Jumat, 24 Mei 2024

Gaungan Emosi, Malam, dan Rekan-rekan Binatangnya


Malam tak ubahnya campuran perasaan manusia yang membuntang meruah-ruah, terbawa angin malam yang bebas. Segala yang terpendam mampu dikeluarkan oleh malam, tanpa paksa dan tanpa diminta. 

Keluar begitu saja bagai binatang yang telah terkurung dan tersekap tanpa mampu menghirup udara. Segala gundah, lara, duka, sesak dan pilu yang tak tersentuh oleh mentari seakan tahu waktunya untuk unjuk gigi memperlihatkan siapa dirimu sebenarnya.

Tawa dan canda, senyum sumringah, lelucon yang terus kau giring selama seharian penuh merupakan sebuah topeng untuk menutupi betapa hancurnya dirimu sebenarnya. Air mata yang terbekap selama 24 jam tak lagi menemui tempatnya untuk bertahan lebih lama.

Sayup-sayup tangisan itu menyanyikan suaranya dalam keheningan dan hanya ditemani suara jangkrik yang bersenandung, atau bahkan terkadang saking pilunya tangismu, binatang malam pun ikut terdiam mendengarnya, seakan dapat merasakan dan mengerti jika senandungnya tak akan mampu menghibur mu, tak akan cukup membuatmu mengerti bahwa kamu tidak sendiri.

Egomu hilang ditelan malam yang sunyi dan topengmu hancur lebur terbentur pekatnya gelap malam. Malam seakan tahu dan dapat menyikapi perasaan yang kau lontarkan diantara gelap menyelimuti, dimana ia akan membawa rekannya, beberapa binatang malam untuk menghiburmu jika memang itu kau butuhkan. 

Namun, jika itu adalah hal yang sia-sia, malam takkan mempersilahkan rekannya untuk bersenandung menghiburmu. Bukannya tak ingin, hanya saja ia tahu bagaimana cara menyikapinya, dan tentu saja hiburan yang mampu diberikannya adalah tanpa dirimu bersuara bahkan mengatakan apapun.

Karena, ia adalah malam yang sunyi tanpa suara, tapi ia mampu memahami.

Label: , , ,

Senin, 20 Mei 2024

Bagaimana Mungkin Pernyataan 'Aku Bahagia' Menjadi Kalimat yang Semu

 


Jauh langkah berjejak untuk mencari kebahagiaan yang sebenarnya diri sendiri pun tidak mampu mengerti apa arti bahagia itu. 

Apa dengan menyendiri dan hanya ditemani angin adalah sebuah kebahagiaan? Karena kita merasa bahwa pikiran kita jauh lebih tenang ketika sunyi menjuntai. Namun, terkadang hal itu akan terasa sepi jika harus dilakukan setiap saat.
 
Oh, atau bahagia itu ketika bertemu dengan banyak orang yang mempunyai energi lebih banyak. Karena berpikir, kita akan tertular energi membahagiakan yang ia punya? Namun, jika terus menerus bukankah hal itu akan berbanding terbalik dengan terserapnya energi yang kita miliki? 

Apa sebuah kebahagian dengan memiliki barang yang diimpikan? Namun, bukankah rasa bahagia yang mengantarkan kepuasan dengan memiliki barang itu tidak akan lama? Bahkan mungkin akan tergantikan dengan barang-barang lain yang di kemudian hari kita inginkan.

Lalu apa bahagia itu dengan mendapatkan apa yang kita impikan selama ini, menjadi seorang yang hebat sesuai dengan impian-impian yang kita rangkai selama ini? Namun, bukankah pikiran dan imajinasi itu sifat nya tak terhingga? 

Ketika kita sudah mencapai titik dimana seharusnya ini adalah hal yang selama ini kita cari, kita nantikan, tapi malah kita merasa belum dan mengatakan bukan ini titik nya. Padahal jika menengok kebelakang, ya sudah benar.

Lalu apa sebenarnya arti bahagia itu? Apa benar pada kesunyian tanpa kebisingan? Atau pada kebisingan dengan dalih mengantarkan semangat? Atau dengan memiliki sesuatu? Atau juga dengan menjadi sesuatu? Namun, ketika tidak menjadi sesuatu atau menjadi siapa-siapa memangnya kenapa? Apa tidak bisa menjadi bahagia? Apa bahagia hanya ada di pikiran saja? Dengan berpikir kita bahagia maka sudah bahagia, Seperti itu kah? 

“Aku bahagia kok, aku senang. Aku … baik-baik saja, sedang tidak merasakan apa-apa. Aku bahagia.”

Mana ada jawaban atas pertanyaan bahagia atau tidak, adalah bahagia, tapi ia menjawabnya dengan matanya berkaca-kaca, walaupun tetap dengan senyuman.

Bagaimana bisa kalimat aku bahagia menjadi kalimat yang semu dan terkesan mengaku-akui.

Lalu kenapa pula bahagia adalah hal yang sebentar sedangkan kesedihan mempunyai waktu yang lebih lama untuk dirasakan?

Bahkan terkadang disaat merasa bahagia, tetap saja ada terselip rasa kesedihan yang entah pada saat itu ia muncul di permukaan secara terang-terangan atau bahkan hanya tertutupi oleh tawa, tapi tetap saja kesedihan itu ada.

Jika kebahagiaan adalah dengan menjadi sesuatu, menjadi siapa aku dimasa mendatang, tapi ... Jika tidak menjadi siapa-siapa nantinya memangnya kenapa? Memang tidak bisa untuk bahagia seperti ini saja? 

Lalu, sebenarnya bahagia itu seperti apa ...

Label: , , , , ,

Senin, 06 Mei 2024

Dia Tersenyum Namun Hatinya Kosong

 

Hidup dengan pertimbangan orang lain itu sangat menakutkan, rasanya jika ada pencapaian yang lebih dulu tercapai dari kita, selalu sesak yang berlumur dalam dada. Bukan tidak senang melihat orang mencapai apa yang mereka inginkan. Namun, bersamaan dengan hal itu, ada banyak pertanyaan "itu dia bisa" "kok kamu belum ya" "coba ikuti dia, samai sepertinya." 

Mereka berpikir jika semua bekerja menggunakan mata atau telinga. Maka semua bisa bekerja seperti itu. Mereka tidak melihat teman-teman kita yang mempunyai kekurangan dalam hal pendengaran atau penglihatan, mana mungkin mereka bisa bekerja menggunakan mata atau telinganya. 

Namun, bukan berarti mereka tidak mampu untuk bekerja, karena hanya bagian tertentu yang mereka tidak punya, mereka masih mempunyai bagian lain yang utuh yang bisa mereka gunakan. hanya saja tinggal siapa yang mampu menghargai usaha mereka. 

Sulit jika harus terus mempertimbangkan keberhasilan orang lain dengan diri kita, standar yang dibangun di lingkungan masyarakat terkesan menyesakkan, seperti hidup dalam penjara, semua harus melakukan hal yang sama meski kejahatan yang mereka lakukan berbeda. 

Ingin rasanya menghindari kehidupan seperti itu. Namun, tidak bisa selamanya, hanya dapat sesekali menutup telinga yang sebenarnya hanya bersifat sia-sia, kecuali kamu memang tidak memiliki pendengaran yang baik. 

Terkadang aku merasa hidup dengan keterbatasan pendengaran (tuna rungu) mungkin lebih baik, mereka tidak perlu bersusah payah menutup telinganya untuk mendengar cacian seseorang atau pertengkaran seseorang yang berkaitan dengannya.

Namun, bagaimanapun mereka tetap dapat melihat, melihat bagaimana mereka diluar sana memandang dirinya, memandangnya sebagai tuna rungu, karena mata tak butuh telinga untuk mengetahui isi pikiran seseorang. 

Sebaliknya, menjadi tunanetra pun sama, mereka mungkin tidak melihat bagaimana pandangan orang sekitar terhadapnya. Namun, melihat tidak hanya dari mata bukan? hati mereka bisa merasakan dan terutama telinga mereka dapat mendengar lebih jelas daripada kebanyakan orang normal (orang yang sempurna segalanya).

Lalu aku harus menjadi seperti apa, jika menjadi diri sendiri pun diri ini juga terus mencaci. Beberapa kali mendapat cacian, alih-alih menenangi diri sendiri seolah segalanya tidak apa, tapi, sebenarnya dalam diri ini jauh lebih membunuh diri sendiri atas kesalahan atau ketidakmamapuan atas suatu hal.

Menahan air mata yang tadinya hanya dilakukan di depan umum, kini dalam sunyi pun tidak mampu mengeluarkannya, karena terbiasa menahan dan selalu berkata, tidak apa, tidak boleh menangis, dan lupakan saja. Hingga aku sampai di titik bertanya-tanya, kemana perginya air mata itu?

Hidup terasa kosong karena tidak mampu meluapkan emosi yang ada didalam tubuh. Apa yang dijalani saat ini tak ubahnya seperti mayat hidup, tanpa perasaan, tanpa emosi dan yang ada hanya senyuman namun hatinya kosong, segalanya kosong.

Tapi yang terpenting diri ini masih bisa mengeluarkan senyum bukan? Meski hal itu hanya untuk memvalidasi kepada orang-orang bahwa aku baik-baik saja.

Label: , , ,