Selasa, 27 Juni 2023

Hujan dan Makana Tersirat dalam Setiap Rintiknya

Pagi ini cuaca berawan kelam, hanya tinggal menunggu air matanya jatuh saja membasahi bumi yang tandus ini. Dengan cuaca yang seperti ini rasanya tidak mendukung untuk berpergian kemanapun, beberapa tempat yang seharusnya aku kunjungi hari ini terancam batal, sayang sekali. Taman Sari, Keraton Yogyakarta dan Ruas Bambu Rusa, tempat yang sudah ku impikan untuk ku datangi ketika aku menginjakkan kaki di kota ini. Namun, sepertinya semesta belum mengizinkan aku untuk mengunjungi tempat itu.

Air mata dari langit itu kini telah jatuh dengan sangat deras. Hujan hari ini mengingatkan aku pada masa dimana dulu sangat menantikan hujan itu datang mengunjungi bumi, sesekali aku membuat beberapa puisi setiap kali hujan di pagi atau malam hari tiba, untukku rasanya ketika hujan datang disaat fajar yang malu untuk terbit dan bulan yang enggan menampakkan dirinya, membawa perasaan damai tersendiri dalam diri. Duduk di depan teras dengan hanya memandangi air langit yang jatuh dan menghantarkan aroma yang keluar saat air itu turun membasahi tanah yang tandus, menciptakan sebuah tenang yang tak dapat diterjemahkan, segala lelah, gundah dan gelisah sekaan menguap ke langit.

Hujan terkadang mengingatkan kita yang sedang bersedih untuk dapat meluapkan saja sekencang-kencangnya dan memberitahu bahwa sebuah air mata bukan pertanda lemahnya jati diri kita, dengan air mata yang keluar itulah yang akan membawa ketenangan dan akan menciptakan damai dalam diri sendiri terhadap segala permasalahan yang ada. Turunnya hujan juga mengingatkan kita kepada yang selalu bekerja keras dan melupakan diri sendiri bahwa tubuh kita ternyata juga butuh istirahat, dengan segala ambisius pada sesuatu hal yang ingin dicapai dan satu dua hal lainnya yang menyebabkan sesuatu itu untuk harus dicapai, terkadang membuat kita lupa bahwa tidak semua yang kita mau harus kita miliki, bahwa semua ada batasannya, bahwa semua juga harus dinikmati, dan semua tidak harus dijalani dengan berlari yang akibatnya membuat diri kita terengah-engah kehabisan tenaga.

Siapa tau jika menggapainya secara perlahan dan dilakukan dengan cara berjalan saja akan dapat juga pencapaian itu, namun, karena sikap kita yang kurang sabar dan selalu terburu-buru karena melihat sekitar kita telah telah lebih dulu mendapatkan semuanya kita jadi memaksakan diri untuk juga segera mendapatkan apa yang telah mereka dapat itu. Sayang sekali kita tidak menyadari atau bahkan lupa untuk menyadari bahwa jalan mereka bukan jalan yang harus kita lalui, lupa bahwa kita pun bisa membuat jalan kita sendiri dengan segala bentuk yang kita mau.

Tidak apa sebenarnya untuk sedikit terlambat, karena nyatanya yang berarti itu bukan tentang mendapatkannya melainkan proses dari setiap langkah menuju apa yang kita ingin dapatkan itu, itu lah yang akan mengajarkan kita cara menghargai pada setiap usaha yang diri ini maupun yang orang lain lakukan. Proses yang sulit akan lebih menyadarkan kita untuk tidak mudah menyerah, dan untuk tetap menghargai setiap jatuh bangunnya. karena itu lah yang akan membuat kita berkembang.

Label: , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda