Kamis, 29 Februari 2024

Selimut di Pesisir Pantai (Puisi)

                                                

 

layaknya ombak yang menepi pada pesisir

memberi isyarat dalam hadirnya hanya sekejap


buih ombak yang bergelombang

bersanding dengan senja

begitu menyejukkan mata


senja di tepi pantai selalu mempunyai cerita

cerita yang kerap kali di bawa pergi oleh gelombang

tak ayal akan kembali lagi ke permukaan

 

untuk menjadikannya

kisah dalam kasih

terkurung abadi

dalam rindu yang menggebu

Label: , ,

Senin, 26 Februari 2024

Jika Tidak Cukup Mengerti, Cukup Dengar dan Hargai Saja

Semua memiliki warnanya masing-masing, tidak seluruh akan putih atau akan hitam. Hidup mereka adalah milik mereka begitupun sebaliknya, hidupmu hanya milik mu. Namun, terkadang tidak ada salahnya mereka berbagi tentang kehidupannya, tentang bahagia nya atau bahkan tenang lukanya, tentang jerit tangisnya, frustasinya atau gelak tawa kebahagiaannya.

Seringkali didapat perbedaan cara pandang antara seseorang yang bercerita dengan pendengarnya. Hal itu wajar, karena setiap kamu memiliki mata masing-masing. Jika apa yang mereka utarakan tidak mampu kamu terima, tidak ada salahnya tetap mendengar bukan?

Mungkin saja kepalanya terlalu berisik sehingga pikirannya kacau untuk sekedar menyampaikan apa yang dimaksud, tidak perlu pula kamu membandingkan kebisingan pada setiap manusia. Karena dalam hidupnya  mereka lah yang menjalani, bukan kamu atau yang lainnya.

Kamu bahkan tidak tahu betapa besar usahanya selama ini untuk menutupi kelemahannya dan menyingkirkan ketidakpercayaannya pada setiap orang untuk hanya sekedar bercerita.

Setiap orang memiliki ceritanya masing-masing dan dalam ceritanya mereka adalah pemeran utamanya, jika mereka merasa tidak nyaman dengan yang mereka jalani, tidak perlu dibandingkan. Karena hanya mereka yang memahami.

Cukup dengarkan dan hargai saja perbedaannya, karena di beberapa kesempatan mungkin kamu tidak menyadari, bahwa telinga dan diam bisa menjadi hal yang paling besar harganya dibanding organ tubuh dan tindakan yang lain.

Label: ,

Kamis, 22 Februari 2024

Semburat Senja (Puisi)

matahari bergerak ke ufuk timur

menjadikan pantulan senja bercahaya

mengkilap pada ombak yang menyentuh bibir pantai


aku duduk terdiam dalam hamparan pasir pantai

beralaskan sandal yang ku pakai


menikmati senja dengan putaran memori

yang berisi tentang mu memenuhi isi kepala


senja tidak pernah mampu untuk membuat lupa

datangnya kamu kepada senja 

dan niatmu untuk dapat melupa

hanyalah sebuah diksi yang menjanjikan ingkar


senja akan mempertajam ingatan mu 

kepada siapapun yang ingin kau lupakan


namun senja tak pernah ingkar janji

untuk hadir dan menciptakan keindahan

pada setiap mata yang memandangnya


sebagai isyarat bahwa berakhirnya hari

entah bahagia atau bahkan terluka

harus ditutup dengan senyuman

Label: , , ,

Senin, 19 Februari 2024

Jika Bukan Kamu Lalu Siapa Lagi?

  

Hidup adalah sebuah perjalanan, entah bagaimana akhirnya yang harus dinikmati adalah prosesnya. Jatuh bangun dalam segala hal adalah sesuatu yang biasa dan terpenting adalah bagaimana kamu bisa membangun pondasi terkuatmu, pondasi yang di bangun untuk dirimu sendiri kelak, karena di depan sana kita tidak tau apa yang akan terjadi, entah menemui danau dan harus berenang menyebranginya, entah pula menemukan pohon tumbang yang harus kita singkirkan untuk kita bisa melewatinya atau bahkan bukit tinggi yang harus kita daki berapapun ketinggiannya.

Lalu mungkin saja di dalam bukit itu terdapat banyak jurang, entah berapa kali kita harus terpelosok kedalam jurang itu, sampai akhirnya dapat menemui tujuan dan mendapatkan apa yang di cari.

Jika dalam perjalanan dan proses itu kamu tidak mempunyai pondasi yang kuat, kamu akan gagal dan hidupmu terhenti disana, padahal seharusnya tidak. Kaki mu masih baik-baik saja, hanya lecet tertusuk ranting pohon dan kamu masih bisa berjalan untuk dapat menemukan obat dan menyembuhkan lukamu. Namun, kamu kalah dengan dirimu sendiri yang sudah lebih dulu mengatakan "tidak bisa."

Maka dari itu jadilah yang terkuat versi dirimu sendiri, bangunlah pondasi itu sekuat yang kamu bisa. Jikalau nanti kamu terjatuh, kamu tidak ragu untuk bangun lagi, karena jika bukan kamu orangnya lalu siapa lagi yang bisa menolong dirimu sendiri pada hal terburuk yang menimpa mu nanti.

Pada akhirnya pula, suatu saat nanti kamu hanya akan menemukan dirimu sendiri. Hanya sendiri.

Label: , ,

Kamis, 15 Februari 2024

Review Buku "Besali" karya Shabrina Ws.

Untuk Seseorang yang datang, yang singgah dan yang pergi, ada yang bertahan menjadi peneduh bagi segala musimmu

Kehilangan untuk yang kedua kali pada orang yang sangat berarti dalam hidup adalah sebuah pukulan telak yang tak mampu terelakan. Lohita Sasi seorang gadis yang telah kehilangan ibunya dan bertahan hidup bersama ayahnya yang selalu menyayanginya serta meneguhkannya atas kehilangan yang telah merenggut perempuan yang mereka cintai yaitu Ibu Lohita. Namun, semua kehilangan rasanya sangat lengkap setelah Lohita juga harus kehilangan Ayah nya di saat dirinya masih sangat membutuhkan sosok orang tua yang menyayanginya.

Sebelum kepergiannya Ayah Lohita meninggalkan secarik kertas yang berisi pesan untuk dapat mempertahankan Besali (Bengkel pandai besi) yang telah menghidupi keluarganya selama ini dan salah satu yang dapat menghidupi kembali Besali tersebut adalah seorang laki-laki bernama Sapta yang telah bekerja dengan Ayah Lohita sejak ia menduduki bangku SMK, seorang laki-laki yang sangat dipercayai Ayah Lohita dan mampu memangku tanggung jawabnya untuk mengurus Besali.

Lohita sendiri bukanlah anak tunggal, ia merupakan anak bungsu dari keempat kakak laki-lakinya yang lebih memilih merantau untuk bekerja ke kota, karena mereka tidak ingin berurusan langsung dengan Besali. Jarak yang cukup jauh antara umur Lohita dengan kakak-kakaknya membuat Lohita tidak dekat dengan mereka berempat, di tambah pula kehadiran mereka yang hanya beberapa kali dalam sebulan untuk pulang mengunjungi keluarga.

Tanggung jawab menghidupkan Besali juga bukan hal yang mudah bagi Lohita. Dimana hal itu berarti dirinya harus menemui dan berbicara langsung dengan Sapta teman masa kecilnya yang kini hubungan mereka sudah sangat menegang. Tidak ada lagi percakapan dan canda tawa yang sering mereka lakukan dulu. Dan Lohita sendiri lah yang membangun tembok pemisah itu, sedangkan Sapta masih sama seperti yang perempuan itu kenal sejak dulu. Sapta adalah laki-laki yang banyak bicara, cuek namun sangat perhatian. Ada hal yang membuat Lohita harus menjaga jarak dari Teman masa kecilnya itu.

Selama memikirkan bagaimana cara menghidupkan Besali selain harus berbicara dengan Sapta, akhirnya Lohita dibantu oleh laki-laki bernama Rey, seorang penulis yang kerap kali mampir ke toko buku mandiri milik Lohita. Rey adalah seorang perantau yang bekerja sebagai penyiar radio dan diselingi oleh kegiatan menulis. Rey mempunyai ide untuk memasang iklan lowongan pekerjaan di Besali milik Ayah Lohita, meski Rey pun awalnya memberi masukan untuk dapat memanggil kembali pekerja terdahulu yang pernah bekerja bersama Ayah Lohita daripada harus mengangkat orang baru. Namun, Lohita masih tetap ragu untuk memikirkan hal itu.

Pada akhirnya di seratus hari kepergian Ayahnya Lohita sudah harus membuat keputusan. Berulang kali para pelanggan yang memesan Besi di tempat Ayahnya menanyakan akan dibukanya Toko pandai besi itu dan terpaksa Lohita harus menjawab dengan nada kebingungan.

Kisah Lohita dan keluarga nya adalah cerita yang sangat menyentuh, rumah yang biasanya ramai dengan suara Ayah dan Ibunya kini hanya tinggal sunyi tanpa bising. Bukan hal yang mudah bagi Lohita harus hidup tanpa kedua orang tuanya serta jauh dari keempat saudara kandungnya yang merantau di kota.

Kisah Lohita, Sapta dan Rey juga merupakan sebuah romansa yang dikemas secara sederhana dan tidak muluk-muluk. Namun, tetap dengan gaya percintaan masa remaja yang ada di tahun yang lebih baru ini

 Konflik yang dibuat penulis sangat jelas dan tertata dengan rapi, serta rasa yang disampaikan penulis melalui kalimat nya sangat berhasil dalam membuat pembaca merasakan seperti ada di suasana dan menjadi tokoh dalam tulisannya.

Label: , , , ,

Hantu-Hantu dalam Pikiran

Terkadang ketakutan yang kerap kali muncul disaat tidak pasti adalah kita sendiri yang mengundangnya, kita lah yang memberi masuk bahkan membuat ketakutan itu mengguratkan dengan bebas penanya dalam pikiran kita. Sehingga seringkali kita malah menduga-duga hal yang belum pasti akan terjadi.

Tidak salah untuk bersikap waspada. Namun, jika sikap waspada itu malah membatasi diri kita mungkin itu yang perlu dikoreksi. Sikap ketakutan atau overthiking yang berlebihan sangat tidak dianjurkan untuk terus ditumbuhi dan disirami setiap waktu. Karena hal tersebut sudah dipastikan sangat merugikan.

Ruang gerak yang kita lakukan jadi terbatas, sebab rasa takut yang sudah lebih mendahului daripada kaki yang melangkah. Seharusnya kedua hal tersebut bisa berjalan beriringan, rasa takut dapat digantikan dengan sikap waspada yang tidak berlebih dan kaki harus tetap berjalan. 

Jika ketakutan dalam diri terus dibiarkan, kamu tidak akan menumbuhkan nilai dirimu sendiri, melainkan malah akan menciptakan seorang pecundang dalam dirimu, tentu setiap orang tidak ingin dirinya disebut pecundang. 

Maka dari itu segeralah hempaskan hantu-hantu yang berterbangan dalam akal pikiran, ubah ketakutan mu menjadi sebuah sikap waspada yang bisa kamu gunakan untuk tetap berhati-hati dalam setiap langkah yang kamu pijak.

Label: ,

Rabu, 07 Februari 2024

Review Buku "Manusia Langit" karya J. A. Sonjaya

Novel ini berkisah tentang sebuah pembelajaran hidup yang dialami secara langsung, pembelajaran hidup sesungguhnya yang kerap kali di dapat di ruang-ruang informal.

Novel Manusia Langit mempunyai tokoh yang menonjol, diantaranya Mahendra yang merupakan seorang dosen di sebuah kampus di Jogja, Yasmin yang merupakan mahasiswa yang memiliki pemikiran kritis, Ama Budi seorang laki-laki yang berasal dari tanah Nias dan sudah dianggap seperti ayah bagi Mahendra, serta Sayani yang merupakan anak dari Ama Budi

Cerita ini berawal dari sebuah kota bernama Yogyakarta, kota dimana sebuah cerita sampai akhir yang berkesinambungan.

Mahendra merupakan dosen arkeolog muda yang digemari oleh para mahasiswa karena gaya belajarnya yang santai dan mampu membuat mahasiswa berpikir seluas samudra dan mengungkapkan pikiran mereka bagai burung yang terbang secara bebas, seringkali ia melanjutkan pembelajaran di luar ruang kelas yang menurutnya terlalu membosankan dan terpaku pada aturan tak tertulis yang menyempitkan pikiran.

Saat dirinya menjadi dosen di sebuah kampus Yogya, ia bertemu dengan Yasmin yang merupakan mahasiswanya sendiri. Yasmin merupakan seorang perempuan yang cerdas dan berpikir kritis, terdapat banyak kesembunyian yang tertutup dalam dirinya. Perempuan yang setiap hari nya menggunakan Jilbab saat di Kampus itu membuat Mahendra tercengang sedikit saat dirinya menemukan Yasmin di sebuah tempat Billiard, Mahendra seperti melihat orang yang berbeda dalam diri Yasmin.

Namun, hal tersebut malah membuat Mahendra tertarik, Yasmin selalu mengatakan jika "seseorang sering kali tidak bisa keluar dari identitas dan nilai-nilai yang mengikatnya" (hal 42).

Yasmin selalu merasa jika di tempat biliar dirinya bisa menjadi apa yang dia inginkan, ia bisa menjadi dirinya sendiri, dapat mengendalikan sebuah permainan dan menentukan sendiri bola harus diarahkan ke mana.

Perjalanan kisah Mahendra dengan Yasmin nyatanya tidak berhenti sampai disitu, Mahendra sadar jika dirinya sudah jatuh cinta dengan mahasiswanya sendiri dan Yasmin pun merasakan hal yang sama. Hingga suatu kejadian di sebuah kost yang ditinggali oleh Yasmin membuat semua nya berubah.

Mahendra kehilangan kabar Yasmin sampai suatu hari ia mendapat kabar jika Yasmin telah mengandung dan Yasmin mengatakan untuk tidak perlu mencarinya, karena Yasmin akan menjaga nama baiknya sebagai seorang dosen.

Tak sampai disitu letak keterpurukan Mahendra, seorang mahasiswa mengabarkan jika diduga Yasmin telah mati dengan cara bunuh diri. Mahendra hancur, padahal ia siap bertanggung jawab atas hal tersebut. Namun, Yasmin memilih untuk mempertaruhkan nyawanya demi menjaga harga diri Mahendra.

Percampuran rasa yang ada dalam diri Mahendra ia bawa lari ke sebuah tempat yang jauh dari perkotaan, tersembunyi, masih alami dengan kekukuhan adatnya, Tanah Nias. Tempat Mahendra melarikan diri dari segala masalah, rasa sakit, kecewa dan seluruh ras yang tak mampu diterjemahkan atas segala hal tentang perempuan bernama Yasmin ia bawa hingga ke tanah Nias tepatnya di desa Banuaha.

Di Banuaha Mahendra bukan hanya seorang laki-laki yang tak mempunyai tujuan, disana ia juga sambil menjalani profesinya sebagai arkeolog dengan terus mengidentifikasi fosil dan apapun penemuan yang tersembunyi di tanah Nias.

Di sana lah dirinya bertemu seorang laki-laki yang sudah berumur bernama Ama Budi, Ama Budi merupakan keluarga ynag berasal dari keluarga Hia dan Marga Hia sangat dihormati karena dianggap sebagai tertua di Nias

Sedangkan Sayani adalah anak laki-laki yang menemukan Hendra seperti orang hilang di Pasar Gomo, Sayani lah yang setiap harinya menamani Hendra melakukan penelitian untuk mencari penemuan baru yang telah terkubur atau terpendam beratus tahun lamanya

Banuaha telah memberinya banyak pembelajaran tentang kehidupan. Dirinya menyadari sebanyak-banyak nya perbedaan dalam suatu tempat tetap terdapat kesamaan yang terjadi secara tidak langsung.

Label: , , ,

Perempuan dan Takdir yang Memakunya

Seringkali perempuan tidak memiliki suara untuk memilih setiap warna yang ia suka, kata yang ingin diucapkan dan langkah aman yang ia pilih. Hal ini terjadi sebab kesetaraan yang telah mendarah daging dalam tubuh manusia, orang-orang selalu menganggap jika perempuan yang lahir hanya dapat mengikuti takdir yang telah disampaikan oleh para pendahulunya.

Perempuan hanya bisa terbang mengikuti angin yang menghembus tak tentu arah, tidak ada satupun bangunan yang mampu melindunginya dari badai yang sewaktu-waktu dapat menerpanya.

Jika perempuan tidak mengikuti aturan hidupnya sebagai “perempuan” maka sudah dipastikan ia akan dicemooh dan di caci maki, bagai barang yang tidak berharga dan tak mempunyai nilai.

Perempuan dituntut harus sempurna sedangkan laki-laki tidak apa tidak sempurna “karena mereka laki-laki.” Ketika perempuan berselingkuh maka habislah ia dipermalukan dan kata-kata "jalang” "cabo" "tidak ada harga diri" sudah pasti akan melekat dan terpaku dalam dirinya.

Namun, ketika laki-laki yang berselingkuh orang tidak memperdulikannya atau mengatakan “mungkin istrinya yang tidak bisa bersolek, tidak bisa melayani suaminya sampai-sampai suaminya harus jajan di luar.” dan sebagian hanya berkata "ya namanya juga laki-laki" mirisnya, sering ditemukan kata-kata seperti itu terlontar dari mulut yang juga seorang perempuan. Betapa nikmatnya menjadi laki-laki yang terus berlindung dalam kalimat se receh "Namanya juga laki-laki."

Dalam beberapa adat yang masih ditegakkan oleh suku pedalaman yaitu menuntut agar perempuan harus bisa melakukan segalanya. Seperti, mengurus kelima anaknya, memasak pagi-pagi  buta untuk suami dan anak-anaknya, setelahnya harus pergi ke ladang mencari nafkah, di tengah terik siang kegiatan mencuci baju dan segala perabotan di kali juga harus dilakukan, dan sorenya harus memberi makan hewan ternak di rumahnya. 

Belum selesai sampai disitu, malamnya ia harus menyediakan makanan dan kopi yang disajikan untuk teman-teman suaminya yang berkumpul di pekarangan rumah, belum sempat beristirahat ia juga harus memuaskan nafsu dari suaminya hingga pagi menyongsong kembali dan kegiatan itu terus menerus dilakukan selama hidupnya. Jika tidak dapat melakukan semaunya tamparan pukulan, tendangan akan dengan pasti mendera tubuhnya.

Mengapa hal itu harus terjadi? mengapa perempuan yang harus melakukan segalanya? kenapa bukan laki-laki? jawabannya karena dalam hal ini laki-laki merasa bahwa dirinya sudah membeli seorang perempuan dengan mahar yang sangat fantastis sehingga ia sudah mendapat harga dirinya dengan begitu perempuan lah yang dituntut untuk tahu diri ketika sudah diberi mahar yang besar maka perempuan itu harus berguna di rumahnya.

Betapa tangguh seorang perempuan dalam hidupnya, dan betapa pengecutnya laki-laki dalam hidupnya. Ia harus menginjak-injak perempuan terlebih dahulu supaya terlihat, agar mereka tidak terhalang, agar mereka terlihat hebat dan berharga. 

Ketakutan jika ia tidak menginjak perempuan, maka perempuan akan berdiri secara lantang dan akan menghalangi tubuh laki-laki yang haus akan kehormatan dan harga diri.

Label: ,