Jumat, 30 Juni 2023

Menuju Perjalanan Terakhir

Pagi yang cerah dengan pancaran surya yang tak lagi malu-malu memperlihatkan diri nya dengan begitu percaya diri, tidak seperti kemarin. Cahayanya menyengat kan semangat bagi siapapun yang berani bersyukur atas kemunculan dirinya bukan yang mengeluh dengan terik yang ia sengat kan menembus kulit. Hari ini kembali ku menyusuri jalan dengan menggunakan kendaraan umum yang di pesan melalui aplikasi, kemana lagi kaki ini akan melangkah?

Dua puluh menit dalam perjalanan aku sampai pada stasiun yang sama untuk pertama kali dalam beberapa hari kemarin aku datangi, Stasiun Yogyakarta. Kali ini aku akan menuju perjalanan terakhir yang telah aku lewati selama berhari-hari di kota orang, seorang diri. Kereta dalam kota yang akan mengantarkan ku akan tiba pukul 12.45 masih ada sepuluh menit lagi aku menunggu antrian bersamaan dengan orang lainnya yang ingin berkunjung kerumah sanak saudara ataupun kembali setelah berlibur bersama keluarganya di Malioboro.

Setelah menunggu akhirnya antrian di perbolehkan masuk langsung ke dalam gerbong kereta. Hari ini cukup padat, atau bahkan bisa dibilang sangat padat, mengingat bulan ini adalah bulan anak sekolah yang sedang berlibur setelah ujian tengah semester yang mereka jalani. aku memasuki gerbong yang padat dengan kerumunan orang-orang yang berhamburan menyerbu bangku kereta yang tersedia. Aku memilih untuk berdiri saja, mengingat perjalanan ku yang tak jauh, hanya akan melewati beberapa pemberhentian. Selain itu, banyak orang tua yang lebih layak untuk mendapatkan tempat duduk, dan ibu hamil, juga ibu yang membawa anaknya. terkadang kurangnya kesadaran dalam fasilitas kendaraan umum cukup memprihatinkan. Mereka yang lebih muda terkadang cukup tidak tahu diri untuk tidak memberi tumpangan pada orang tua yang lebih senja umurnya daripada mereka yang jauh lebih muda hanya untuk alasan perjalanannya jauh, dan alasan-alasan yang tidak masuk akal.

Perjalanan menggunakan kereta selalu menjadi hiburan tersendiri bagiku, ada sebuah rasa yang tak dapat dijelaskan ketika berada di dalam gerbong kereta, berdiri menatap keluar jendela bersandar pada pintu gerbong yang akan terbuka dan tertutup sesuai dengan tugasnya. Dengan pemandangan yang di suguhnyakan dari luar kereta, tidak tertinggal headset harus terpasang di kedua telinga dengan mendengar beberapa lagu favorite milik Bruno Mars. Sebenarnya ada rasa enggan untukku singgah di perjalanan terakhir ini, ada rasa emosi, sedih, gelisah, takut, kecewa yang masih membara dan belum reda untuk saat ini hanya saja tertutup oleh beberapa benda, padahal api di dalamnya masih menyala besar. Namun semua harus dikalahkan sebentar.

Di dalam gerbong, mungkin saking padatnya aku sampai sulit bernafas, layaknya oksigen yang tiba-tiba menghilang dan aku tidak mendapatkannya. sangat sesak dan ... terasa mau pingsan? entahlah aku belum pernah merasakan [pingsan, jadi tidak tahu sebelum pingsan itu rasanya seperti apa, tapi yang pasti tubuhku rasanya ingin jatuh saja. Mungkin juga sesaknya dadaku dikarena jaket hitam tebal yang aku pakai ini, cuaca cukup terik untuk hari ini, bodoh sangat memang memakinya pada siang yang menyengat ini, akhirnya aku melepas jaket menyebalkan itu, dan benar pernapasanku jauh lebih baik, seperti mendapat udara segar walaupun hanya sedikit. Ternyata kepadatan orang di kereta juga menjadi alasan.

Setelah melewati beberapa pemberhentian akhirnya kereta ini sampai di tujuan akhir yaitu Stasiun Jenar. segera ku melangkah untuk mencari jalan keluar, stasiun ini tidak besar, hanya stasiun singgah sepertinya dan tak banyak orang juga disini, bisa dibilang sangat sepi. hanya ada beberapa petugas kereta dan dua orang yang juga turun bersama dengan uku di stasiun ini. Di pintu keluar aku memutuskan duduk sebentar sebelum aku memesan kendaraan melalui aplikasi lagi untuk mengantarkan ku ke rumah ibu dari ibuku di kampung.

Label: , , ,

Selasa, 27 Juni 2023

Hujan dan Makana Tersirat dalam Setiap Rintiknya

Pagi ini cuaca berawan kelam, hanya tinggal menunggu air matanya jatuh saja membasahi bumi yang tandus ini. Dengan cuaca yang seperti ini rasanya tidak mendukung untuk berpergian kemanapun, beberapa tempat yang seharusnya aku kunjungi hari ini terancam batal, sayang sekali. Taman Sari, Keraton Yogyakarta dan Ruas Bambu Rusa, tempat yang sudah ku impikan untuk ku datangi ketika aku menginjakkan kaki di kota ini. Namun, sepertinya semesta belum mengizinkan aku untuk mengunjungi tempat itu.

Air mata dari langit itu kini telah jatuh dengan sangat deras. Hujan hari ini mengingatkan aku pada masa dimana dulu sangat menantikan hujan itu datang mengunjungi bumi, sesekali aku membuat beberapa puisi setiap kali hujan di pagi atau malam hari tiba, untukku rasanya ketika hujan datang disaat fajar yang malu untuk terbit dan bulan yang enggan menampakkan dirinya, membawa perasaan damai tersendiri dalam diri. Duduk di depan teras dengan hanya memandangi air langit yang jatuh dan menghantarkan aroma yang keluar saat air itu turun membasahi tanah yang tandus, menciptakan sebuah tenang yang tak dapat diterjemahkan, segala lelah, gundah dan gelisah sekaan menguap ke langit.

Hujan terkadang mengingatkan kita yang sedang bersedih untuk dapat meluapkan saja sekencang-kencangnya dan memberitahu bahwa sebuah air mata bukan pertanda lemahnya jati diri kita, dengan air mata yang keluar itulah yang akan membawa ketenangan dan akan menciptakan damai dalam diri sendiri terhadap segala permasalahan yang ada. Turunnya hujan juga mengingatkan kita kepada yang selalu bekerja keras dan melupakan diri sendiri bahwa tubuh kita ternyata juga butuh istirahat, dengan segala ambisius pada sesuatu hal yang ingin dicapai dan satu dua hal lainnya yang menyebabkan sesuatu itu untuk harus dicapai, terkadang membuat kita lupa bahwa tidak semua yang kita mau harus kita miliki, bahwa semua ada batasannya, bahwa semua juga harus dinikmati, dan semua tidak harus dijalani dengan berlari yang akibatnya membuat diri kita terengah-engah kehabisan tenaga.

Siapa tau jika menggapainya secara perlahan dan dilakukan dengan cara berjalan saja akan dapat juga pencapaian itu, namun, karena sikap kita yang kurang sabar dan selalu terburu-buru karena melihat sekitar kita telah telah lebih dulu mendapatkan semuanya kita jadi memaksakan diri untuk juga segera mendapatkan apa yang telah mereka dapat itu. Sayang sekali kita tidak menyadari atau bahkan lupa untuk menyadari bahwa jalan mereka bukan jalan yang harus kita lalui, lupa bahwa kita pun bisa membuat jalan kita sendiri dengan segala bentuk yang kita mau.

Tidak apa sebenarnya untuk sedikit terlambat, karena nyatanya yang berarti itu bukan tentang mendapatkannya melainkan proses dari setiap langkah menuju apa yang kita ingin dapatkan itu, itu lah yang akan mengajarkan kita cara menghargai pada setiap usaha yang diri ini maupun yang orang lain lakukan. Proses yang sulit akan lebih menyadarkan kita untuk tidak mudah menyerah, dan untuk tetap menghargai setiap jatuh bangunnya. karena itu lah yang akan membuat kita berkembang.

Label: , , ,

Senin, 26 Juni 2023

Swatantra di Kota Orang

Pagi hari ini cuaca cukup cerah, setelah tiba kemarin aku memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk memulihkan kembali jiwa hausan berkelana. Sesuai rencana hari ini aku mulai pergi menyambangi tempat-tempat yang telah menjadi tujuan dalam daftar list ku, hari pertama ini aku berencana mengunjungi tiga tempat, yaitu Galeri Oma, Gramedia Gedung Putih yang terletak di jalan Jendral Sudirman dan toko buku independen bernama Boekoe Theotraphi. 

Galeri Oma adalah sebuah tempat yang berisi furniture klasik, barang-barang lawas yang disimpan dan dipajang hingga membuatnya kini menjadi antik, dan utamanya mereka menjual berbagai model kebaya, namun bukan kebaya modern yang kebanyakan saat ini di jual melainkan kebaya tradisional yang sudah lawas naum cukup antik untuk di pakai di zaman sekarang. Aku mendapatkan satu baju kebaya yang sekiranya akan aku pakai sehari-hari, menurutku perempuan modern di zaman sekarang ketika memakai kebaya itu sangat antik dan unik sangat terlihat berbeda dengan kebanyakan orang, dan aku menyukainya.

Setelah mengunjungi Galeri oma aku berjalan kaki untuk dapat sampai ke Gramedia Gedung Putih, cukup menyenangkan bisa berjalan-jalan di kota orang dengan bebas namun tak memunafikkan ternyata cukup melelahkan juga. Sesampainya di Gramedia aku mulai berburu berjam-jam untuk dapat memilih buku mana yang akan aku asuh untuk ku bawa pulang dan ku nobatkan sebagai milikku, lalu aku mendapatkan satu buku dengan judul "Berani Tidak Disukai" hanya satu yang aku asuh dari Gramedia ini. Beranjak dari Gramedia Gedung Putih aku berkelana lagi untuk mengunjungi toko buku independen yaitu, Boekoe Theotraphi, toko buku yang selalu aku kunjungi ketika aku menginjakkan kaki ke Kota Istimewa ini. Kebanyakan buku nya bergenre sastra politik, ada pula beberapa fiksi, juga islami, feminisme, patriarki, jurnal dan masih banyak lagi.

Di Boekoe Theotraphi aku mengasuh tiga buku berjudul "Feminisme Sebuah Pengantar Singkat", "Book Writing for Popularity and Personal Branding", dan "Menuliskan Jejak Ingatan". Saking banyaknya buku yang berjejer dan tersusun rapi hingga ke atap membuatku lapar mata, rasanya ingin sekali mempunyai bangunan yang di dalamnya ada ruang penuh jendela dunia itu. Itu adalah mimpiku dan semoga saja akan tercapai. 

Lelah berkelana aku beristirahat sebentar di Jl. Malioboro sebuah tempat yang tak mungkin dilewatkan semua orang ketika menginjakkan kakinya di Jogja, sebuah tempat yang tak pernah bosan untuk ramai dikunjungi orang-orang. Aku mencari tempat duduk yang terlihat masih banyak yang kosong, mengingat hari masih terbilang siang, karena kebanyakan orang akan mengunjungi tempat ini pada sore menuju malam hari. Setelah mendapatkan tempat duduk aku mencoba untuk membuka beberapa buku yang telah aku beli tadi dengan sedikit membacanya, hanya sedikit. sekitar 160 halaman. 

Disini aku tidak membeli apa-apa selain minuman kopi hangat yang ku beli pada pedagang kakek tua renta yang berjualan di sekitar Jl. Malioboro. Rasanya sangat takjub melihat orang tua yang sudah belia masih semangat untuk mencari pundi agar dapat menghidupi keluarganya, terlihat lelah namun ia sangat semangat sekali menjalani pekerjaannya, seakan-akan keringatnya  menyampaikan bahwa usaha tidak mengenal usia, selagi kaki tangan dan seluruh tubuhmu masih dapat bergerak tidak ada alasan untuk menyerah. Ada rasa malu pada diri sendiri ketika melihat kakek itu, diri ini masih sering sekali mengeluh pada hal yang masih mudah untuk di lakukan seakan-akan telah memindahkan sebuah gunung ketempat yang lebih tinggi, berlebihan sekali, belum lagi terkadang rasa kurang bersyukur pada apa yang dipunya, rasanya diri ini selalu merasa kurang, padahal sebenarnya jauh dari kata cukup.

Perjalanan selalu menciptakan pengalaman, pengetahuan dan kesadaran yang baru pada diri sendiri. Setiap langkah dapat membuat sebuah cerita yang dapat dibagikan oleh orang banyak. Perjalanan selalu mengajarkan kita bahwa setiap detik yang kamu lakukan itu dapat membuat dampak besar pada diri kamu, jika kamu mau untuk menyadarinya. 

Label: , , ,

Kamis, 15 Juni 2023

Benang Kusut dalam Diri

    Kosong, hilang arah, gundah ada sedikit perasaan tidak nyaman menjadi diri sendiri sekarang, terasa tidak mampu, terasa sangat kecil, terasa lebih besar suara yang keluar daripada bukti nyata. perasaan yang sebenarnya sulit dijelaskan dengan tepat apalagi harus di tuliskan dengan benar, yang membaca dan mendengarnya pun akan kebingungan, karena diri ini pun bingung. Bingung pada segala hal. raga ini ada namun seperti mengambang, melayang, hanya mengikuti tiupan angin tanpa perlawanan.

Tapi seharusnya tidak seperti ini, seharusnya bisa melawan, jika pun tidak seharusnya bisa menghentikan, namun apa yang harus dihentikan dan apa yang harus di mulai? Andai saja ada sebuah alat yang dapat menerjemahkan isi pikiran, kurasa itu sangat membantuku untuk dapat bercerita, untuk dapat meluapkan. Terkadang harus di paksa orang untuk bercerita, katanya aku ini terlalu tertutup, katanya aku ini tidak percaya kepadanya. Namun, bukan itu alasannya. Bagaimana aku bisa bercerita yang bahkan diriku sendiri saja sulit untuk mengetahui apa yang sedang dirasakan diriku saat ini dan saat saat yang lain. 

Terkadang tidak ada kata-kata yang dapat ku temukan untuk dapat ku ucapkan atau dapat ku tuliskan mengenai keadaan ku, dan apa yang aku pikirkan juga yang aku rasakan. seolah-olah isi dalam diriku ini seperti benang kusut yang sulit terurai lurus kembali menemui arahnya, sulit menemukan jalannya. Terkadang diri ini lelah, namun entah apa yang di rasa lelah itu sendiri, terkadang kepala ini rasanya berisik sekali tapi entah apa yang disebut suara-suara yang ada di kepala itu. terkadang hati ini sesak sekali hingga hitungan detik nafas seperti terhenti di tenggorokan. namun entah apa sebabnya.

Namun satu hal yang ku tahu dari perasaan yang tak dapat dijelaskan itu, sebetulnya aku memang lelah, meski tidak tau apa arti dari lelah yang ku artikan ini, dan sebenarnya sangat tidak pantas diri ini sampai mengucapkan lelah, mengingat orang tua yang selalu bekerja keras untuk segala kebutuhan yang memenuhi ku, memenuhi keluarga ini agar tetap berdiri kokoh, itu adalah lelah yang sebenarnya namun, mereka tidak pernah mengatakannya. Sombong dan tidak tahu diri sekali aku yang tidak berbuat apa-apa ini (belum) bisa mengatakan lelah yang padahal tidak tahu letak lelahnya dari hal apa.

Label: , ,