Selasa, 07 Januari 2025

Gotong Royong di Era Modern: Masihkah Menjadi Jiwa Masyarakat Indonesia?

Gotong royong adalah sebuah nilai yang sudah menjadi fondasi kehidupan di tengah masyarakat Indonesia untuk menghadapi tantangan besar di era modern. Berkembangnya sebuah nilai individualisme dan gaya hidup yang serba digital kini, membuat banyak pertanyaan, apakah nilai gotong royong masih relevan dan mampu bertahan di tengahnya.

Gotong royong sendiri merupakan sebuah budaya bekerja sama demi mencapai tujuan secara bersama tanpa mengharap imbalan dalam melakukannya. Konsep ini telah melekat kuat di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang mencerminkan bentuk empati, solidaritas, dan rasa tanggung jawab secara sosial.

Tradisi gotong royong dapat di lihat di berbagai kegiatan, seperti kerja bakti, membantu tetangga yang membutuhkan, atau gotong royong dalam membangun rumah.

Tantangan Budaya Gotong Royong di Era Modern

Terjadinya perubahan gaya hidup yang di kenal sebagai individualistis menjadi tantang utama dalam sebuah nilai gotong royong. Saat ini kebanyakan orang sudah lebih fokus pada kebutuhan pribadi, karier, atau keluarga inti sehingga hal ini mengurangi partisipasi dalam kegiatan sosial.

Majunya teknologi digital juga menjadi salah satu tantangan besar. Meskipun kehadiran teknologi digital saat ini banyak membantu aktivitas seseorang, salah satunya mempermudah dalam ranah komunikasi. Namun, hal ini menjadi peran yang dapat menggantikan manusia berinteraksi secara langsung. Platform daring membuat gotong royong berbasis fisik semakin jarang di temui.

Selain itu, urbanisasi telah membawa perubahan yang cukup signifikan dalam hidup masyarakat, terutama dalam aspek sosial dan budaya. Seperti contoh, di perkotaan interaksi antarwarga cenderung bersifat individualistik dan pragmatis, hal ini tentu berbeda dengan kebanyakan masyarakat yang ada di pedesaan, yang lebih menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong.

Contoh lain dari bentuk urbanisasi adalah banyaknya orang yang lebih memilih tinggal di apartemen atau perumahan dengan sistem keamanan yang tertutup sehingga intensitas komunikasi dan interaksi anatrtetangga menjadi sangat minim.

Hal ini kebalikan dengan suasana masyarakat di pedesaan yang gemar berkumpul di balai desa atau bekerja sama di sawah yang masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu Apakah Budaya Gotong Royong Tetap Ada?


Meskipun menghadapi tantangan dari gaya hidup yang individualis. Budaya gotong royong nyatanya tetap bertahan tidak hanya di pedesaan, tetapi di perkotaan gotong royong masih menjadi kegiatan yang hidup dan selalu dibutuhkan sesama masyarakat

Contoh gotong royong yang masih terjaga, yaitu seperti kegiatan kerja bakti yang masih terus di adakan baik di perumahan ataupun perkampungan, terutama menjelang musim hujan untuk dapat mengantisipasi banjir.

Selain itu, gotong royong juga masih terjaga bahkan berjalan beriringan dengan teknologi yang berkembang, contohnya dengan berbagai aplikasi yang digunakan untuk tempat penggalangan dana dengan berbagai kepentingan, seperti renovasi fasilitas umum, membantu dana untuk anak panti, atau membangun fasilitas di pelosok yang sulit terjangkau, dan masih banyak lagi. Dengan teknologi ini masyarakat bisa memanfaatkannya untuk membantu mereka yang membutuhkan dari jarak jauh.bn

Label: , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda