Menuju Perjalanan Terakhir
Pagi yang cerah dengan pancaran surya yang tak lagi malu-malu memperlihatkan diri nya dengan begitu percaya diri, tidak seperti kemarin. Cahayanya menyengat kan semangat bagi siapapun yang berani bersyukur atas kemunculan dirinya bukan yang mengeluh dengan terik yang ia sengat kan menembus kulit. Hari ini kembali ku menyusuri jalan dengan menggunakan kendaraan umum yang di pesan melalui aplikasi, kemana lagi kaki ini akan melangkah?
Dua puluh menit dalam perjalanan aku sampai pada stasiun yang sama untuk pertama kali dalam beberapa hari kemarin aku datangi, Stasiun Yogyakarta. Kali ini aku akan menuju perjalanan terakhir yang telah aku lewati selama berhari-hari di kota orang, seorang diri. Kereta dalam kota yang akan mengantarkan ku akan tiba pukul 12.45 masih ada sepuluh menit lagi aku menunggu antrian bersamaan dengan orang lainnya yang ingin berkunjung kerumah sanak saudara ataupun kembali setelah berlibur bersama keluarganya di Malioboro.
Setelah menunggu akhirnya antrian di perbolehkan masuk langsung ke dalam gerbong kereta. Hari ini cukup padat, atau bahkan bisa dibilang sangat padat, mengingat bulan ini adalah bulan anak sekolah yang sedang berlibur setelah ujian tengah semester yang mereka jalani. aku memasuki gerbong yang padat dengan kerumunan orang-orang yang berhamburan menyerbu bangku kereta yang tersedia. Aku memilih untuk berdiri saja, mengingat perjalanan ku yang tak jauh, hanya akan melewati beberapa pemberhentian. Selain itu, banyak orang tua yang lebih layak untuk mendapatkan tempat duduk, dan ibu hamil, juga ibu yang membawa anaknya. terkadang kurangnya kesadaran dalam fasilitas kendaraan umum cukup memprihatinkan. Mereka yang lebih muda terkadang cukup tidak tahu diri untuk tidak memberi tumpangan pada orang tua yang lebih senja umurnya daripada mereka yang jauh lebih muda hanya untuk alasan perjalanannya jauh, dan alasan-alasan yang tidak masuk akal.
Perjalanan menggunakan kereta selalu menjadi hiburan tersendiri bagiku, ada sebuah rasa yang tak dapat dijelaskan ketika berada di dalam gerbong kereta, berdiri menatap keluar jendela bersandar pada pintu gerbong yang akan terbuka dan tertutup sesuai dengan tugasnya. Dengan pemandangan yang di suguhnyakan dari luar kereta, tidak tertinggal headset harus terpasang di kedua telinga dengan mendengar beberapa lagu favorite milik Bruno Mars. Sebenarnya ada rasa enggan untukku singgah di perjalanan terakhir ini, ada rasa emosi, sedih, gelisah, takut, kecewa yang masih membara dan belum reda untuk saat ini hanya saja tertutup oleh beberapa benda, padahal api di dalamnya masih menyala besar. Namun semua harus dikalahkan sebentar.
Di dalam gerbong, mungkin saking padatnya aku sampai sulit bernafas, layaknya oksigen yang tiba-tiba menghilang dan aku tidak mendapatkannya. sangat sesak dan ... terasa mau pingsan? entahlah aku belum pernah merasakan [pingsan, jadi tidak tahu sebelum pingsan itu rasanya seperti apa, tapi yang pasti tubuhku rasanya ingin jatuh saja. Mungkin juga sesaknya dadaku dikarena jaket hitam tebal yang aku pakai ini, cuaca cukup terik untuk hari ini, bodoh sangat memang memakinya pada siang yang menyengat ini, akhirnya aku melepas jaket menyebalkan itu, dan benar pernapasanku jauh lebih baik, seperti mendapat udara segar walaupun hanya sedikit. Ternyata kepadatan orang di kereta juga menjadi alasan.
Setelah melewati beberapa pemberhentian akhirnya kereta ini sampai di tujuan akhir yaitu Stasiun Jenar. segera ku melangkah untuk mencari jalan keluar, stasiun ini tidak besar, hanya stasiun singgah sepertinya dan tak banyak orang juga disini, bisa dibilang sangat sepi. hanya ada beberapa petugas kereta dan dua orang yang juga turun bersama dengan uku di stasiun ini. Di pintu keluar aku memutuskan duduk sebentar sebelum aku memesan kendaraan melalui aplikasi lagi untuk mengantarkan ku ke rumah ibu dari ibuku di kampung.
Label: literasi, menulis, travelling, ulasan



.png)
