Senin, 08 Desember 2025

Bagimana bisa dirinya memintaku berjanji, untuk tetap sebahagia sebelum aku mengenalnya, bisa membuka hatiku untuk orang baru dan tidak lagi membukanya untuk orang lama itu? wkwk

Kau pikir hatiku semurah barang cuci gudang yang bisa di dapatkan semua orang dengan mudah? Sedangkan dirinya tahu betul bagaiman rusaknya hati dan kepercaaan ku sebeumnya saat bersama orang lama sebelumnya. Dirinya tahu betul bagaiman aku tidak lagi memberi kesempatan orang baru untuk hadir karena aku rasa aku sudah tidak lagi memiliki hati yang diminta orang-orang termasuk dia.

Bahkan dirinya snediri yang meminta hati itu dnegan mengatakan jika "jangan biarkan hatimu dibawa lari oleh orang itu," ku pikir itu karena dia yang sangat menginginkan hatiku untuk bisa dimilikinya?

Berapakali dia meminta diriku untuknya? Mungkin dia lupa, tapi aku ingat. 

Katanya cintanya juga besar, sayangnya juga sama dan sama membuthkan, tapi kenapa memilih lepas? Dibanding mengizinkan ku, mengizinkan kita memperbaiki semuanya.

Katanya, sudah terlalu banyak yang disampaikan dan bertolak belakang denganku. Padahal sekeras mungkin aku mengusahakan menerimanya, bukan karena terpaksa, tapi memang kenyamanan bukan yang dicari dalam sebuah hubungan?

Bagaimana bisa dirinya bicarakan masa depan jika dia cepat lelah dalam memberitahu ketidaksadaranku, padahal aku hanya butuh lebih tegas tanpa keinginan meninggalkan dan aku juga tidak akan menganggapnya egois, karena memang seperti itu cara hubungan bekerja bukan?

Aku selalu berharap dirinya tidak cepat lelah memberitahu dan membenahi diriku sama seperti aku yang tidak pernah lelah mengingatkan untuk minum air putih disetiap waktunya.

Label: , ,

 Aku tau, aku jauh dari kata sempurna. Penyelesaian masalah yang aku tangani untuk orang-orang disekitarku, ternya ahanya sebuh fiktif untuk diriku, nyatanya aku tidak pernah mampu menyelesaikan permasalahan yang hadir di dalam kehidupanku.

Menyakitkan rasanya, saat kamu bisa memberitahu orang, harus seperti apa dalam bersikap pada sebuah hubungan menjadi seorang pasangan, tapi nyatanya aku jauh dari kata bisa melakukannya. Egoku lahir cukup tinggi bersamaan dengan gengsiku. Ketidakpekaan ku terhadap sekeliling sudah terbentuk cukup baik sampai detik ini. Membuatku kurang bisa memahami dalam bertindak.

Tapi aku berani untuk meruntuhkan itu, sekeras-kerasnya. Ku kerahkan segala tenagaku melawan diriku sendiri, bukan karena terpaksa. Hanya saj amenruutku hal itu memang perlu diruntuhkan, meski harus melalui teguran keras, tapi begitulah cara kerja diriku bisa melebarkan pandangan. Aku membutuhkan dukungan yang tegas yang bisa di beri seseorang, tapi bukan untuk menyadarkanku lalu pergi meninggalkan.

Terkadang diri ini memang terlalu kerasa dan perlu sedikit keras bantuan dari luar untuk memperbaikinya. Wajar jika ku bangun pertahanan begitu keras bahkan terlampau kokoh, karena aku memerlukan pertahanan itu dnegan keadaanku yang selalu sendiri.

Aku senang sewaktu aku tidak perlu berusaa keras untuk membangun pertahanan itu lagi, karena sudah ada yang membantu untuk melindungiku. Namun, yah, pertahanan yang terlampau itu, tanpa sadar menyakiti orang yang ingin melindungiku. Aku berani meruntuhkannya.

Bukan karena dia yang memaksaku, tetapi aku yang ingin untuk meruntuhkannya dan memang seharusnya seperti itu. Aku tidak mungkin menyimpan ego untuk mempertahan pertahanan itu dan membuatnya tidak terlihat.

Keras sekali rasanya aku meruntuhkan bangunan itu dan syukur dia mau membantu, tapi ada kalanya aku terlalu lelah sehingga abai untuk melanjutkan sisa bangunan itu. Aku hanya membutuhkan keyakinan untuk meneruskan, mungkin dengan sedikit lebih keras.Tapi bukan dengan sebuah kepergian.

Label: , ,

Rabu, 19 November 2025

Demi Segala yang Terasa Baik

Pernahkah kamu merasakan sangat menjaga segalanya agar tetap baik-baik saja, tapi kamu bekerja begitu keras untuk hal itu? Kau tahu? Itu sangat menyulitkan dan tak jarang tetap saja menyakitkan. Kamu menahannya begitu keras dengan berbagai cara, bagaimanapun caranya, sampai kamu tidak tahu lagi caranya.

Kau tahu? Mengakui diri sendiri mengalah adalah hal yang sangat di benci, sangat. Tapi kamu harus melakukan karena memang begitu seharusnya(?) untuk menjaga agar segalanya tetap baik. Kau tahu? Aku sangat tidak menyukai perdebatan, aku akan sangat menghindarinya, jika aku bisa, dan jika diriku mau atau mampu(?)

Aneh bukan? Aku tidak suka perdebatan, tapi aku benci jika harus mengakui diriku harus mengalah. Entahlah segalanya begitu sulit, benangnya terlalu melilit satu sama lain. Bisakah membantu mengurainya? Tidak ya? Yasudah tak apa.

Tapi aku tidak keberatan juga, aku menghadapi perdebatan, mengalah, berusaha menahan agar tetap baik karena aku menginginkannya, karena aku mau dan membutuhkannya. Kalau hal-hal yang ku benci harus ku jalani, aku akan berkendara di atasnya, tidak masalah. Aku akan melakukannya, jika itu membuat ini tetap.

Label: , ,

Senin, 10 November 2025

Aku dan Ciptaan Bayangmu

Pernahkah kamu menjadi bintang

dalam penglihatan seseorang—

begitu terang, bersinar, dan...

melampaui batas.

 

Setinggi itu pula penglihatannya.

 

Ia menatapmu dari bawah

dengan harapan yang panjang,

mengira suatu hari ia bisa sampai

ke tempat kau berpendar.

 

Hingga suatu hari dirinya bisa mencapai bintang itu,

“Ternyata tak setinggi itu,” katanya.

“Yang melampaui batas hanya penglihatanku.”

 

Kamu tahu? Rasanya seperti terjatuh bermil-mil jauhnya

Aneh rasanya

Padahal aku pun bukan bintang

Dan aku tidak pernah memberi namaku bintang

Label: , , ,

Minggu, 25 Agustus 2024

Sampailah pada Waktu yang Tak Perlu Berdalih

Tak perlu diksi, tak perlu bahasa asing, tak perlu berbelit lidah dan kata. Singkat saja, aku mencintaimu. 

Urusan mengerti apa aku tentang arti cinta adalah belakangan, yang ku tau pasti kalimat itu adalah yang satu-satunya terlintas dalam pikiranku dan selama ini terus ku padamkan kehadirannya. 

Padahal nyatanya Aku Mencintaimu adalah hal yang telak, tak bisa di ganggu gugat. Meski dengan beribu elakan sendiri mengenai "memang cinta itu apa?" Dan dalam diriku pun yang sebenarnya menjawab "kamu."

Label: , , , , ,

Senin, 19 Agustus 2024

Malam yang selalu Menghantui

Semenjak kamu tinggal lari
Aku tak terbiasa lagi dengan sinar matahari

Label: , , , ,

Jumat, 16 Agustus 2024

Sumpah, Tidak Bermaksud

Sebab dicintai ketika sedang proses pulih akan membuat kita seakan menjadi orang jahat.

Label: , , , , ,

Kamis, 01 Agustus 2024

Terima Kasih untuk Tidak Pernah Menyerah

Dia terlalu banyak memendam segalanya sendirian, membuatnya tidak stabil dalam mengungkapkan emosi. 

Seringkali meletup-letup jika dirinya melihat hal yang tidak sesuai dengan perasaannya.

Dia hanya terlalu lama memendam
Dia hanya tak pernah di dengar
Dia hanya terlalu cemas
Dia hanya tak pernah menemui tempatnya

Dan hanya dia yang mampu bertahan menghadapi semua saat segalanya tak pernah berpihak kepadanya

Dialah dirimu. Terima kasih untuk tidak melayangkan bendera putihmu. 

Label: , , , , ,

Senin, 22 Juli 2024

Duniaku yang Lain


Mereka tidak pernah tau, jika aku kerap kali menyusup dalam dunia antah berantah. Dimana tidak ada yang mengenaliku dan melihatku, tapi aku bisa melihat mereka semua. Bahkan terkadang aku merasa menjadi salah satunya.

Mereka tidak pernah tau jika aku memiliki banyak dunia  dengan beragam kisah yang tidak berkesinambungan. Disebuah tempat asing. Namun, anehnya terasa nyaman

Sama seperti dunia yang aku jalani ini, tapi bedanya di duniaku satunya, aku menjalani semua dengan ringan. Ya, pasti sang pembuat alur ceritanya pun sudah beda.

Label: , , , , ,

Kamis, 11 Juli 2024

Aku Di Suatu Saat Nanti

Pada suatu saat nanti
Aku hanya ingin menjadi bagian dari bintang-bintang kecil di langit.

Pada suatu saat nanti
Aku hanya ingin menjadi bagian dari buih ombak yang menggulung di lautan.

Dan pada suatu saat nanti 
Aku ingin menjadi satu nama abadi dalam sebuah karya yang bisa di nikmati.

Label: , , , , , , ,

Senin, 08 Juli 2024

Melalui Lagu Kesukaanmu



mendengarkan lagu kesukaanmu

adalah caraku menghadapi rindu


mendengarkan lagu kesukaanmu

membuatku merasakan hadirmu


mendengarkan lagu kesukaanmu 

adalah caraku mendengar suaramu

dengan lebih dekat


lewat lagu kesukaanmu

aku merasa kita bersama


seperti kembali ke masa 

dimana pintu dan jendela 

lenyap begitu saja


tidak ada sekat 

yang mampu menghalangi


hanya melalui lagu kesukaanmu

aku menghidupkan rindu


menyalakan ingatan 

yang semakin mendalam


menerobos dosa untuk merindukanmu

masih terus aku lakukan 


karena hanya dengan caraku sendiri 

aku bisa menghadirkan kita

tanpa ragamu sekalipun disini


Label: , , , ,

Rabu, 26 Juni 2024

Perjalanan yang Nyatanya Tidak Pernah Dilakukan


Akhirnya segalanya terlihat, kegelapan yang melanda dari awan hitam yang mengelung secara betah dalam satu titik, kini telah pergi. Tenang, adalah rasa yang dapat menyentuh saat ini. Mungkin, inilah hasil perjalanan panjang dari hal yang ku sebut pelarian sementara.


Karena ternyata aku pikir, kita butuh berlari dibanding terus menghadapi, berlari untuk dapat melihat lebih banyak hal yang bisa kita dapat sebagai bahan untuk menghadapi masalah itu. Bukan begitu? 


Tidak selamanya pelarian membuat konotasi buruk akan lemahnya diri yang tak mampu untuk menghadapi situasi yang terjadi.


Bahkan jika kita tidak dulu berlari, kita tidak akan pernah mengetahui cara menghadapi situasi itu dan pada akhirnya hanya sebisa yang kita lakukan untuk menghilangkan masalah itu. Penglihatannya terlalu sempit untuk tetap disitu dan berharap segalanya selesai.


Namun, pada akhirnya aku selesai, aku melihat sinar. Aku merasa tenang. Aku kembali berjalan. itu yang kurasakan.


Hingga... terhantam pada satu hal yang membuatku harus terbangun dari mimpi. Aku kebingungan untuk mencari matahari yang baru saja ku lihat tadi, terang dan tenang yang ku rasakan. Hingga semua mulai tersadar jika, segalanya memang hanya mimpi.


Sudah terlalu lama, sampai pada akhirnya memutuskan untuk berjalan. Bahkan sudah sejauh ini perjalanannya, sampai-sampai setiap jawaban yang ada, aku pikir itulah jawabannya. Namun pada akhirnya ku disadarkan, jika nyatanya kau tidak pernah menemukan jawaban yang sebenarnya.


Dan... Nyatanya pun perjalanan yang kulakukan selama dan sejauh itu pun tidak pernah aku lakukan.


Label: , , , , ,

Jumat, 24 Mei 2024

Gaungan Emosi, Malam, dan Rekan-rekan Binatangnya


Malam tak ubahnya campuran perasaan manusia yang membuntang meruah-ruah, terbawa angin malam yang bebas. Segala yang terpendam mampu dikeluarkan oleh malam, tanpa paksa dan tanpa diminta. 

Keluar begitu saja bagai binatang yang telah terkurung dan tersekap tanpa mampu menghirup udara. Segala gundah, lara, duka, sesak dan pilu yang tak tersentuh oleh mentari seakan tahu waktunya untuk unjuk gigi memperlihatkan siapa dirimu sebenarnya.

Tawa dan canda, senyum sumringah, lelucon yang terus kau giring selama seharian penuh merupakan sebuah topeng untuk menutupi betapa hancurnya dirimu sebenarnya. Air mata yang terbekap selama 24 jam tak lagi menemui tempatnya untuk bertahan lebih lama.

Sayup-sayup tangisan itu menyanyikan suaranya dalam keheningan dan hanya ditemani suara jangkrik yang bersenandung, atau bahkan terkadang saking pilunya tangismu, binatang malam pun ikut terdiam mendengarnya, seakan dapat merasakan dan mengerti jika senandungnya tak akan mampu menghibur mu, tak akan cukup membuatmu mengerti bahwa kamu tidak sendiri.

Egomu hilang ditelan malam yang sunyi dan topengmu hancur lebur terbentur pekatnya gelap malam. Malam seakan tahu dan dapat menyikapi perasaan yang kau lontarkan diantara gelap menyelimuti, dimana ia akan membawa rekannya, beberapa binatang malam untuk menghiburmu jika memang itu kau butuhkan. 

Namun, jika itu adalah hal yang sia-sia, malam takkan mempersilahkan rekannya untuk bersenandung menghiburmu. Bukannya tak ingin, hanya saja ia tahu bagaimana cara menyikapinya, dan tentu saja hiburan yang mampu diberikannya adalah tanpa dirimu bersuara bahkan mengatakan apapun.

Karena, ia adalah malam yang sunyi tanpa suara, tapi ia mampu memahami.

Label: , , ,

Senin, 20 Mei 2024

Bagaimana Mungkin Pernyataan 'Aku Bahagia' Menjadi Kalimat yang Semu

 


Jauh langkah berjejak untuk mencari kebahagiaan yang sebenarnya diri sendiri pun tidak mampu mengerti apa arti bahagia itu. 

Apa dengan menyendiri dan hanya ditemani angin adalah sebuah kebahagiaan? Karena kita merasa bahwa pikiran kita jauh lebih tenang ketika sunyi menjuntai. Namun, terkadang hal itu akan terasa sepi jika harus dilakukan setiap saat.
 
Oh, atau bahagia itu ketika bertemu dengan banyak orang yang mempunyai energi lebih banyak. Karena berpikir, kita akan tertular energi membahagiakan yang ia punya? Namun, jika terus menerus bukankah hal itu akan berbanding terbalik dengan terserapnya energi yang kita miliki? 

Apa sebuah kebahagian dengan memiliki barang yang diimpikan? Namun, bukankah rasa bahagia yang mengantarkan kepuasan dengan memiliki barang itu tidak akan lama? Bahkan mungkin akan tergantikan dengan barang-barang lain yang di kemudian hari kita inginkan.

Lalu apa bahagia itu dengan mendapatkan apa yang kita impikan selama ini, menjadi seorang yang hebat sesuai dengan impian-impian yang kita rangkai selama ini? Namun, bukankah pikiran dan imajinasi itu sifat nya tak terhingga? 

Ketika kita sudah mencapai titik dimana seharusnya ini adalah hal yang selama ini kita cari, kita nantikan, tapi malah kita merasa belum dan mengatakan bukan ini titik nya. Padahal jika menengok kebelakang, ya sudah benar.

Lalu apa sebenarnya arti bahagia itu? Apa benar pada kesunyian tanpa kebisingan? Atau pada kebisingan dengan dalih mengantarkan semangat? Atau dengan memiliki sesuatu? Atau juga dengan menjadi sesuatu? Namun, ketika tidak menjadi sesuatu atau menjadi siapa-siapa memangnya kenapa? Apa tidak bisa menjadi bahagia? Apa bahagia hanya ada di pikiran saja? Dengan berpikir kita bahagia maka sudah bahagia, Seperti itu kah? 

“Aku bahagia kok, aku senang. Aku … baik-baik saja, sedang tidak merasakan apa-apa. Aku bahagia.”

Mana ada jawaban atas pertanyaan bahagia atau tidak, adalah bahagia, tapi ia menjawabnya dengan matanya berkaca-kaca, walaupun tetap dengan senyuman.

Bagaimana bisa kalimat aku bahagia menjadi kalimat yang semu dan terkesan mengaku-akui.

Lalu kenapa pula bahagia adalah hal yang sebentar sedangkan kesedihan mempunyai waktu yang lebih lama untuk dirasakan?

Bahkan terkadang disaat merasa bahagia, tetap saja ada terselip rasa kesedihan yang entah pada saat itu ia muncul di permukaan secara terang-terangan atau bahkan hanya tertutupi oleh tawa, tapi tetap saja kesedihan itu ada.

Jika kebahagiaan adalah dengan menjadi sesuatu, menjadi siapa aku dimasa mendatang, tapi ... Jika tidak menjadi siapa-siapa nantinya memangnya kenapa? Memang tidak bisa untuk bahagia seperti ini saja? 

Lalu, sebenarnya bahagia itu seperti apa ...

Label: , , , , ,

Senin, 06 Mei 2024

Dia Tersenyum Namun Hatinya Kosong

 

Hidup dengan pertimbangan orang lain itu sangat menakutkan, rasanya jika ada pencapaian yang lebih dulu tercapai dari kita, selalu sesak yang berlumur dalam dada. Bukan tidak senang melihat orang mencapai apa yang mereka inginkan. Namun, bersamaan dengan hal itu, ada banyak pertanyaan "itu dia bisa" "kok kamu belum ya" "coba ikuti dia, samai sepertinya." 

Mereka berpikir jika semua bekerja menggunakan mata atau telinga. Maka semua bisa bekerja seperti itu. Mereka tidak melihat teman-teman kita yang mempunyai kekurangan dalam hal pendengaran atau penglihatan, mana mungkin mereka bisa bekerja menggunakan mata atau telinganya. 

Namun, bukan berarti mereka tidak mampu untuk bekerja, karena hanya bagian tertentu yang mereka tidak punya, mereka masih mempunyai bagian lain yang utuh yang bisa mereka gunakan. hanya saja tinggal siapa yang mampu menghargai usaha mereka. 

Sulit jika harus terus mempertimbangkan keberhasilan orang lain dengan diri kita, standar yang dibangun di lingkungan masyarakat terkesan menyesakkan, seperti hidup dalam penjara, semua harus melakukan hal yang sama meski kejahatan yang mereka lakukan berbeda. 

Ingin rasanya menghindari kehidupan seperti itu. Namun, tidak bisa selamanya, hanya dapat sesekali menutup telinga yang sebenarnya hanya bersifat sia-sia, kecuali kamu memang tidak memiliki pendengaran yang baik. 

Terkadang aku merasa hidup dengan keterbatasan pendengaran (tuna rungu) mungkin lebih baik, mereka tidak perlu bersusah payah menutup telinganya untuk mendengar cacian seseorang atau pertengkaran seseorang yang berkaitan dengannya.

Namun, bagaimanapun mereka tetap dapat melihat, melihat bagaimana mereka diluar sana memandang dirinya, memandangnya sebagai tuna rungu, karena mata tak butuh telinga untuk mengetahui isi pikiran seseorang. 

Sebaliknya, menjadi tunanetra pun sama, mereka mungkin tidak melihat bagaimana pandangan orang sekitar terhadapnya. Namun, melihat tidak hanya dari mata bukan? hati mereka bisa merasakan dan terutama telinga mereka dapat mendengar lebih jelas daripada kebanyakan orang normal (orang yang sempurna segalanya).

Lalu aku harus menjadi seperti apa, jika menjadi diri sendiri pun diri ini juga terus mencaci. Beberapa kali mendapat cacian, alih-alih menenangi diri sendiri seolah segalanya tidak apa, tapi, sebenarnya dalam diri ini jauh lebih membunuh diri sendiri atas kesalahan atau ketidakmamapuan atas suatu hal.

Menahan air mata yang tadinya hanya dilakukan di depan umum, kini dalam sunyi pun tidak mampu mengeluarkannya, karena terbiasa menahan dan selalu berkata, tidak apa, tidak boleh menangis, dan lupakan saja. Hingga aku sampai di titik bertanya-tanya, kemana perginya air mata itu?

Hidup terasa kosong karena tidak mampu meluapkan emosi yang ada didalam tubuh. Apa yang dijalani saat ini tak ubahnya seperti mayat hidup, tanpa perasaan, tanpa emosi dan yang ada hanya senyuman namun hatinya kosong, segalanya kosong.

Tapi yang terpenting diri ini masih bisa mengeluarkan senyum bukan? Meski hal itu hanya untuk memvalidasi kepada orang-orang bahwa aku baik-baik saja.

Label: , , ,