Minggu, 25 Agustus 2024

Sampailah pada Waktu yang Tak Perlu Berdalih

Tak perlu diksi, tak perlu bahasa asing, tak perlu berbelit lidah dan kata. Singkat saja, aku mencintaimu. 

Urusan mengerti apa aku tentang arti cinta adalah belakangan, yang ku tau pasti kalimat itu adalah yang satu-satunya terlintas dalam pikiranku dan selama ini terus ku padamkan kehadirannya. 

Padahal nyatanya Aku Mencintaimu adalah hal yang telak, tak bisa di ganggu gugat. Meski dengan beribu elakan sendiri mengenai "memang cinta itu apa?" Dan dalam diriku pun yang sebenarnya menjawab "kamu."

Label: , , , , ,

Senin, 19 Agustus 2024

Malam yang selalu Menghantui

Semenjak kamu tinggal lari
Aku tak terbiasa lagi dengan sinar matahari

Label: , , , ,

Jumat, 16 Agustus 2024

Sumpah, Tidak Bermaksud

Sebab dicintai ketika sedang proses pulih akan membuat kita seakan menjadi orang jahat.

Label: , , , , ,

Minggu, 11 Agustus 2024

Pameran Galeri Nasional Dolorosa Sinaga, I the Witness

 

Dolorosa Sinaga & Budi Santoso di kuratori oleh Alexander Supartono menggelar pameran bertajuk "Pameran Seni Rupa Patung dan Aktivisme" pada 20 Juli sampai 19 Agustus 2024  yang bertempat di Gedung A, Galeri Nasional. 

Tema pameran yang diambil Dolorosa dan Budi masih terus mengusung tentang isu hak asasi manusia, pembelaan serta solidaritas pada kaum perempuan. 

Pameran seni rupa "Patung dan Aktivisme: Dolorosa Sinaga & Budi Santoso" inj menampilkan lebih dari 53 karya. Salah satu karya yang menarik perhatian adalah I, the Witness.

———————

Dolorosa Sinaga


I, the Witness

109 x 78 x 230 cm 

iron plat 

2024


I, the Witness adalah penghormatan terus menerus dan perjuangan menuntut keadilan yang terus berlanjut untuk Ita Martadinata (1980-1998), salah seorang korban perkosaan massal kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Pada 8 Oktober 1998, Martadinata dibunuh dengan brutal di kamar tidurnya, hanya seminggu sebelum dia bersaksi di depan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat. Kasus pembunuhan ini belum terpecahkan sampai sekarang. Lewat tangan Dolo, Martadinata hadir dalam keabadiannya dalam sosok langsing yang berdiri tegak di depan meja kesaksian. Dia memakai kebaya encim keemasan, simbol kekekalan sekaligus mewakili identitas etnisnya. Tatapan matanya yang tajam dan mulutnya yang terbuka akan terus menyuarakan mereka yang tertindas.

Label: , , , , ,

Kamis, 01 Agustus 2024

Terima Kasih untuk Tidak Pernah Menyerah

Dia terlalu banyak memendam segalanya sendirian, membuatnya tidak stabil dalam mengungkapkan emosi. 

Seringkali meletup-letup jika dirinya melihat hal yang tidak sesuai dengan perasaannya.

Dia hanya terlalu lama memendam
Dia hanya tak pernah di dengar
Dia hanya terlalu cemas
Dia hanya tak pernah menemui tempatnya

Dan hanya dia yang mampu bertahan menghadapi semua saat segalanya tak pernah berpihak kepadanya

Dialah dirimu. Terima kasih untuk tidak melayangkan bendera putihmu. 

Label: , , , , ,