Saat Jeritan Terbungkam, Pena Selalu Menjadi Saksi
Seringkali diri merasa ingin menyerah. Namun, apa boleh? Bahkan hanya sekedar ingin mengeluh saja diri ini merasa tidak pantas, disaat masih banyak diluar sana yang pundaknya lebih berat, tapi tidak pernah mengeluarkan suara, beribu benda tajam menghunus tubuhnya pun, jeritan tak pernah terdengar keluar dari mulutnya.
Lalu, jika diri ini hanya tertusuk sebuah duri tajam. Apakah pantas untuk menjerit demi menerjemahkan sakitnya?
Banyak hal yang membuat segalanya tertahan, hanya karena diri ini tidak cukup mampu atau bahkan tidak cukup sakit untuk menceritakan pedihnya.
Perkataan, apa perlu? apa pantas? apa tahu diri? terkadang selalu terngiang di telinga tanpa henti, yang mengartikan bahwa diri ini tidak pernah baik-baik saja setiap harinya.
Semua hanya topeng yang harus dipakai demi terlihat tak apa, demi terlihat tidak lemah di mata orang yang dipaksa untuk kuat pula.
Tak pernah sekalipun goresan-goresan itu menghilang atau bahkan sembuh, hanya saja bedak atau foundation yang menutupinya dengan berhasil.
Tak pernah ada ruang dan wadah untuk sekedar mengatakan diri ini payah.
Sekalipun harus merasakan hal itu, hari tetap saja terus berganti, detik tetap berjalan tanpa henti, mereka tidak mengenal kamu kenapa, kamu siapa, dan bagaimana keadaanmu.
Waktu juga berjalan sesuai yang telah dikehendaki. Barangkali ia juga terkadang merasa lelah untuk terus berjalan.
Namun, apa boleh buat? mereka sudah ditugaskan untuk terus memutar demi mengejar manusia lambat yang harus berlomba mencapai titik yang dituju, tanpa ingin tahu sebanyak apa luka mu dalam perjalanan, seberapa banyak kamu mengalami mati suri di setiap langkah yang kamu pijak.
Bagaimanapun memang semua harus berjalan seadanya. Jika mereka tak mampu untuk mendengar ceritamu ya tak apa, jika mereka tak mampu mengerti keadaanmu yasudah dan jika memang tak ada wadah untuk sekedar bersuara biarlah.
Jika segala yang kamu ingin dapatkan dari seseorang tak pernah ada, menulis lah.
Karena hanya dengan menulis suaramu dapat dengan lantang menceritakan segalanya, tanpa perlu terdengar suara orang yang malah mengadu nasib, tanpa perlu mendengar orang yang seakan-akan menghakimi baik buruknya kisahmu.
Hanya dengan menulis suaramu akan dimengerti, ruang kosong dalam dirimu dapat terisi dengan berbagai warna, di setiap diksi yang kau ciptakan dan gurat-gurat warna dalam sebuah kata-kata yang menjadikannya kalimat yang mempunyai warnanya sendiri.
Jika tidak sekarang, mungkin suatu saat nanti, melalui tulisanmu orang dapat memahami. Jika pun hari itu tidak pernah datang, yasudah, terpenting adalah kamu dapat mengerti dirimu sendiri dan kamu selalu menjadi wadah untuk dirimu sendiri, dan Setidaknya, kamu masih membersamai dirimu.

.png)

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda