Rabu, 07 Februari 2024

Perempuan dan Takdir yang Memakunya

Seringkali perempuan tidak memiliki suara untuk memilih setiap warna yang ia suka, kata yang ingin diucapkan dan langkah aman yang ia pilih. Hal ini terjadi sebab kesetaraan yang telah mendarah daging dalam tubuh manusia, orang-orang selalu menganggap jika perempuan yang lahir hanya dapat mengikuti takdir yang telah disampaikan oleh para pendahulunya.

Perempuan hanya bisa terbang mengikuti angin yang menghembus tak tentu arah, tidak ada satupun bangunan yang mampu melindunginya dari badai yang sewaktu-waktu dapat menerpanya.

Jika perempuan tidak mengikuti aturan hidupnya sebagai “perempuan” maka sudah dipastikan ia akan dicemooh dan di caci maki, bagai barang yang tidak berharga dan tak mempunyai nilai.

Perempuan dituntut harus sempurna sedangkan laki-laki tidak apa tidak sempurna “karena mereka laki-laki.” Ketika perempuan berselingkuh maka habislah ia dipermalukan dan kata-kata "jalang” "cabo" "tidak ada harga diri" sudah pasti akan melekat dan terpaku dalam dirinya.

Namun, ketika laki-laki yang berselingkuh orang tidak memperdulikannya atau mengatakan “mungkin istrinya yang tidak bisa bersolek, tidak bisa melayani suaminya sampai-sampai suaminya harus jajan di luar.” dan sebagian hanya berkata "ya namanya juga laki-laki" mirisnya, sering ditemukan kata-kata seperti itu terlontar dari mulut yang juga seorang perempuan. Betapa nikmatnya menjadi laki-laki yang terus berlindung dalam kalimat se receh "Namanya juga laki-laki."

Dalam beberapa adat yang masih ditegakkan oleh suku pedalaman yaitu menuntut agar perempuan harus bisa melakukan segalanya. Seperti, mengurus kelima anaknya, memasak pagi-pagi  buta untuk suami dan anak-anaknya, setelahnya harus pergi ke ladang mencari nafkah, di tengah terik siang kegiatan mencuci baju dan segala perabotan di kali juga harus dilakukan, dan sorenya harus memberi makan hewan ternak di rumahnya. 

Belum selesai sampai disitu, malamnya ia harus menyediakan makanan dan kopi yang disajikan untuk teman-teman suaminya yang berkumpul di pekarangan rumah, belum sempat beristirahat ia juga harus memuaskan nafsu dari suaminya hingga pagi menyongsong kembali dan kegiatan itu terus menerus dilakukan selama hidupnya. Jika tidak dapat melakukan semaunya tamparan pukulan, tendangan akan dengan pasti mendera tubuhnya.

Mengapa hal itu harus terjadi? mengapa perempuan yang harus melakukan segalanya? kenapa bukan laki-laki? jawabannya karena dalam hal ini laki-laki merasa bahwa dirinya sudah membeli seorang perempuan dengan mahar yang sangat fantastis sehingga ia sudah mendapat harga dirinya dengan begitu perempuan lah yang dituntut untuk tahu diri ketika sudah diberi mahar yang besar maka perempuan itu harus berguna di rumahnya.

Betapa tangguh seorang perempuan dalam hidupnya, dan betapa pengecutnya laki-laki dalam hidupnya. Ia harus menginjak-injak perempuan terlebih dahulu supaya terlihat, agar mereka tidak terhalang, agar mereka terlihat hebat dan berharga. 

Ketakutan jika ia tidak menginjak perempuan, maka perempuan akan berdiri secara lantang dan akan menghalangi tubuh laki-laki yang haus akan kehormatan dan harga diri.

Label: ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda