang sebenarnya.


Dan... Nyatanya pun perjalanan yang kulakukan selama dan sejauh itu pun tidak pernah aku lakukan.


Label: , , , , ,

Jumat, 24 Mei 2024

Gaungan Emosi, Malam, dan Rekan-rekan Binatangnya


Malam tak ubahnya campuran perasaan manusia yang membuntang meruah-ruah, terbawa angin malam yang bebas. Segala yang terpendam mampu dikeluarkan oleh malam, tanpa paksa dan tanpa diminta. 

Keluar begitu saja bagai binatang yang telah terkurung dan tersekap tanpa mampu menghirup udara. Segala gundah, lara, duka, sesak dan pilu yang tak tersentuh oleh mentari seakan tahu waktunya untuk unjuk gigi memperlihatkan siapa dirimu sebenarnya.

Tawa dan canda, senyum sumringah, lelucon yang terus kau giring selama seharian penuh merupakan sebuah topeng untuk menutupi betapa hancurnya dirimu sebenarnya. Air mata yang terbekap selama 24 jam tak lagi menemui tempatnya untuk bertahan lebih lama.

Sayup-sayup tangisan itu menyanyikan suaranya dalam keheningan dan hanya ditemani suara jangkrik yang bersenandung, atau bahkan terkadang saking pilunya tangismu, binatang malam pun ikut terdiam mendengarnya, seakan dapat merasakan dan mengerti jika senandungnya tak akan mampu menghibur mu, tak akan cukup membuatmu mengerti bahwa kamu tidak sendiri.

Egomu hilang ditelan malam yang sunyi dan topengmu hancur lebur terbentur pekatnya gelap malam. Malam seakan tahu dan dapat menyikapi perasaan yang kau lontarkan diantara gelap menyelimuti, dimana ia akan membawa rekannya, beberapa binatang malam untuk menghiburmu jika memang itu kau butuhkan. 

Namun, jika itu adalah hal yang sia-sia, malam takkan mempersilahkan rekannya untuk bersenandung menghiburmu. Bukannya tak ingin, hanya saja ia tahu bagaimana cara menyikapinya, dan tentu saja hiburan yang mampu diberikannya adalah tanpa dirimu bersuara bahkan mengatakan apapun.

Karena, ia adalah malam yang sunyi tanpa suara, tapi ia mampu memahami.

Label: , , ,

Senin, 06 Mei 2024

Dia Tersenyum Namun Hatinya Kosong

 

Hidup dengan pertimbangan orang lain itu sangat menakutkan, rasanya jika ada pencapaian yang lebih dulu tercapai dari kita, selalu sesak yang berlumur dalam dada. Bukan tidak senang melihat orang mencapai apa yang mereka inginkan. Namun, bersamaan dengan hal itu, ada banyak pertanyaan "itu dia bisa" "kok kamu belum ya" "coba ikuti dia, samai sepertinya." 

Mereka berpikir jika semua bekerja menggunakan mata atau telinga. Maka semua bisa bekerja seperti itu. Mereka tidak melihat teman-teman kita yang mempunyai kekurangan dalam hal pendengaran atau penglihatan, mana mungkin mereka bisa bekerja menggunakan mata atau telinganya. 

Namun, bukan berarti mereka tidak mampu untuk bekerja, karena hanya bagian tertentu yang mereka tidak punya, mereka masih mempunyai bagian lain yang utuh yang bisa mereka gunakan. hanya saja tinggal siapa yang mampu menghargai usaha mereka. 

Sulit jika harus terus mempertimbangkan keberhasilan orang lain dengan diri kita, standar yang dibangun di lingkungan masyarakat terkesan menyesakkan, seperti hidup dalam penjara, semua harus melakukan hal yang sama meski kejahatan yang mereka lakukan berbeda. 

Ingin rasanya menghindari kehidupan seperti itu. Namun, tidak bisa selamanya, hanya dapat sesekali menutup telinga yang sebenarnya hanya bersifat sia-sia, kecuali kamu memang tidak memiliki pendengaran yang baik. 

Terkadang aku merasa hidup dengan keterbatasan pendengaran (tuna rungu) mungkin lebih baik, mereka tidak perlu bersusah payah menutup telinganya untuk mendengar cacian seseorang atau pertengkaran seseorang yang berkaitan dengannya.

Namun, bagaimanapun mereka tetap dapat melihat, melihat bagaimana mereka diluar sana memandang dirinya, memandangnya sebagai tuna rungu, karena mata tak butuh telinga untuk mengetahui isi pikiran seseorang. 

Sebaliknya, menjadi tunanetra pun sama, mereka mungkin tidak melihat bagaimana pandangan orang sekitar terhadapnya. Namun, melihat tidak hanya dari mata bukan? hati mereka bisa merasakan dan terutama telinga mereka dapat mendengar lebih jelas daripada kebanyakan orang normal (orang yang sempurna segalanya).

Lalu aku harus menjadi seperti apa, jika menjadi diri sendiri pun diri ini juga terus mencaci. Beberapa kali mendapat cacian, alih-alih menenangi diri sendiri seolah segalanya tidak apa, tapi, sebenarnya dalam diri ini jauh lebih membunuh diri sendiri atas kesalahan atau ketidakmamapuan atas suatu hal.

Menahan air mata yang tadinya hanya dilakukan di depan umum, kini dalam sunyi pun tidak mampu mengeluarkannya, karena terbiasa menahan dan selalu berkata, tidak apa, tidak boleh menangis, dan lupakan saja. Hingga aku sampai di titik bertanya-tanya, kemana perginya air mata itu?

Hidup terasa kosong karena tidak mampu meluapkan emosi yang ada didalam tubuh. Apa yang dijalani saat ini tak ubahnya seperti mayat hidup, tanpa perasaan, tanpa emosi dan yang ada hanya senyuman namun hatinya kosong, segalanya kosong.

Tapi yang terpenting diri ini masih bisa mengeluarkan senyum bukan? Meski hal itu hanya untuk memvalidasi kepada orang-orang bahwa aku baik-baik saja.

Label: , , ,

Senin, 25 Maret 2024

Saat Jeritan Terbungkam, Pena Selalu Menjadi Saksi



Seringkali diri merasa ingin menyerah. Namun, apa boleh? Bahkan hanya sekedar ingin mengeluh saja diri ini merasa tidak pantas, disaat masih banyak diluar sana yang pundaknya lebih berat, tapi tidak pernah mengeluarkan suara, beribu benda tajam menghunus tubuhnya pun, jeritan tak pernah terdengar keluar dari mulutnya.

Lalu, jika diri ini hanya tertusuk sebuah duri tajam. Apakah pantas untuk menjerit demi menerjemahkan sakitnya?

Banyak hal yang membuat segalanya tertahan, hanya karena diri ini tidak cukup mampu atau bahkan tidak cukup sakit untuk menceritakan pedihnya.

Perkataan, apa perlu? apa pantas? apa tahu diri? terkadang selalu terngiang di telinga tanpa henti, yang mengartikan bahwa diri ini tidak pernah baik-baik saja setiap harinya.

Semua hanya topeng yang harus dipakai demi terlihat tak apa, demi terlihat tidak lemah di mata orang yang dipaksa untuk kuat pula.

Tak pernah sekalipun goresan-goresan itu menghilang atau bahkan sembuh, hanya saja bedak atau foundation yang menutupinya dengan berhasil.

Tak pernah ada ruang dan wadah untuk sekedar mengatakan diri  ini payah.

Sekalipun harus merasakan hal itu, hari tetap saja terus berganti, detik tetap berjalan tanpa henti, mereka tidak mengenal kamu kenapa, kamu siapa, dan bagaimana keadaanmu.

Waktu juga berjalan sesuai yang telah dikehendaki. Barangkali ia juga terkadang merasa lelah untuk terus berjalan.

Namun, apa boleh buat? mereka sudah ditugaskan untuk terus memutar demi mengejar manusia lambat yang harus berlomba mencapai titik yang dituju, tanpa ingin tahu sebanyak apa luka mu dalam perjalanan, seberapa banyak kamu mengalami mati suri di setiap langkah yang kamu pijak.

Bagaimanapun memang semua harus berjalan seadanya. Jika mereka tak mampu untuk mendengar ceritamu ya tak apa, jika mereka tak mampu mengerti keadaanmu yasudah dan  jika memang tak ada wadah untuk sekedar bersuara biarlah.

Jika segala yang kamu ingin dapatkan dari seseorang tak pernah ada, menulis lah. 

Karena hanya dengan menulis suaramu dapat dengan lantang menceritakan segalanya, tanpa perlu terdengar suara orang yang malah mengadu nasib, tanpa perlu mendengar orang yang seakan-akan menghakimi baik buruknya kisahmu.

Hanya dengan menulis suaramu akan dimengerti, ruang kosong dalam dirimu dapat terisi dengan berbagai warna, di setiap diksi yang kau ciptakan dan gurat-gurat warna dalam sebuah kata-kata yang menjadikannya kalimat yang mempunyai warnanya sendiri.

Jika tidak sekarang, mungkin suatu saat nanti, melalui tulisanmu orang dapat memahami. Jika pun hari itu tidak pernah datang, yasudah, terpenting adalah kamu dapat mengerti dirimu sendiri dan kamu selalu menjadi wadah untuk dirimu sendiri, dan Setidaknya, kamu masih membersamai dirimu.

Label: , ,

Selasa, 05 Maret 2024

Sajak Malam Liar Pinggir Danau

malam adalah saksi bisu

dari dinginnya asa yang kandas diterjang rasa

terjaga dalam detik demi detik yang kian berkedip


sabit di tengah kerumunan awan mendung

setengah enggan memancarkan cerahnya

hanya kerlip lampu malam memantul 

dalam air danau yang merubah dari pandangan


sunyi di luar terasa menyeruak

namun dalam pikiran bising tak lagi mampu terjamah

sepenuh hati diri ini meminta diam

agar tak membangunkan jiwa-jiwa yang terlelap


tidak ada yang mampu mendengar lelahnya tubuh terseret gelombang

bagai imajinasi yang tak mampu diterjemahkan 

rintihan letih menggaungkan sebuah realita

Label: , , ,

Senin, 26 Februari 2024

Jika Tidak Cukup Mengerti, Cukup Dengar dan Hargai Saja

Semua memiliki warnanya masing-masing, tidak seluruh akan putih atau akan hitam. Hidup mereka adalah milik mereka begitupun sebaliknya, hidupmu hanya milik mu. Namun, terkadang tidak ada salahnya mereka berbagi tentang kehidupannya, tentang bahagia nya atau bahkan tenang lukanya, tentang jerit tangisnya, frustasinya atau gelak tawa kebahagiaannya.

Seringkali didapat perbedaan cara pandang antara seseorang yang bercerita dengan pendengarnya. Hal itu wajar, karena setiap kamu memiliki mata masing-masing. Jika apa yang mereka utarakan tidak mampu kamu terima, tidak ada salahnya tetap mendengar bukan?

Mungkin saja kepalanya terlalu berisik sehingga pikirannya kacau untuk sekedar menyampaikan apa yang dimaksud, tidak perlu pula kamu membandingkan kebisingan pada setiap manusia. Karena dalam hidupnya  mereka lah yang menjalani, bukan kamu atau yang lainnya.

Kamu bahkan tidak tahu betapa besar usahanya selama ini untuk menutupi kelemahannya dan menyingkirkan ketidakpercayaannya pada setiap orang untuk hanya sekedar bercerita.

Setiap orang memiliki ceritanya masing-masing dan dalam ceritanya mereka adalah pemeran utamanya, jika mereka merasa tidak nyaman dengan yang mereka jalani, tidak perlu dibandingkan. Karena hanya mereka yang memahami.

Cukup dengarkan dan hargai saja perbedaannya, karena di beberapa kesempatan mungkin kamu tidak menyadari, bahwa telinga dan diam bisa menjadi hal yang paling besar harganya dibanding organ tubuh dan tindakan yang lain.

Label: ,

Senin, 19 Februari 2024

Jika Bukan Kamu Lalu Siapa Lagi?

  

Hidup adalah sebuah perjalanan, entah bagaimana akhirnya yang harus dinikmati adalah prosesnya. Jatuh bangun dalam segala hal adalah sesuatu yang biasa dan terpenting adalah bagaimana kamu bisa membangun pondasi terkuatmu, pondasi yang di bangun untuk dirimu sendiri kelak, karena di depan sana kita tidak tau apa yang akan terjadi, entah menemui danau dan harus berenang menyebranginya, entah pula menemukan pohon tumbang yang harus kita singkirkan untuk kita bisa melewatinya atau bahkan bukit tinggi yang harus kita daki berapapun ketinggiannya.

Lalu mungkin saja di dalam bukit itu terdapat banyak jurang, entah berapa kali kita harus terpelosok kedalam jurang itu, sampai akhirnya dapat menemui tujuan dan mendapatkan apa yang di cari.

Jika dalam perjalanan dan proses itu kamu tidak mempunyai pondasi yang kuat, kamu akan gagal dan hidupmu terhenti disana, padahal seharusnya tidak. Kaki mu masih baik-baik saja, hanya lecet tertusuk ranting pohon dan kamu masih bisa berjalan untuk dapat menemukan obat dan menyembuhkan lukamu. Namun, kamu kalah dengan dirimu sendiri yang sudah lebih dulu mengatakan "tidak bisa."

Maka dari itu jadilah yang terkuat versi dirimu sendiri, bangunlah pondasi itu sekuat yang kamu bisa. Jikalau nanti kamu terjatuh, kamu tidak ragu untuk bangun lagi, karena jika bukan kamu orangnya lalu siapa lagi yang bisa menolong dirimu sendiri pada hal terburuk yang menimpa mu nanti.

Pada akhirnya pula, suatu saat nanti kamu hanya akan menemukan dirimu sendiri. Hanya sendiri.

Label: , ,

Kamis, 15 Februari 2024

Review Buku "Besali" karya Shabrina Ws.

Untuk Seseorang yang datang, yang singgah dan yang pergi, ada yang bertahan menjadi peneduh bagi segala musimmu

Kehilangan untuk yang kedua kali pada orang yang sangat berarti dalam hidup adalah sebuah pukulan telak yang tak mampu terelakan. Lohita Sasi seorang gadis yang telah kehilangan ibunya dan bertahan hidup bersama ayahnya yang selalu menyayanginya serta meneguhkannya atas kehilangan yang telah merenggut perempuan yang mereka cintai yaitu Ibu Lohita. Namun, semua kehilangan rasanya sangat lengkap setelah Lohita juga harus kehilangan Ayah nya di saat dirinya masih sangat membutuhkan sosok orang tua yang menyayanginya.

Sebelum kepergiannya Ayah Lohita meninggalkan secarik kertas yang berisi pesan untuk dapat mempertahankan Besali (Bengkel pandai besi) yang telah menghidupi keluarganya selama ini dan salah satu yang dapat menghidupi kembali Besali tersebut adalah seorang laki-laki bernama Sapta yang telah bekerja dengan Ayah Lohita sejak ia menduduki bangku SMK, seorang laki-laki yang sangat dipercayai Ayah Lohita dan mampu memangku tanggung jawabnya untuk mengurus Besali.

Lohita sendiri bukanlah anak tunggal, ia merupakan anak bungsu dari keempat kakak laki-lakinya yang lebih memilih merantau untuk bekerja ke kota, karena mereka tidak ingin berurusan langsung dengan Besali. Jarak yang cukup jauh antara umur Lohita dengan kakak-kakaknya membuat Lohita tidak dekat dengan mereka berempat, di tambah pula kehadiran mereka yang hanya beberapa kali dalam sebulan untuk pulang mengunjungi keluarga.

Tanggung jawab menghidupkan Besali juga bukan hal yang mudah bagi Lohita. Dimana hal itu berarti dirinya harus menemui dan berbicara langsung dengan Sapta teman masa kecilnya yang kini hubungan mereka sudah sangat menegang. Tidak ada lagi percakapan dan canda tawa yang sering mereka lakukan dulu. Dan Lohita sendiri lah yang membangun tembok pemisah itu, sedangkan Sapta masih sama seperti yang perempuan itu kenal sejak dulu. Sapta adalah laki-laki yang banyak bicara, cuek namun sangat perhatian. Ada hal yang membuat Lohita harus menjaga jarak dari Teman masa kecilnya itu.

Selama memikirkan bagaimana cara menghidupkan Besali selain harus berbicara dengan Sapta, akhirnya Lohita dibantu oleh laki-laki bernama Rey, seorang penulis yang kerap kali mampir ke toko buku mandiri milik Lohita. Rey adalah seorang perantau yang bekerja sebagai penyiar radio dan diselingi oleh kegiatan menulis. Rey mempunyai ide untuk memasang iklan lowongan pekerjaan di Besali milik Ayah Lohita, meski Rey pun awalnya memberi masukan untuk dapat memanggil kembali pekerja terdahulu yang pernah bekerja bersama Ayah Lohita daripada harus mengangkat orang baru. Namun, Lohita masih tetap ragu untuk memikirkan hal itu.

Pada akhirnya di seratus hari kepergian Ayahnya Lohita sudah harus membuat keputusan. Berulang kali para pelanggan yang memesan Besi di tempat Ayahnya menanyakan akan dibukanya Toko pandai besi itu dan terpaksa Lohita harus menjawab dengan nada kebingungan.

Kisah Lohita dan keluarga nya adalah cerita yang sangat menyentuh, rumah yang biasanya ramai dengan suara Ayah dan Ibunya kini hanya tinggal sunyi tanpa bising. Bukan hal yang mudah bagi Lohita harus hidup tanpa kedua orang tuanya serta jauh dari keempat saudara kandungnya yang merantau di kota.

Kisah Lohita, Sapta dan Rey juga merupakan sebuah romansa yang dikemas secara sederhana dan tidak muluk-muluk. Namun, tetap dengan gaya percintaan masa remaja yang ada di tahun yang lebih baru ini

 Konflik yang dibuat penulis sangat jelas dan tertata dengan rapi, serta rasa yang disampaikan penulis melalui kalimat nya sangat berhasil dalam membuat pembaca merasakan seperti ada di suasana dan menjadi tokoh dalam tulisannya.

Label: , , , ,

Hantu-Hantu dalam Pikiran

Terkadang ketakutan yang kerap kali muncul disaat tidak pasti adalah kita sendiri yang mengundangnya, kita lah yang memberi masuk bahkan membuat ketakutan itu mengguratkan dengan bebas penanya dalam pikiran kita. Sehingga seringkali kita malah menduga-duga hal yang belum pasti akan terjadi.

Tidak salah untuk bersikap waspada. Namun, jika sikap waspada itu malah membatasi diri kita mungkin itu yang perlu dikoreksi. Sikap ketakutan atau overthiking yang berlebihan sangat tidak dianjurkan untuk terus ditumbuhi dan disirami setiap waktu. Karena hal tersebut sudah dipastikan sangat merugikan.

Ruang gerak yang kita lakukan jadi terbatas, sebab rasa takut yang sudah lebih mendahului daripada kaki yang melangkah. Seharusnya kedua hal tersebut bisa berjalan beriringan, rasa takut dapat digantikan dengan sikap waspada yang tidak berlebih dan kaki harus tetap berjalan. 

Jika ketakutan dalam diri terus dibiarkan, kamu tidak akan menumbuhkan nilai dirimu sendiri, melainkan malah akan menciptakan seorang pecundang dalam dirimu, tentu setiap orang tidak ingin dirinya disebut pecundang. 

Maka dari itu segeralah hempaskan hantu-hantu yang berterbangan dalam akal pikiran, ubah ketakutan mu menjadi sebuah sikap waspada yang bisa kamu gunakan untuk tetap berhati-hati dalam setiap langkah yang kamu pijak.

Label: ,

Rabu, 07 Februari 2024

Perempuan dan Takdir yang Memakunya

Seringkali perempuan tidak memiliki suara untuk memilih setiap warna yang ia suka, kata yang ingin diucapkan dan langkah aman yang ia pilih. Hal ini terjadi sebab kesetaraan yang telah mendarah daging dalam tubuh manusia, orang-orang selalu menganggap jika perempuan yang lahir hanya dapat mengikuti takdir yang telah disampaikan oleh para pendahulunya.

Perempuan hanya bisa terbang mengikuti angin yang menghembus tak tentu arah, tidak ada satupun bangunan yang mampu melindunginya dari badai yang sewaktu-waktu dapat menerpanya.

Jika perempuan tidak mengikuti aturan hidupnya sebagai “perempuan” maka sudah dipastikan ia akan dicemooh dan di caci maki, bagai barang yang tidak berharga dan tak mempunyai nilai.

Perempuan dituntut harus sempurna sedangkan laki-laki tidak apa tidak sempurna “karena mereka laki-laki.” Ketika perempuan berselingkuh maka habislah ia dipermalukan dan kata-kata "jalang” "cabo" "tidak ada harga diri" sudah pasti akan melekat dan terpaku dalam dirinya.

Namun, ketika laki-laki yang berselingkuh orang tidak memperdulikannya atau mengatakan “mungkin istrinya yang tidak bisa bersolek, tidak bisa melayani suaminya sampai-sampai suaminya harus jajan di luar.” dan sebagian hanya berkata "ya namanya juga laki-laki" mirisnya, sering ditemukan kata-kata seperti itu terlontar dari mulut yang juga seorang perempuan. Betapa nikmatnya menjadi laki-laki yang terus berlindung dalam kalimat se receh "Namanya juga laki-laki."

Dalam beberapa adat yang masih ditegakkan oleh suku pedalaman yaitu menuntut agar perempuan harus bisa melakukan segalanya. Seperti, mengurus kelima anaknya, memasak pagi-pagi  buta untuk suami dan anak-anaknya, setelahnya harus pergi ke ladang mencari nafkah, di tengah terik siang kegiatan mencuci baju dan segala perabotan di kali juga harus dilakukan, dan sorenya harus memberi makan hewan ternak di rumahnya. 

Belum selesai sampai disitu, malamnya ia harus menyediakan makanan dan kopi yang disajikan untuk teman-teman suaminya yang berkumpul di pekarangan rumah, belum sempat beristirahat ia juga harus memuaskan nafsu dari suaminya hingga pagi menyongsong kembali dan kegiatan itu terus menerus dilakukan selama hidupnya. Jika tidak dapat melakukan semaunya tamparan pukulan, tendangan akan dengan pasti mendera tubuhnya.

Mengapa hal itu harus terjadi? mengapa perempuan yang harus melakukan segalanya? kenapa bukan laki-laki? jawabannya karena dalam hal ini laki-laki merasa bahwa dirinya sudah membeli seorang perempuan dengan mahar yang sangat fantastis sehingga ia sudah mendapat harga dirinya dengan begitu perempuan lah yang dituntut untuk tahu diri ketika sudah diberi mahar yang besar maka perempuan itu harus berguna di rumahnya.

Betapa tangguh seorang perempuan dalam hidupnya, dan betapa pengecutnya laki-laki dalam hidupnya. Ia harus menginjak-injak perempuan terlebih dahulu supaya terlihat, agar mereka tidak terhalang, agar mereka terlihat hebat dan berharga. 

Ketakutan jika ia tidak menginjak perempuan, maka perempuan akan berdiri secara lantang dan akan menghalangi tubuh laki-laki yang haus akan kehormatan dan harga diri.

Label: ,

Rabu, 11 Oktober 2023

Setelah Jenggala Terlewati

Tidak selalu putih, kadang kali hitam juga tidak terlalu buruk, warnanya mampu meredupkan cahaya yang menyilaukan hingga mampu merusak kornea mata. Meski terkadang hitam terkesan sepi dan terlalu senyap. Namun, mungkin itu lebih baik dari pada bising yang kian menghunus gendang telinga, sampai tak mampu mendengar suara sendiri.
Berjalan dalam gelap dengan tidak siapapun tahu dimana dan kapan mungkin adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri, agar dapat kembali memenuhi energi.
Matahari terkesan sirat menyampaikan pesan melalui celah-celah ranting, tidak seperti sinar matahari yang umumnya di lapang terbuka mampu menyilaukan setiap sudut, menyinari gorong-gorong yang gelap sehingga terlihat tidak terlalu menakutkan, dari sini pun semburat matahari terlihat begitu indah dengan menembus celah pepohonan yang lebat.
Semburat yang menembus di celah tersebut makin dalam menyiratkan sesuatu, bahwa untuk menjadi terang tak harus ditempat yang terang agar terlihat, malah terkadang menjadi terang ditempat yang terang akan menjadikanmu tidak tampak.
Lain hal ketika kamu menjadi terang didalam kegelapan, menjadi sinar yang mengisi kekosongan hitam. Disanalah kamu mampu terlihat begitu berarti, jauh lebih berarti dari tempat yang kamu rasa mampu membuatmu tampak.
Toh terkadang jika menjadi terang tak bisa memilih harus menerangi siapa, dimana dan kapan. Kamu menjadi sinar yang harus siap menjadi binar disetiap sudut bumi, bahkan di tempat yang kelam dan gelap seklipun kamu harus tetap mampu mengisi kekosongan ruang itu.
Dan sampai disini aku baru sadar, jika filosofi antara gelap dan terang tidak mungkin bisa aku dapatkan jika dalam pikiran yang penuh.
Pikiran harus seraya dibersihkan tanpa perlu menunggunya penuh, agar kesegaran atas pemikiran baru dapat terus terbendung, karena bagaimanapun sejatinya pikiran mempunyai batas maksimal, jika hal tersebut tak lagi berguna ada disana, lebih baik dibuang saja, mungkin karena memang seharusnya ia tidak disana.
Jika memang seharusnya ia ada disana seharusnya ia tak perlu harus dipaksa menghilang, ia seharusnya dapat menghilang sendiri jika memang pemikiran itu sudah selesai dituntaskan.

Label: ,

Senin, 03 Juli 2023

Meraup Tenang di Kaki Laut Bergelombang

Langit muram yang ditampilkan pada warga bumi sore ini cukup menenangkan, tidak begitu muram, namun senyum merekah nya hanya terlihat lebih sedikit daripada murungnya. Berjalan di hamparan pasir lembut tanpa alas seakan terapi kaki yang cepat menyembuhkan dari beratnya langkah untuk setiap tujuan.

Angin kencang yang membelai kulit, menembus tiap dinding pori-pori tubuh, menerpa halus sela-sela helaian rambut. Burung yang berlarian sambil bernyanyi kesana-kemari, seakan-akan memperlihatkan kebahagiaan yang tak berujung, tak kenal hari yang terlihat telah menurunkan sedikit cahayanya.

Gulungan ombak yang cukup tinggi sore ini tak menggetarkan anak-anak manusia yang berenang di tepi nya, atau sekedar mencelupkan kaki nya saja, agar tersentuh oleh buih laut yang menepi terbawa ombak. 

Setelah jauh berjalan untuk menjauhi keramaian demi mendapatkan tempat yang lebih sepi aku duduk di atas pasir yag beralaskan sandal yang ku pakai. Mulai membuka setiap halaman buku yang ku genggam sedari tadi.

Membaca di tepi laut, sekaan menyiratkan ketenangan dan menyurutkan kegelisahan dalam diri. dengan alunan symphony gelombang yang mendebur tepian, kerisik halus yang membungkus setengah telapak kaki, nyiur burung yang berhambur nyaring di gendang telinga, serta riuh angin yang seolah bergelut menerpa tubuh, sesekali mampu membuatnya limbung. 

Halaman demi halaman kandas kubaca kalimat demi kalimat mampu ku pahami membuatmu masuk kedalam cerita, membaca buku itu sangat berkesan. Ketika kamu sudah membacanya kamu tidak lagi melihat bahwa itu sebuah buku, tidak hanya melihat itu sebuah kata yang beruntun hingga membentuk kalimat sampai membentuk sebuah cerita.

Ketika kamu sudah membacanya kamu tidak hanya melihat hanya sekedar itu. Kamu akan jauh melihat apa yang tidak orang lain lihat, mendengar apa yang tidak orang lain dengar, dan merasa apa yang orang lain tidak rasakan.

Rasanya seperti kamu yang mempunyai ceritanya, rasanya kamu yang mengalaminya dan itu tidak akan dimengerti oleh orang yang tidak gemar membaca. Rasanya jika ditanya apa satu-satunya hal yang harus kamu lakukan sekali seumur hidupmu selain berkelana sendirian di kota orang adalah membaca di tepi pantai.

Kini langit sudah semakin menggelap, menidurkan matahari dan membangunkan rembulan. terlihat dari sebelah timur dari tempat aku termenung rembulan sedikit demi sedikit menampakkan dirinya yang indah, mulai menunjukan jelitanya pada seluruh kegelapan.

Seolah-olah menyampaikan bahwa nyatanya dalam kegelapan sekalipun setiap orang masih tetap bisa bersinar, setidaknya untuk dirinya sendiri.

Label: , , ,