Gaungan Emosi, Malam, dan Rekan-rekan Binatangnya
Malam tak ubahnya campuran perasaan manusia yang membuntang meruah-ruah, terbawa angin malam yang bebas. Segala yang terpendam mampu dikeluarkan oleh malam, tanpa paksa dan tanpa diminta.
Keluar begitu saja bagai binatang yang telah terkurung dan tersekap tanpa mampu menghirup udara. Segala gundah, lara, duka, sesak dan pilu yang tak tersentuh oleh mentari seakan tahu waktunya untuk unjuk gigi memperlihatkan siapa dirimu sebenarnya.
Tawa dan canda, senyum sumringah, lelucon yang terus kau giring selama seharian penuh merupakan sebuah topeng untuk menutupi betapa hancurnya dirimu sebenarnya. Air mata yang terbekap selama 24 jam tak lagi menemui tempatnya untuk bertahan lebih lama.
Sayup-sayup tangisan itu menyanyikan suaranya dalam keheningan dan hanya ditemani suara jangkrik yang bersenandung, atau bahkan terkadang saking pilunya tangismu, binatang malam pun ikut terdiam mendengarnya, seakan dapat merasakan dan mengerti jika senandungnya tak akan mampu menghibur mu, tak akan cukup membuatmu mengerti bahwa kamu tidak sendiri.
Egomu hilang ditelan malam yang sunyi dan topengmu hancur lebur terbentur pekatnya gelap malam. Malam seakan tahu dan dapat menyikapi perasaan yang kau lontarkan diantara gelap menyelimuti, dimana ia akan membawa rekannya, beberapa binatang malam untuk menghiburmu jika memang itu kau butuhkan.
Namun, jika itu adalah hal yang sia-sia, malam takkan mempersilahkan rekannya untuk bersenandung menghiburmu. Bukannya tak ingin, hanya saja ia tahu bagaimana cara menyikapinya, dan tentu saja hiburan yang mampu diberikannya adalah tanpa dirimu bersuara bahkan mengatakan apapun.
Karena, ia adalah malam yang sunyi tanpa suara, tapi ia mampu memahami.



.png)
