Senin, 06 Mei 2024

Dia Tersenyum Namun Hatinya Kosong

 

Hidup dengan pertimbangan orang lain itu sangat menakutkan, rasanya jika ada pencapaian yang lebih dulu tercapai dari kita, selalu sesak yang berlumur dalam dada. Bukan tidak senang melihat orang mencapai apa yang mereka inginkan. Namun, bersamaan dengan hal itu, ada banyak pertanyaan "itu dia bisa" "kok kamu belum ya" "coba ikuti dia, samai sepertinya." 

Mereka berpikir jika semua bekerja menggunakan mata atau telinga. Maka semua bisa bekerja seperti itu. Mereka tidak melihat teman-teman kita yang mempunyai kekurangan dalam hal pendengaran atau penglihatan, mana mungkin mereka bisa bekerja menggunakan mata atau telinganya. 

Namun, bukan berarti mereka tidak mampu untuk bekerja, karena hanya bagian tertentu yang mereka tidak punya, mereka masih mempunyai bagian lain yang utuh yang bisa mereka gunakan. hanya saja tinggal siapa yang mampu menghargai usaha mereka. 

Sulit jika harus terus mempertimbangkan keberhasilan orang lain dengan diri kita, standar yang dibangun di lingkungan masyarakat terkesan menyesakkan, seperti hidup dalam penjara, semua harus melakukan hal yang sama meski kejahatan yang mereka lakukan berbeda. 

Ingin rasanya menghindari kehidupan seperti itu. Namun, tidak bisa selamanya, hanya dapat sesekali menutup telinga yang sebenarnya hanya bersifat sia-sia, kecuali kamu memang tidak memiliki pendengaran yang baik. 

Terkadang aku merasa hidup dengan keterbatasan pendengaran (tuna rungu) mungkin lebih baik, mereka tidak perlu bersusah payah menutup telinganya untuk mendengar cacian seseorang atau pertengkaran seseorang yang berkaitan dengannya.

Namun, bagaimanapun mereka tetap dapat melihat, melihat bagaimana mereka diluar sana memandang dirinya, memandangnya sebagai tuna rungu, karena mata tak butuh telinga untuk mengetahui isi pikiran seseorang. 

Sebaliknya, menjadi tunanetra pun sama, mereka mungkin tidak melihat bagaimana pandangan orang sekitar terhadapnya. Namun, melihat tidak hanya dari mata bukan? hati mereka bisa merasakan dan terutama telinga mereka dapat mendengar lebih jelas daripada kebanyakan orang normal (orang yang sempurna segalanya).

Lalu aku harus menjadi seperti apa, jika menjadi diri sendiri pun diri ini juga terus mencaci. Beberapa kali mendapat cacian, alih-alih menenangi diri sendiri seolah segalanya tidak apa, tapi, sebenarnya dalam diri ini jauh lebih membunuh diri sendiri atas kesalahan atau ketidakmamapuan atas suatu hal.

Menahan air mata yang tadinya hanya dilakukan di depan umum, kini dalam sunyi pun tidak mampu mengeluarkannya, karena terbiasa menahan dan selalu berkata, tidak apa, tidak boleh menangis, dan lupakan saja. Hingga aku sampai di titik bertanya-tanya, kemana perginya air mata itu?

Hidup terasa kosong karena tidak mampu meluapkan emosi yang ada didalam tubuh. Apa yang dijalani saat ini tak ubahnya seperti mayat hidup, tanpa perasaan, tanpa emosi dan yang ada hanya senyuman namun hatinya kosong, segalanya kosong.

Tapi yang terpenting diri ini masih bisa mengeluarkan senyum bukan? Meski hal itu hanya untuk memvalidasi kepada orang-orang bahwa aku baik-baik saja.

Label: , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda