Minggu, 11 Agustus 2024

Pameran Galeri Nasional Dolorosa Sinaga, I the Witness

 

Dolorosa Sinaga & Budi Santoso di kuratori oleh Alexander Supartono menggelar pameran bertajuk "Pameran Seni Rupa Patung dan Aktivisme" pada 20 Juli sampai 19 Agustus 2024  yang bertempat di Gedung A, Galeri Nasional. 

Tema pameran yang diambil Dolorosa dan Budi masih terus mengusung tentang isu hak asasi manusia, pembelaan serta solidaritas pada kaum perempuan. 

Pameran seni rupa "Patung dan Aktivisme: Dolorosa Sinaga & Budi Santoso" inj menampilkan lebih dari 53 karya. Salah satu karya yang menarik perhatian adalah I, the Witness.

———————

Dolorosa Sinaga


I, the Witness

109 x 78 x 230 cm 

iron plat 

2024


I, the Witness adalah penghormatan terus menerus dan perjuangan menuntut keadilan yang terus berlanjut untuk Ita Martadinata (1980-1998), salah seorang korban perkosaan massal kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Pada 8 Oktober 1998, Martadinata dibunuh dengan brutal di kamar tidurnya, hanya seminggu sebelum dia bersaksi di depan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat. Kasus pembunuhan ini belum terpecahkan sampai sekarang. Lewat tangan Dolo, Martadinata hadir dalam keabadiannya dalam sosok langsing yang berdiri tegak di depan meja kesaksian. Dia memakai kebaya encim keemasan, simbol kekekalan sekaligus mewakili identitas etnisnya. Tatapan matanya yang tajam dan mulutnya yang terbuka akan terus menyuarakan mereka yang tertindas.

Label: , , , , ,

Minggu, 07 Juli 2024

Review Novel "L" karya Kristy Nelwan



Judul Buku              : L

Karya                       : Kristy Nelwan
Penerbit                   : PT Grasindo
Editor                       : A. Ariobimo Nusantara
Tahun Terbit            : Agustus 2008
Tebal Halaman        : VIII + 344

"L" merupakan sebuah novel romansa sederhana dengan berbagai permasalahan orang dewasa di dalamnya, kerumitan dalam mempercayai cinta, kerumitan mengungkapkan rasa hingga berujung pada penyesalan.

Novel "L" merupakan sebuah cerita tentang sosok perempuan bernama Ava Torino yang mempunyai misi cukup unik dalam hidupnya, dirinya berambisi untuk bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang bisa melengkapi daftar alfabet dari A sampai Z.

Semua sudah ia dapatkan bahkan dari alfabet tersulit yaitu X, dia sudah berhasil memacarinya sekaligus menjadikannya mantan. Satu huruf yang cukup lama ia tunggu dan tak juga kunjung dipertemukan adalah, laki-laki yang memiliki nama dengan alfabet L.

Hingga suatu hari ia mencoba kemustahilan yang bahkan dirinya tidak percaya, atas permintaan teman-teman satu kerjaannya. Hal itu adalah memegang tangan Buddha sambil melakukan make a wish yang dipercaya, jika kamu berhasil memegang tangan Buddha, maka keinginanmu akan terkabul. Seluruh rekan kerja Ava tidak ada yang berhasil saat melakukan itu.

Namun, lain halnya dengan Ava yang mengatakan jika hal tersebut tidak sulit untuk dilakukan, buktinya ia bisa dengan mudah memegang tangan Buddha, lalu Ava segera diminta untuk berdoa dan meminta satu keinginan. Ava mengikutinya dan meminta dalam hati untuk dipertemukan dengan L, "the Last" "the Love "the Last Love".

Akhirnya ia dipertemukan dengan seseorang yang mempunyai alfabet L, bernama Ludi yang bertemu dalam waktu yang terbilang berdekatan setelah dirinya melakukan kegiatan kemustahilan tersebut.

Namun, sebelum itu dirinya sempat bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat menarik, bernama Rei, Ava berharap pada saat itu laki-laki itu memiliki nama depan dengan alfabet L saja. Namun, tidak mungkin...

Berjalannya waktu, Ava dan Ludi menjalin hubungan. Ludi adalah seorang laki-laki yang sikap dan tindakannya diinginkan dan diimpikan oleh seluruh perempuan, termasuk Ava. 

Lambat laun, banyak yang berubah dalam kehidupan Ava setelah memegang tangan Buddha dan setelah pulang dari Jogja, yang bertemu Rei.

Pertemuannya dengan Rei tidak hanya sampai disitu, dirinya juga bertemu kembali dengan Rei di Bali, disinilah Ava memiliki waktu lebih banyak untuk dapat mengenal Rei. Rei sangat menghibur dirinya saat di Bali, ditengah pekerjaannya yang mendesak, urusan teman, sampai keterlambatan pesawat yang membuatnya ribut dengan pacarnya, Ludi.

Tak lama dari kepulangan dari Bali, Ava memilih keluar dari tempat kerjanya dan dirinya mendapat tawaran pada salah satu perusahan Creative, yang dimana ternyata menjadi satu tempat kerja dengan Rei.

Sejak di Bali Rei sudah selalu melarang keras keseharian Ava yang buruk yaitu, rokok dan alkohol. Padahal untuk pertama kali bertemu Rei, Ava mengenal nya sebagai laki-laki perokok aktif yang di kerjai teman-temannya karena hangover, hingga ia bisa sampai di Jogja.

Sampai saat Ava menjadi teman satu kerjanya Rei. Laki-laki itu tetap selalu melarang keras Ava dalam soal Rokok, Rei akan selalu menyembunyikan korek dan menghancurkan batang rokok yang dimiliki Ava.

Lain halnya dengan Ludi yang terkesan tidak masalah dengan hal itu, terkadang ink juga yang menjadi pertanyaan Ava. Namun semuanya ditepis dengan dalih Ludi adalah laki-laki baik yang bisa menerima Ava apa adanya, sampai Ava memutuskan menerima lamaran Ludi.

Ava pernah bertanya sekaligus bersyukur atas kehidupannya yang baik-baik saja. Namun, segalanya terjawab pada waktunya.

Dimana saat Ava sudah merubah kehidupannya,  sikap dan segala tindakan nya serta menghentikan pencarian nama alfabet untuk terakhir kalinya dan mencoba untuk merasakan cinta yang sebenarnya bersama Ludi. 

Ava bukan lagi perempuan yang selalu menganggap ringan suatu hubungan yang hanya dihadiri dengan "jadian dan putus". Dirinya mencoba untuk menjadi serius dalam hubungan dan percaya pada pasangan.

Namun, saat itu tiba, Ava tidak menyadari jika karma tidak mengenal batas waktu. Rahasia besar terbuka di penghujung kehidupan Ava menuju hari H tunangannya dengan Ludi dan penghujung kebersamaannya dengan Rei, segalanya menjadi sebuah kelegaan sekaligus penyesalan terdalam selama hidupnya bagi Ava Torino.


....


Ketika kamu disakiti 20% jangan pernah membalasnya 1% pun dengan tindakan apapun apalagi sampai 100%, karna 20% itu akan berbalik ke kamu. Mungkin kecil angkanya, tapi besar rasanya di kamu itu, infinity. Karma itu pasti ada dan itu akan terus berulang-ulang jika kamu terus membalas karma yang seharusnya bukan tugas kamu untuk membalasnya.

Sakit hatinya manusia pada setiap tindakan dan perkataan yang kita lontarkan itu yang paling bahaya adalah ketika dia tidak mengatakannya.

Lebih mengecewakannya lagi, seringnya karma datang disaat kita sudah mulai menyesalinya dan berharap mengubah perilaku dan tindakan akan terhindar dari karma. Namun, karma itu sendiri tau jika dia tidak datang, perubahanmu tidak bisa terjadi begitu saja.



Label: , , , ,

Kamis, 15 Februari 2024

Review Buku "Besali" karya Shabrina Ws.

Untuk Seseorang yang datang, yang singgah dan yang pergi, ada yang bertahan menjadi peneduh bagi segala musimmu

Kehilangan untuk yang kedua kali pada orang yang sangat berarti dalam hidup adalah sebuah pukulan telak yang tak mampu terelakan. Lohita Sasi seorang gadis yang telah kehilangan ibunya dan bertahan hidup bersama ayahnya yang selalu menyayanginya serta meneguhkannya atas kehilangan yang telah merenggut perempuan yang mereka cintai yaitu Ibu Lohita. Namun, semua kehilangan rasanya sangat lengkap setelah Lohita juga harus kehilangan Ayah nya di saat dirinya masih sangat membutuhkan sosok orang tua yang menyayanginya.

Sebelum kepergiannya Ayah Lohita meninggalkan secarik kertas yang berisi pesan untuk dapat mempertahankan Besali (Bengkel pandai besi) yang telah menghidupi keluarganya selama ini dan salah satu yang dapat menghidupi kembali Besali tersebut adalah seorang laki-laki bernama Sapta yang telah bekerja dengan Ayah Lohita sejak ia menduduki bangku SMK, seorang laki-laki yang sangat dipercayai Ayah Lohita dan mampu memangku tanggung jawabnya untuk mengurus Besali.

Lohita sendiri bukanlah anak tunggal, ia merupakan anak bungsu dari keempat kakak laki-lakinya yang lebih memilih merantau untuk bekerja ke kota, karena mereka tidak ingin berurusan langsung dengan Besali. Jarak yang cukup jauh antara umur Lohita dengan kakak-kakaknya membuat Lohita tidak dekat dengan mereka berempat, di tambah pula kehadiran mereka yang hanya beberapa kali dalam sebulan untuk pulang mengunjungi keluarga.

Tanggung jawab menghidupkan Besali juga bukan hal yang mudah bagi Lohita. Dimana hal itu berarti dirinya harus menemui dan berbicara langsung dengan Sapta teman masa kecilnya yang kini hubungan mereka sudah sangat menegang. Tidak ada lagi percakapan dan canda tawa yang sering mereka lakukan dulu. Dan Lohita sendiri lah yang membangun tembok pemisah itu, sedangkan Sapta masih sama seperti yang perempuan itu kenal sejak dulu. Sapta adalah laki-laki yang banyak bicara, cuek namun sangat perhatian. Ada hal yang membuat Lohita harus menjaga jarak dari Teman masa kecilnya itu.

Selama memikirkan bagaimana cara menghidupkan Besali selain harus berbicara dengan Sapta, akhirnya Lohita dibantu oleh laki-laki bernama Rey, seorang penulis yang kerap kali mampir ke toko buku mandiri milik Lohita. Rey adalah seorang perantau yang bekerja sebagai penyiar radio dan diselingi oleh kegiatan menulis. Rey mempunyai ide untuk memasang iklan lowongan pekerjaan di Besali milik Ayah Lohita, meski Rey pun awalnya memberi masukan untuk dapat memanggil kembali pekerja terdahulu yang pernah bekerja bersama Ayah Lohita daripada harus mengangkat orang baru. Namun, Lohita masih tetap ragu untuk memikirkan hal itu.

Pada akhirnya di seratus hari kepergian Ayahnya Lohita sudah harus membuat keputusan. Berulang kali para pelanggan yang memesan Besi di tempat Ayahnya menanyakan akan dibukanya Toko pandai besi itu dan terpaksa Lohita harus menjawab dengan nada kebingungan.

Kisah Lohita dan keluarga nya adalah cerita yang sangat menyentuh, rumah yang biasanya ramai dengan suara Ayah dan Ibunya kini hanya tinggal sunyi tanpa bising. Bukan hal yang mudah bagi Lohita harus hidup tanpa kedua orang tuanya serta jauh dari keempat saudara kandungnya yang merantau di kota.

Kisah Lohita, Sapta dan Rey juga merupakan sebuah romansa yang dikemas secara sederhana dan tidak muluk-muluk. Namun, tetap dengan gaya percintaan masa remaja yang ada di tahun yang lebih baru ini

 Konflik yang dibuat penulis sangat jelas dan tertata dengan rapi, serta rasa yang disampaikan penulis melalui kalimat nya sangat berhasil dalam membuat pembaca merasakan seperti ada di suasana dan menjadi tokoh dalam tulisannya.

Label: , , , ,

Rabu, 07 Februari 2024

Review Buku "Manusia Langit" karya J. A. Sonjaya

Novel ini berkisah tentang sebuah pembelajaran hidup yang dialami secara langsung, pembelajaran hidup sesungguhnya yang kerap kali di dapat di ruang-ruang informal.

Novel Manusia Langit mempunyai tokoh yang menonjol, diantaranya Mahendra yang merupakan seorang dosen di sebuah kampus di Jogja, Yasmin yang merupakan mahasiswa yang memiliki pemikiran kritis, Ama Budi seorang laki-laki yang berasal dari tanah Nias dan sudah dianggap seperti ayah bagi Mahendra, serta Sayani yang merupakan anak dari Ama Budi

Cerita ini berawal dari sebuah kota bernama Yogyakarta, kota dimana sebuah cerita sampai akhir yang berkesinambungan.

Mahendra merupakan dosen arkeolog muda yang digemari oleh para mahasiswa karena gaya belajarnya yang santai dan mampu membuat mahasiswa berpikir seluas samudra dan mengungkapkan pikiran mereka bagai burung yang terbang secara bebas, seringkali ia melanjutkan pembelajaran di luar ruang kelas yang menurutnya terlalu membosankan dan terpaku pada aturan tak tertulis yang menyempitkan pikiran.

Saat dirinya menjadi dosen di sebuah kampus Yogya, ia bertemu dengan Yasmin yang merupakan mahasiswanya sendiri. Yasmin merupakan seorang perempuan yang cerdas dan berpikir kritis, terdapat banyak kesembunyian yang tertutup dalam dirinya. Perempuan yang setiap hari nya menggunakan Jilbab saat di Kampus itu membuat Mahendra tercengang sedikit saat dirinya menemukan Yasmin di sebuah tempat Billiard, Mahendra seperti melihat orang yang berbeda dalam diri Yasmin.

Namun, hal tersebut malah membuat Mahendra tertarik, Yasmin selalu mengatakan jika "seseorang sering kali tidak bisa keluar dari identitas dan nilai-nilai yang mengikatnya" (hal 42).

Yasmin selalu merasa jika di tempat biliar dirinya bisa menjadi apa yang dia inginkan, ia bisa menjadi dirinya sendiri, dapat mengendalikan sebuah permainan dan menentukan sendiri bola harus diarahkan ke mana.

Perjalanan kisah Mahendra dengan Yasmin nyatanya tidak berhenti sampai disitu, Mahendra sadar jika dirinya sudah jatuh cinta dengan mahasiswanya sendiri dan Yasmin pun merasakan hal yang sama. Hingga suatu kejadian di sebuah kost yang ditinggali oleh Yasmin membuat semua nya berubah.

Mahendra kehilangan kabar Yasmin sampai suatu hari ia mendapat kabar jika Yasmin telah mengandung dan Yasmin mengatakan untuk tidak perlu mencarinya, karena Yasmin akan menjaga nama baiknya sebagai seorang dosen.

Tak sampai disitu letak keterpurukan Mahendra, seorang mahasiswa mengabarkan jika diduga Yasmin telah mati dengan cara bunuh diri. Mahendra hancur, padahal ia siap bertanggung jawab atas hal tersebut. Namun, Yasmin memilih untuk mempertaruhkan nyawanya demi menjaga harga diri Mahendra.

Percampuran rasa yang ada dalam diri Mahendra ia bawa lari ke sebuah tempat yang jauh dari perkotaan, tersembunyi, masih alami dengan kekukuhan adatnya, Tanah Nias. Tempat Mahendra melarikan diri dari segala masalah, rasa sakit, kecewa dan seluruh ras yang tak mampu diterjemahkan atas segala hal tentang perempuan bernama Yasmin ia bawa hingga ke tanah Nias tepatnya di desa Banuaha.

Di Banuaha Mahendra bukan hanya seorang laki-laki yang tak mempunyai tujuan, disana ia juga sambil menjalani profesinya sebagai arkeolog dengan terus mengidentifikasi fosil dan apapun penemuan yang tersembunyi di tanah Nias.

Di sana lah dirinya bertemu seorang laki-laki yang sudah berumur bernama Ama Budi, Ama Budi merupakan keluarga ynag berasal dari keluarga Hia dan Marga Hia sangat dihormati karena dianggap sebagai tertua di Nias

Sedangkan Sayani adalah anak laki-laki yang menemukan Hendra seperti orang hilang di Pasar Gomo, Sayani lah yang setiap harinya menamani Hendra melakukan penelitian untuk mencari penemuan baru yang telah terkubur atau terpendam beratus tahun lamanya

Banuaha telah memberinya banyak pembelajaran tentang kehidupan. Dirinya menyadari sebanyak-banyak nya perbedaan dalam suatu tempat tetap terdapat kesamaan yang terjadi secara tidak langsung.

Label: , , ,

Jumat, 30 Juni 2023

Menuju Perjalanan Terakhir

Pagi yang cerah dengan pancaran surya yang tak lagi malu-malu memperlihatkan diri nya dengan begitu percaya diri, tidak seperti kemarin. Cahayanya menyengat kan semangat bagi siapapun yang berani bersyukur atas kemunculan dirinya bukan yang mengeluh dengan terik yang ia sengat kan menembus kulit. Hari ini kembali ku menyusuri jalan dengan menggunakan kendaraan umum yang di pesan melalui aplikasi, kemana lagi kaki ini akan melangkah?

Dua puluh menit dalam perjalanan aku sampai pada stasiun yang sama untuk pertama kali dalam beberapa hari kemarin aku datangi, Stasiun Yogyakarta. Kali ini aku akan menuju perjalanan terakhir yang telah aku lewati selama berhari-hari di kota orang, seorang diri. Kereta dalam kota yang akan mengantarkan ku akan tiba pukul 12.45 masih ada sepuluh menit lagi aku menunggu antrian bersamaan dengan orang lainnya yang ingin berkunjung kerumah sanak saudara ataupun kembali setelah berlibur bersama keluarganya di Malioboro.

Setelah menunggu akhirnya antrian di perbolehkan masuk langsung ke dalam gerbong kereta. Hari ini cukup padat, atau bahkan bisa dibilang sangat padat, mengingat bulan ini adalah bulan anak sekolah yang sedang berlibur setelah ujian tengah semester yang mereka jalani. aku memasuki gerbong yang padat dengan kerumunan orang-orang yang berhamburan menyerbu bangku kereta yang tersedia. Aku memilih untuk berdiri saja, mengingat perjalanan ku yang tak jauh, hanya akan melewati beberapa pemberhentian. Selain itu, banyak orang tua yang lebih layak untuk mendapatkan tempat duduk, dan ibu hamil, juga ibu yang membawa anaknya. terkadang kurangnya kesadaran dalam fasilitas kendaraan umum cukup memprihatinkan. Mereka yang lebih muda terkadang cukup tidak tahu diri untuk tidak memberi tumpangan pada orang tua yang lebih senja umurnya daripada mereka yang jauh lebih muda hanya untuk alasan perjalanannya jauh, dan alasan-alasan yang tidak masuk akal.

Perjalanan menggunakan kereta selalu menjadi hiburan tersendiri bagiku, ada sebuah rasa yang tak dapat dijelaskan ketika berada di dalam gerbong kereta, berdiri menatap keluar jendela bersandar pada pintu gerbong yang akan terbuka dan tertutup sesuai dengan tugasnya. Dengan pemandangan yang di suguhnyakan dari luar kereta, tidak tertinggal headset harus terpasang di kedua telinga dengan mendengar beberapa lagu favorite milik Bruno Mars. Sebenarnya ada rasa enggan untukku singgah di perjalanan terakhir ini, ada rasa emosi, sedih, gelisah, takut, kecewa yang masih membara dan belum reda untuk saat ini hanya saja tertutup oleh beberapa benda, padahal api di dalamnya masih menyala besar. Namun semua harus dikalahkan sebentar.

Di dalam gerbong, mungkin saking padatnya aku sampai sulit bernafas, layaknya oksigen yang tiba-tiba menghilang dan aku tidak mendapatkannya. sangat sesak dan ... terasa mau pingsan? entahlah aku belum pernah merasakan [pingsan, jadi tidak tahu sebelum pingsan itu rasanya seperti apa, tapi yang pasti tubuhku rasanya ingin jatuh saja. Mungkin juga sesaknya dadaku dikarena jaket hitam tebal yang aku pakai ini, cuaca cukup terik untuk hari ini, bodoh sangat memang memakinya pada siang yang menyengat ini, akhirnya aku melepas jaket menyebalkan itu, dan benar pernapasanku jauh lebih baik, seperti mendapat udara segar walaupun hanya sedikit. Ternyata kepadatan orang di kereta juga menjadi alasan.

Setelah melewati beberapa pemberhentian akhirnya kereta ini sampai di tujuan akhir yaitu Stasiun Jenar. segera ku melangkah untuk mencari jalan keluar, stasiun ini tidak besar, hanya stasiun singgah sepertinya dan tak banyak orang juga disini, bisa dibilang sangat sepi. hanya ada beberapa petugas kereta dan dua orang yang juga turun bersama dengan uku di stasiun ini. Di pintu keluar aku memutuskan duduk sebentar sebelum aku memesan kendaraan melalui aplikasi lagi untuk mengantarkan ku ke rumah ibu dari ibuku di kampung.

Label: , , ,

Selasa, 27 Juni 2023

Hujan dan Makana Tersirat dalam Setiap Rintiknya

Pagi ini cuaca berawan kelam, hanya tinggal menunggu air matanya jatuh saja membasahi bumi yang tandus ini. Dengan cuaca yang seperti ini rasanya tidak mendukung untuk berpergian kemanapun, beberapa tempat yang seharusnya aku kunjungi hari ini terancam batal, sayang sekali. Taman Sari, Keraton Yogyakarta dan Ruas Bambu Rusa, tempat yang sudah ku impikan untuk ku datangi ketika aku menginjakkan kaki di kota ini. Namun, sepertinya semesta belum mengizinkan aku untuk mengunjungi tempat itu.

Air mata dari langit itu kini telah jatuh dengan sangat deras. Hujan hari ini mengingatkan aku pada masa dimana dulu sangat menantikan hujan itu datang mengunjungi bumi, sesekali aku membuat beberapa puisi setiap kali hujan di pagi atau malam hari tiba, untukku rasanya ketika hujan datang disaat fajar yang malu untuk terbit dan bulan yang enggan menampakkan dirinya, membawa perasaan damai tersendiri dalam diri. Duduk di depan teras dengan hanya memandangi air langit yang jatuh dan menghantarkan aroma yang keluar saat air itu turun membasahi tanah yang tandus, menciptakan sebuah tenang yang tak dapat diterjemahkan, segala lelah, gundah dan gelisah sekaan menguap ke langit.

Hujan terkadang mengingatkan kita yang sedang bersedih untuk dapat meluapkan saja sekencang-kencangnya dan memberitahu bahwa sebuah air mata bukan pertanda lemahnya jati diri kita, dengan air mata yang keluar itulah yang akan membawa ketenangan dan akan menciptakan damai dalam diri sendiri terhadap segala permasalahan yang ada. Turunnya hujan juga mengingatkan kita kepada yang selalu bekerja keras dan melupakan diri sendiri bahwa tubuh kita ternyata juga butuh istirahat, dengan segala ambisius pada sesuatu hal yang ingin dicapai dan satu dua hal lainnya yang menyebabkan sesuatu itu untuk harus dicapai, terkadang membuat kita lupa bahwa tidak semua yang kita mau harus kita miliki, bahwa semua ada batasannya, bahwa semua juga harus dinikmati, dan semua tidak harus dijalani dengan berlari yang akibatnya membuat diri kita terengah-engah kehabisan tenaga.

Siapa tau jika menggapainya secara perlahan dan dilakukan dengan cara berjalan saja akan dapat juga pencapaian itu, namun, karena sikap kita yang kurang sabar dan selalu terburu-buru karena melihat sekitar kita telah telah lebih dulu mendapatkan semuanya kita jadi memaksakan diri untuk juga segera mendapatkan apa yang telah mereka dapat itu. Sayang sekali kita tidak menyadari atau bahkan lupa untuk menyadari bahwa jalan mereka bukan jalan yang harus kita lalui, lupa bahwa kita pun bisa membuat jalan kita sendiri dengan segala bentuk yang kita mau.

Tidak apa sebenarnya untuk sedikit terlambat, karena nyatanya yang berarti itu bukan tentang mendapatkannya melainkan proses dari setiap langkah menuju apa yang kita ingin dapatkan itu, itu lah yang akan mengajarkan kita cara menghargai pada setiap usaha yang diri ini maupun yang orang lain lakukan. Proses yang sulit akan lebih menyadarkan kita untuk tidak mudah menyerah, dan untuk tetap menghargai setiap jatuh bangunnya. karena itu lah yang akan membuat kita berkembang.

Label: , , ,

Senin, 26 Juni 2023

Swatantra di Kota Orang

Pagi hari ini cuaca cukup cerah, setelah tiba kemarin aku memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk memulihkan kembali jiwa hausan berkelana. Sesuai rencana hari ini aku mulai pergi menyambangi tempat-tempat yang telah menjadi tujuan dalam daftar list ku, hari pertama ini aku berencana mengunjungi tiga tempat, yaitu Galeri Oma, Gramedia Gedung Putih yang terletak di jalan Jendral Sudirman dan toko buku independen bernama Boekoe Theotraphi. 

Galeri Oma adalah sebuah tempat yang berisi furniture klasik, barang-barang lawas yang disimpan dan dipajang hingga membuatnya kini menjadi antik, dan utamanya mereka menjual berbagai model kebaya, namun bukan kebaya modern yang kebanyakan saat ini di jual melainkan kebaya tradisional yang sudah lawas naum cukup antik untuk di pakai di zaman sekarang. Aku mendapatkan satu baju kebaya yang sekiranya akan aku pakai sehari-hari, menurutku perempuan modern di zaman sekarang ketika memakai kebaya itu sangat antik dan unik sangat terlihat berbeda dengan kebanyakan orang, dan aku menyukainya.

Setelah mengunjungi Galeri oma aku berjalan kaki untuk dapat sampai ke Gramedia Gedung Putih, cukup menyenangkan bisa berjalan-jalan di kota orang dengan bebas namun tak memunafikkan ternyata cukup melelahkan juga. Sesampainya di Gramedia aku mulai berburu berjam-jam untuk dapat memilih buku mana yang akan aku asuh untuk ku bawa pulang dan ku nobatkan sebagai milikku, lalu aku mendapatkan satu buku dengan judul "Berani Tidak Disukai" hanya satu yang aku asuh dari Gramedia ini. Beranjak dari Gramedia Gedung Putih aku berkelana lagi untuk mengunjungi toko buku independen yaitu, Boekoe Theotraphi, toko buku yang selalu aku kunjungi ketika aku menginjakkan kaki ke Kota Istimewa ini. Kebanyakan buku nya bergenre sastra politik, ada pula beberapa fiksi, juga islami, feminisme, patriarki, jurnal dan masih banyak lagi.

Di Boekoe Theotraphi aku mengasuh tiga buku berjudul "Feminisme Sebuah Pengantar Singkat", "Book Writing for Popularity and Personal Branding", dan "Menuliskan Jejak Ingatan". Saking banyaknya buku yang berjejer dan tersusun rapi hingga ke atap membuatku lapar mata, rasanya ingin sekali mempunyai bangunan yang di dalamnya ada ruang penuh jendela dunia itu. Itu adalah mimpiku dan semoga saja akan tercapai. 

Lelah berkelana aku beristirahat sebentar di Jl. Malioboro sebuah tempat yang tak mungkin dilewatkan semua orang ketika menginjakkan kakinya di Jogja, sebuah tempat yang tak pernah bosan untuk ramai dikunjungi orang-orang. Aku mencari tempat duduk yang terlihat masih banyak yang kosong, mengingat hari masih terbilang siang, karena kebanyakan orang akan mengunjungi tempat ini pada sore menuju malam hari. Setelah mendapatkan tempat duduk aku mencoba untuk membuka beberapa buku yang telah aku beli tadi dengan sedikit membacanya, hanya sedikit. sekitar 160 halaman. 

Disini aku tidak membeli apa-apa selain minuman kopi hangat yang ku beli pada pedagang kakek tua renta yang berjualan di sekitar Jl. Malioboro. Rasanya sangat takjub melihat orang tua yang sudah belia masih semangat untuk mencari pundi agar dapat menghidupi keluarganya, terlihat lelah namun ia sangat semangat sekali menjalani pekerjaannya, seakan-akan keringatnya  menyampaikan bahwa usaha tidak mengenal usia, selagi kaki tangan dan seluruh tubuhmu masih dapat bergerak tidak ada alasan untuk menyerah. Ada rasa malu pada diri sendiri ketika melihat kakek itu, diri ini masih sering sekali mengeluh pada hal yang masih mudah untuk di lakukan seakan-akan telah memindahkan sebuah gunung ketempat yang lebih tinggi, berlebihan sekali, belum lagi terkadang rasa kurang bersyukur pada apa yang dipunya, rasanya diri ini selalu merasa kurang, padahal sebenarnya jauh dari kata cukup.

Perjalanan selalu menciptakan pengalaman, pengetahuan dan kesadaran yang baru pada diri sendiri. Setiap langkah dapat membuat sebuah cerita yang dapat dibagikan oleh orang banyak. Perjalanan selalu mengajarkan kita bahwa setiap detik yang kamu lakukan itu dapat membuat dampak besar pada diri kamu, jika kamu mau untuk menyadarinya. 

Label: , , ,