Minggu, 07 Juli 2024

Review Novel "L" karya Kristy Nelwan



Judul Buku              : L

Karya                       : Kristy Nelwan
Penerbit                   : PT Grasindo
Editor                       : A. Ariobimo Nusantara
Tahun Terbit            : Agustus 2008
Tebal Halaman        : VIII + 344

"L" merupakan sebuah novel romansa sederhana dengan berbagai permasalahan orang dewasa di dalamnya, kerumitan dalam mempercayai cinta, kerumitan mengungkapkan rasa hingga berujung pada penyesalan.

Novel "L" merupakan sebuah cerita tentang sosok perempuan bernama Ava Torino yang mempunyai misi cukup unik dalam hidupnya, dirinya berambisi untuk bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang bisa melengkapi daftar alfabet dari A sampai Z.

Semua sudah ia dapatkan bahkan dari alfabet tersulit yaitu X, dia sudah berhasil memacarinya sekaligus menjadikannya mantan. Satu huruf yang cukup lama ia tunggu dan tak juga kunjung dipertemukan adalah, laki-laki yang memiliki nama dengan alfabet L.

Hingga suatu hari ia mencoba kemustahilan yang bahkan dirinya tidak percaya, atas permintaan teman-teman satu kerjaannya. Hal itu adalah memegang tangan Buddha sambil melakukan make a wish yang dipercaya, jika kamu berhasil memegang tangan Buddha, maka keinginanmu akan terkabul. Seluruh rekan kerja Ava tidak ada yang berhasil saat melakukan itu.

Namun, lain halnya dengan Ava yang mengatakan jika hal tersebut tidak sulit untuk dilakukan, buktinya ia bisa dengan mudah memegang tangan Buddha, lalu Ava segera diminta untuk berdoa dan meminta satu keinginan. Ava mengikutinya dan meminta dalam hati untuk dipertemukan dengan L, "the Last" "the Love "the Last Love".

Akhirnya ia dipertemukan dengan seseorang yang mempunyai alfabet L, bernama Ludi yang bertemu dalam waktu yang terbilang berdekatan setelah dirinya melakukan kegiatan kemustahilan tersebut.

Namun, sebelum itu dirinya sempat bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat menarik, bernama Rei, Ava berharap pada saat itu laki-laki itu memiliki nama depan dengan alfabet L saja. Namun, tidak mungkin...

Berjalannya waktu, Ava dan Ludi menjalin hubungan. Ludi adalah seorang laki-laki yang sikap dan tindakannya diinginkan dan diimpikan oleh seluruh perempuan, termasuk Ava. 

Lambat laun, banyak yang berubah dalam kehidupan Ava setelah memegang tangan Buddha dan setelah pulang dari Jogja, yang bertemu Rei.

Pertemuannya dengan Rei tidak hanya sampai disitu, dirinya juga bertemu kembali dengan Rei di Bali, disinilah Ava memiliki waktu lebih banyak untuk dapat mengenal Rei. Rei sangat menghibur dirinya saat di Bali, ditengah pekerjaannya yang mendesak, urusan teman, sampai keterlambatan pesawat yang membuatnya ribut dengan pacarnya, Ludi.

Tak lama dari kepulangan dari Bali, Ava memilih keluar dari tempat kerjanya dan dirinya mendapat tawaran pada salah satu perusahan Creative, yang dimana ternyata menjadi satu tempat kerja dengan Rei.

Sejak di Bali Rei sudah selalu melarang keras keseharian Ava yang buruk yaitu, rokok dan alkohol. Padahal untuk pertama kali bertemu Rei, Ava mengenal nya sebagai laki-laki perokok aktif yang di kerjai teman-temannya karena hangover, hingga ia bisa sampai di Jogja.

Sampai saat Ava menjadi teman satu kerjanya Rei. Laki-laki itu tetap selalu melarang keras Ava dalam soal Rokok, Rei akan selalu menyembunyikan korek dan menghancurkan batang rokok yang dimiliki Ava.

Lain halnya dengan Ludi yang terkesan tidak masalah dengan hal itu, terkadang ink juga yang menjadi pertanyaan Ava. Namun semuanya ditepis dengan dalih Ludi adalah laki-laki baik yang bisa menerima Ava apa adanya, sampai Ava memutuskan menerima lamaran Ludi.

Ava pernah bertanya sekaligus bersyukur atas kehidupannya yang baik-baik saja. Namun, segalanya terjawab pada waktunya.

Dimana saat Ava sudah merubah kehidupannya,  sikap dan segala tindakan nya serta menghentikan pencarian nama alfabet untuk terakhir kalinya dan mencoba untuk merasakan cinta yang sebenarnya bersama Ludi. 

Ava bukan lagi perempuan yang selalu menganggap ringan suatu hubungan yang hanya dihadiri dengan "jadian dan putus". Dirinya mencoba untuk menjadi serius dalam hubungan dan percaya pada pasangan.

Namun, saat itu tiba, Ava tidak menyadari jika karma tidak mengenal batas waktu. Rahasia besar terbuka di penghujung kehidupan Ava menuju hari H tunangannya dengan Ludi dan penghujung kebersamaannya dengan Rei, segalanya menjadi sebuah kelegaan sekaligus penyesalan terdalam selama hidupnya bagi Ava Torino.


....


Ketika kamu disakiti 20% jangan pernah membalasnya 1% pun dengan tindakan apapun apalagi sampai 100%, karna 20% itu akan berbalik ke kamu. Mungkin kecil angkanya, tapi besar rasanya di kamu itu, infinity. Karma itu pasti ada dan itu akan terus berulang-ulang jika kamu terus membalas karma yang seharusnya bukan tugas kamu untuk membalasnya.

Sakit hatinya manusia pada setiap tindakan dan perkataan yang kita lontarkan itu yang paling bahaya adalah ketika dia tidak mengatakannya.

Lebih mengecewakannya lagi, seringnya karma datang disaat kita sudah mulai menyesalinya dan berharap mengubah perilaku dan tindakan akan terhindar dari karma. Namun, karma itu sendiri tau jika dia tidak datang, perubahanmu tidak bisa terjadi begitu saja.



Label: , , , ,

Senin, 20 Mei 2024

Bagaimana Mungkin Pernyataan 'Aku Bahagia' Menjadi Kalimat yang Semu

 


Jauh langkah berjejak untuk mencari kebahagiaan yang sebenarnya diri sendiri pun tidak mampu mengerti apa arti bahagia itu. 

Apa dengan menyendiri dan hanya ditemani angin adalah sebuah kebahagiaan? Karena kita merasa bahwa pikiran kita jauh lebih tenang ketika sunyi menjuntai. Namun, terkadang hal itu akan terasa sepi jika harus dilakukan setiap saat.
 
Oh, atau bahagia itu ketika bertemu dengan banyak orang yang mempunyai energi lebih banyak. Karena berpikir, kita akan tertular energi membahagiakan yang ia punya? Namun, jika terus menerus bukankah hal itu akan berbanding terbalik dengan terserapnya energi yang kita miliki? 

Apa sebuah kebahagian dengan memiliki barang yang diimpikan? Namun, bukankah rasa bahagia yang mengantarkan kepuasan dengan memiliki barang itu tidak akan lama? Bahkan mungkin akan tergantikan dengan barang-barang lain yang di kemudian hari kita inginkan.

Lalu apa bahagia itu dengan mendapatkan apa yang kita impikan selama ini, menjadi seorang yang hebat sesuai dengan impian-impian yang kita rangkai selama ini? Namun, bukankah pikiran dan imajinasi itu sifat nya tak terhingga? 

Ketika kita sudah mencapai titik dimana seharusnya ini adalah hal yang selama ini kita cari, kita nantikan, tapi malah kita merasa belum dan mengatakan bukan ini titik nya. Padahal jika menengok kebelakang, ya sudah benar.

Lalu apa sebenarnya arti bahagia itu? Apa benar pada kesunyian tanpa kebisingan? Atau pada kebisingan dengan dalih mengantarkan semangat? Atau dengan memiliki sesuatu? Atau juga dengan menjadi sesuatu? Namun, ketika tidak menjadi sesuatu atau menjadi siapa-siapa memangnya kenapa? Apa tidak bisa menjadi bahagia? Apa bahagia hanya ada di pikiran saja? Dengan berpikir kita bahagia maka sudah bahagia, Seperti itu kah? 

“Aku bahagia kok, aku senang. Aku … baik-baik saja, sedang tidak merasakan apa-apa. Aku bahagia.”

Mana ada jawaban atas pertanyaan bahagia atau tidak, adalah bahagia, tapi ia menjawabnya dengan matanya berkaca-kaca, walaupun tetap dengan senyuman.

Bagaimana bisa kalimat aku bahagia menjadi kalimat yang semu dan terkesan mengaku-akui.

Lalu kenapa pula bahagia adalah hal yang sebentar sedangkan kesedihan mempunyai waktu yang lebih lama untuk dirasakan?

Bahkan terkadang disaat merasa bahagia, tetap saja ada terselip rasa kesedihan yang entah pada saat itu ia muncul di permukaan secara terang-terangan atau bahkan hanya tertutupi oleh tawa, tapi tetap saja kesedihan itu ada.

Jika kebahagiaan adalah dengan menjadi sesuatu, menjadi siapa aku dimasa mendatang, tapi ... Jika tidak menjadi siapa-siapa nantinya memangnya kenapa? Memang tidak bisa untuk bahagia seperti ini saja? 

Lalu, sebenarnya bahagia itu seperti apa ...

Label: , , , , ,

Senin, 25 Maret 2024

Saat Jeritan Terbungkam, Pena Selalu Menjadi Saksi



Seringkali diri merasa ingin menyerah. Namun, apa boleh? Bahkan hanya sekedar ingin mengeluh saja diri ini merasa tidak pantas, disaat masih banyak diluar sana yang pundaknya lebih berat, tapi tidak pernah mengeluarkan suara, beribu benda tajam menghunus tubuhnya pun, jeritan tak pernah terdengar keluar dari mulutnya.

Lalu, jika diri ini hanya tertusuk sebuah duri tajam. Apakah pantas untuk menjerit demi menerjemahkan sakitnya?

Banyak hal yang membuat segalanya tertahan, hanya karena diri ini tidak cukup mampu atau bahkan tidak cukup sakit untuk menceritakan pedihnya.

Perkataan, apa perlu? apa pantas? apa tahu diri? terkadang selalu terngiang di telinga tanpa henti, yang mengartikan bahwa diri ini tidak pernah baik-baik saja setiap harinya.

Semua hanya topeng yang harus dipakai demi terlihat tak apa, demi terlihat tidak lemah di mata orang yang dipaksa untuk kuat pula.

Tak pernah sekalipun goresan-goresan itu menghilang atau bahkan sembuh, hanya saja bedak atau foundation yang menutupinya dengan berhasil.

Tak pernah ada ruang dan wadah untuk sekedar mengatakan diri  ini payah.

Sekalipun harus merasakan hal itu, hari tetap saja terus berganti, detik tetap berjalan tanpa henti, mereka tidak mengenal kamu kenapa, kamu siapa, dan bagaimana keadaanmu.

Waktu juga berjalan sesuai yang telah dikehendaki. Barangkali ia juga terkadang merasa lelah untuk terus berjalan.

Namun, apa boleh buat? mereka sudah ditugaskan untuk terus memutar demi mengejar manusia lambat yang harus berlomba mencapai titik yang dituju, tanpa ingin tahu sebanyak apa luka mu dalam perjalanan, seberapa banyak kamu mengalami mati suri di setiap langkah yang kamu pijak.

Bagaimanapun memang semua harus berjalan seadanya. Jika mereka tak mampu untuk mendengar ceritamu ya tak apa, jika mereka tak mampu mengerti keadaanmu yasudah dan  jika memang tak ada wadah untuk sekedar bersuara biarlah.

Jika segala yang kamu ingin dapatkan dari seseorang tak pernah ada, menulis lah. 

Karena hanya dengan menulis suaramu dapat dengan lantang menceritakan segalanya, tanpa perlu terdengar suara orang yang malah mengadu nasib, tanpa perlu mendengar orang yang seakan-akan menghakimi baik buruknya kisahmu.

Hanya dengan menulis suaramu akan dimengerti, ruang kosong dalam dirimu dapat terisi dengan berbagai warna, di setiap diksi yang kau ciptakan dan gurat-gurat warna dalam sebuah kata-kata yang menjadikannya kalimat yang mempunyai warnanya sendiri.

Jika tidak sekarang, mungkin suatu saat nanti, melalui tulisanmu orang dapat memahami. Jika pun hari itu tidak pernah datang, yasudah, terpenting adalah kamu dapat mengerti dirimu sendiri dan kamu selalu menjadi wadah untuk dirimu sendiri, dan Setidaknya, kamu masih membersamai dirimu.

Label: , ,

Senin, 19 Februari 2024

Jika Bukan Kamu Lalu Siapa Lagi?

  

Hidup adalah sebuah perjalanan, entah bagaimana akhirnya yang harus dinikmati adalah prosesnya. Jatuh bangun dalam segala hal adalah sesuatu yang biasa dan terpenting adalah bagaimana kamu bisa membangun pondasi terkuatmu, pondasi yang di bangun untuk dirimu sendiri kelak, karena di depan sana kita tidak tau apa yang akan terjadi, entah menemui danau dan harus berenang menyebranginya, entah pula menemukan pohon tumbang yang harus kita singkirkan untuk kita bisa melewatinya atau bahkan bukit tinggi yang harus kita daki berapapun ketinggiannya.

Lalu mungkin saja di dalam bukit itu terdapat banyak jurang, entah berapa kali kita harus terpelosok kedalam jurang itu, sampai akhirnya dapat menemui tujuan dan mendapatkan apa yang di cari.

Jika dalam perjalanan dan proses itu kamu tidak mempunyai pondasi yang kuat, kamu akan gagal dan hidupmu terhenti disana, padahal seharusnya tidak. Kaki mu masih baik-baik saja, hanya lecet tertusuk ranting pohon dan kamu masih bisa berjalan untuk dapat menemukan obat dan menyembuhkan lukamu. Namun, kamu kalah dengan dirimu sendiri yang sudah lebih dulu mengatakan "tidak bisa."

Maka dari itu jadilah yang terkuat versi dirimu sendiri, bangunlah pondasi itu sekuat yang kamu bisa. Jikalau nanti kamu terjatuh, kamu tidak ragu untuk bangun lagi, karena jika bukan kamu orangnya lalu siapa lagi yang bisa menolong dirimu sendiri pada hal terburuk yang menimpa mu nanti.

Pada akhirnya pula, suatu saat nanti kamu hanya akan menemukan dirimu sendiri. Hanya sendiri.

Label: , ,

Kamis, 15 Februari 2024

Review Buku "Besali" karya Shabrina Ws.

Untuk Seseorang yang datang, yang singgah dan yang pergi, ada yang bertahan menjadi peneduh bagi segala musimmu

Kehilangan untuk yang kedua kali pada orang yang sangat berarti dalam hidup adalah sebuah pukulan telak yang tak mampu terelakan. Lohita Sasi seorang gadis yang telah kehilangan ibunya dan bertahan hidup bersama ayahnya yang selalu menyayanginya serta meneguhkannya atas kehilangan yang telah merenggut perempuan yang mereka cintai yaitu Ibu Lohita. Namun, semua kehilangan rasanya sangat lengkap setelah Lohita juga harus kehilangan Ayah nya di saat dirinya masih sangat membutuhkan sosok orang tua yang menyayanginya.

Sebelum kepergiannya Ayah Lohita meninggalkan secarik kertas yang berisi pesan untuk dapat mempertahankan Besali (Bengkel pandai besi) yang telah menghidupi keluarganya selama ini dan salah satu yang dapat menghidupi kembali Besali tersebut adalah seorang laki-laki bernama Sapta yang telah bekerja dengan Ayah Lohita sejak ia menduduki bangku SMK, seorang laki-laki yang sangat dipercayai Ayah Lohita dan mampu memangku tanggung jawabnya untuk mengurus Besali.

Lohita sendiri bukanlah anak tunggal, ia merupakan anak bungsu dari keempat kakak laki-lakinya yang lebih memilih merantau untuk bekerja ke kota, karena mereka tidak ingin berurusan langsung dengan Besali. Jarak yang cukup jauh antara umur Lohita dengan kakak-kakaknya membuat Lohita tidak dekat dengan mereka berempat, di tambah pula kehadiran mereka yang hanya beberapa kali dalam sebulan untuk pulang mengunjungi keluarga.

Tanggung jawab menghidupkan Besali juga bukan hal yang mudah bagi Lohita. Dimana hal itu berarti dirinya harus menemui dan berbicara langsung dengan Sapta teman masa kecilnya yang kini hubungan mereka sudah sangat menegang. Tidak ada lagi percakapan dan canda tawa yang sering mereka lakukan dulu. Dan Lohita sendiri lah yang membangun tembok pemisah itu, sedangkan Sapta masih sama seperti yang perempuan itu kenal sejak dulu. Sapta adalah laki-laki yang banyak bicara, cuek namun sangat perhatian. Ada hal yang membuat Lohita harus menjaga jarak dari Teman masa kecilnya itu.

Selama memikirkan bagaimana cara menghidupkan Besali selain harus berbicara dengan Sapta, akhirnya Lohita dibantu oleh laki-laki bernama Rey, seorang penulis yang kerap kali mampir ke toko buku mandiri milik Lohita. Rey adalah seorang perantau yang bekerja sebagai penyiar radio dan diselingi oleh kegiatan menulis. Rey mempunyai ide untuk memasang iklan lowongan pekerjaan di Besali milik Ayah Lohita, meski Rey pun awalnya memberi masukan untuk dapat memanggil kembali pekerja terdahulu yang pernah bekerja bersama Ayah Lohita daripada harus mengangkat orang baru. Namun, Lohita masih tetap ragu untuk memikirkan hal itu.

Pada akhirnya di seratus hari kepergian Ayahnya Lohita sudah harus membuat keputusan. Berulang kali para pelanggan yang memesan Besi di tempat Ayahnya menanyakan akan dibukanya Toko pandai besi itu dan terpaksa Lohita harus menjawab dengan nada kebingungan.

Kisah Lohita dan keluarga nya adalah cerita yang sangat menyentuh, rumah yang biasanya ramai dengan suara Ayah dan Ibunya kini hanya tinggal sunyi tanpa bising. Bukan hal yang mudah bagi Lohita harus hidup tanpa kedua orang tuanya serta jauh dari keempat saudara kandungnya yang merantau di kota.

Kisah Lohita, Sapta dan Rey juga merupakan sebuah romansa yang dikemas secara sederhana dan tidak muluk-muluk. Namun, tetap dengan gaya percintaan masa remaja yang ada di tahun yang lebih baru ini

 Konflik yang dibuat penulis sangat jelas dan tertata dengan rapi, serta rasa yang disampaikan penulis melalui kalimat nya sangat berhasil dalam membuat pembaca merasakan seperti ada di suasana dan menjadi tokoh dalam tulisannya.

Label: , , , ,

Rabu, 07 Februari 2024

Review Buku "Manusia Langit" karya J. A. Sonjaya

Novel ini berkisah tentang sebuah pembelajaran hidup yang dialami secara langsung, pembelajaran hidup sesungguhnya yang kerap kali di dapat di ruang-ruang informal.

Novel Manusia Langit mempunyai tokoh yang menonjol, diantaranya Mahendra yang merupakan seorang dosen di sebuah kampus di Jogja, Yasmin yang merupakan mahasiswa yang memiliki pemikiran kritis, Ama Budi seorang laki-laki yang berasal dari tanah Nias dan sudah dianggap seperti ayah bagi Mahendra, serta Sayani yang merupakan anak dari Ama Budi

Cerita ini berawal dari sebuah kota bernama Yogyakarta, kota dimana sebuah cerita sampai akhir yang berkesinambungan.

Mahendra merupakan dosen arkeolog muda yang digemari oleh para mahasiswa karena gaya belajarnya yang santai dan mampu membuat mahasiswa berpikir seluas samudra dan mengungkapkan pikiran mereka bagai burung yang terbang secara bebas, seringkali ia melanjutkan pembelajaran di luar ruang kelas yang menurutnya terlalu membosankan dan terpaku pada aturan tak tertulis yang menyempitkan pikiran.

Saat dirinya menjadi dosen di sebuah kampus Yogya, ia bertemu dengan Yasmin yang merupakan mahasiswanya sendiri. Yasmin merupakan seorang perempuan yang cerdas dan berpikir kritis, terdapat banyak kesembunyian yang tertutup dalam dirinya. Perempuan yang setiap hari nya menggunakan Jilbab saat di Kampus itu membuat Mahendra tercengang sedikit saat dirinya menemukan Yasmin di sebuah tempat Billiard, Mahendra seperti melihat orang yang berbeda dalam diri Yasmin.

Namun, hal tersebut malah membuat Mahendra tertarik, Yasmin selalu mengatakan jika "seseorang sering kali tidak bisa keluar dari identitas dan nilai-nilai yang mengikatnya" (hal 42).

Yasmin selalu merasa jika di tempat biliar dirinya bisa menjadi apa yang dia inginkan, ia bisa menjadi dirinya sendiri, dapat mengendalikan sebuah permainan dan menentukan sendiri bola harus diarahkan ke mana.

Perjalanan kisah Mahendra dengan Yasmin nyatanya tidak berhenti sampai disitu, Mahendra sadar jika dirinya sudah jatuh cinta dengan mahasiswanya sendiri dan Yasmin pun merasakan hal yang sama. Hingga suatu kejadian di sebuah kost yang ditinggali oleh Yasmin membuat semua nya berubah.

Mahendra kehilangan kabar Yasmin sampai suatu hari ia mendapat kabar jika Yasmin telah mengandung dan Yasmin mengatakan untuk tidak perlu mencarinya, karena Yasmin akan menjaga nama baiknya sebagai seorang dosen.

Tak sampai disitu letak keterpurukan Mahendra, seorang mahasiswa mengabarkan jika diduga Yasmin telah mati dengan cara bunuh diri. Mahendra hancur, padahal ia siap bertanggung jawab atas hal tersebut. Namun, Yasmin memilih untuk mempertaruhkan nyawanya demi menjaga harga diri Mahendra.

Percampuran rasa yang ada dalam diri Mahendra ia bawa lari ke sebuah tempat yang jauh dari perkotaan, tersembunyi, masih alami dengan kekukuhan adatnya, Tanah Nias. Tempat Mahendra melarikan diri dari segala masalah, rasa sakit, kecewa dan seluruh ras yang tak mampu diterjemahkan atas segala hal tentang perempuan bernama Yasmin ia bawa hingga ke tanah Nias tepatnya di desa Banuaha.

Di Banuaha Mahendra bukan hanya seorang laki-laki yang tak mempunyai tujuan, disana ia juga sambil menjalani profesinya sebagai arkeolog dengan terus mengidentifikasi fosil dan apapun penemuan yang tersembunyi di tanah Nias.

Di sana lah dirinya bertemu seorang laki-laki yang sudah berumur bernama Ama Budi, Ama Budi merupakan keluarga ynag berasal dari keluarga Hia dan Marga Hia sangat dihormati karena dianggap sebagai tertua di Nias

Sedangkan Sayani adalah anak laki-laki yang menemukan Hendra seperti orang hilang di Pasar Gomo, Sayani lah yang setiap harinya menamani Hendra melakukan penelitian untuk mencari penemuan baru yang telah terkubur atau terpendam beratus tahun lamanya

Banuaha telah memberinya banyak pembelajaran tentang kehidupan. Dirinya menyadari sebanyak-banyak nya perbedaan dalam suatu tempat tetap terdapat kesamaan yang terjadi secara tidak langsung.

Label: , , ,

Kamis, 15 Juni 2023

Benang Kusut dalam Diri

    Kosong, hilang arah, gundah ada sedikit perasaan tidak nyaman menjadi diri sendiri sekarang, terasa tidak mampu, terasa sangat kecil, terasa lebih besar suara yang keluar daripada bukti nyata. perasaan yang sebenarnya sulit dijelaskan dengan tepat apalagi harus di tuliskan dengan benar, yang membaca dan mendengarnya pun akan kebingungan, karena diri ini pun bingung. Bingung pada segala hal. raga ini ada namun seperti mengambang, melayang, hanya mengikuti tiupan angin tanpa perlawanan.

Tapi seharusnya tidak seperti ini, seharusnya bisa melawan, jika pun tidak seharusnya bisa menghentikan, namun apa yang harus dihentikan dan apa yang harus di mulai? Andai saja ada sebuah alat yang dapat menerjemahkan isi pikiran, kurasa itu sangat membantuku untuk dapat bercerita, untuk dapat meluapkan. Terkadang harus di paksa orang untuk bercerita, katanya aku ini terlalu tertutup, katanya aku ini tidak percaya kepadanya. Namun, bukan itu alasannya. Bagaimana aku bisa bercerita yang bahkan diriku sendiri saja sulit untuk mengetahui apa yang sedang dirasakan diriku saat ini dan saat saat yang lain. 

Terkadang tidak ada kata-kata yang dapat ku temukan untuk dapat ku ucapkan atau dapat ku tuliskan mengenai keadaan ku, dan apa yang aku pikirkan juga yang aku rasakan. seolah-olah isi dalam diriku ini seperti benang kusut yang sulit terurai lurus kembali menemui arahnya, sulit menemukan jalannya. Terkadang diri ini lelah, namun entah apa yang di rasa lelah itu sendiri, terkadang kepala ini rasanya berisik sekali tapi entah apa yang disebut suara-suara yang ada di kepala itu. terkadang hati ini sesak sekali hingga hitungan detik nafas seperti terhenti di tenggorokan. namun entah apa sebabnya.

Namun satu hal yang ku tahu dari perasaan yang tak dapat dijelaskan itu, sebetulnya aku memang lelah, meski tidak tau apa arti dari lelah yang ku artikan ini, dan sebenarnya sangat tidak pantas diri ini sampai mengucapkan lelah, mengingat orang tua yang selalu bekerja keras untuk segala kebutuhan yang memenuhi ku, memenuhi keluarga ini agar tetap berdiri kokoh, itu adalah lelah yang sebenarnya namun, mereka tidak pernah mengatakannya. Sombong dan tidak tahu diri sekali aku yang tidak berbuat apa-apa ini (belum) bisa mengatakan lelah yang padahal tidak tahu letak lelahnya dari hal apa.

Label: , ,