Senin, 20 Mei 2024

Bagaimana Mungkin Pernyataan 'Aku Bahagia' Menjadi Kalimat yang Semu

 


Jauh langkah berjejak untuk mencari kebahagiaan yang sebenarnya diri sendiri pun tidak mampu mengerti apa arti bahagia itu. 

Apa dengan menyendiri dan hanya ditemani angin adalah sebuah kebahagiaan? Karena kita merasa bahwa pikiran kita jauh lebih tenang ketika sunyi menjuntai. Namun, terkadang hal itu akan terasa sepi jika harus dilakukan setiap saat.
 
Oh, atau bahagia itu ketika bertemu dengan banyak orang yang mempunyai energi lebih banyak. Karena berpikir, kita akan tertular energi membahagiakan yang ia punya? Namun, jika terus menerus bukankah hal itu akan berbanding terbalik dengan terserapnya energi yang kita miliki? 

Apa sebuah kebahagian dengan memiliki barang yang diimpikan? Namun, bukankah rasa bahagia yang mengantarkan kepuasan dengan memiliki barang itu tidak akan lama? Bahkan mungkin akan tergantikan dengan barang-barang lain yang di kemudian hari kita inginkan.

Lalu apa bahagia itu dengan mendapatkan apa yang kita impikan selama ini, menjadi seorang yang hebat sesuai dengan impian-impian yang kita rangkai selama ini? Namun, bukankah pikiran dan imajinasi itu sifat nya tak terhingga? 

Ketika kita sudah mencapai titik dimana seharusnya ini adalah hal yang selama ini kita cari, kita nantikan, tapi malah kita merasa belum dan mengatakan bukan ini titik nya. Padahal jika menengok kebelakang, ya sudah benar.

Lalu apa sebenarnya arti bahagia itu? Apa benar pada kesunyian tanpa kebisingan? Atau pada kebisingan dengan dalih mengantarkan semangat? Atau dengan memiliki sesuatu? Atau juga dengan menjadi sesuatu? Namun, ketika tidak menjadi sesuatu atau menjadi siapa-siapa memangnya kenapa? Apa tidak bisa menjadi bahagia? Apa bahagia hanya ada di pikiran saja? Dengan berpikir kita bahagia maka sudah bahagia, Seperti itu kah? 

“Aku bahagia kok, aku senang. Aku … baik-baik saja, sedang tidak merasakan apa-apa. Aku bahagia.”

Mana ada jawaban atas pertanyaan bahagia atau tidak, adalah bahagia, tapi ia menjawabnya dengan matanya berkaca-kaca, walaupun tetap dengan senyuman.

Bagaimana bisa kalimat aku bahagia menjadi kalimat yang semu dan terkesan mengaku-akui.

Lalu kenapa pula bahagia adalah hal yang sebentar sedangkan kesedihan mempunyai waktu yang lebih lama untuk dirasakan?

Bahkan terkadang disaat merasa bahagia, tetap saja ada terselip rasa kesedihan yang entah pada saat itu ia muncul di permukaan secara terang-terangan atau bahkan hanya tertutupi oleh tawa, tapi tetap saja kesedihan itu ada.

Jika kebahagiaan adalah dengan menjadi sesuatu, menjadi siapa aku dimasa mendatang, tapi ... Jika tidak menjadi siapa-siapa nantinya memangnya kenapa? Memang tidak bisa untuk bahagia seperti ini saja? 

Lalu, sebenarnya bahagia itu seperti apa ...

Label: , , , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda