Senin, 25 Maret 2024

Saat Jeritan Terbungkam, Pena Selalu Menjadi Saksi



Seringkali diri merasa ingin menyerah. Namun, apa boleh? Bahkan hanya sekedar ingin mengeluh saja diri ini merasa tidak pantas, disaat masih banyak diluar sana yang pundaknya lebih berat, tapi tidak pernah mengeluarkan suara, beribu benda tajam menghunus tubuhnya pun, jeritan tak pernah terdengar keluar dari mulutnya.

Lalu, jika diri ini hanya tertusuk sebuah duri tajam. Apakah pantas untuk menjerit demi menerjemahkan sakitnya?

Banyak hal yang membuat segalanya tertahan, hanya karena diri ini tidak cukup mampu atau bahkan tidak cukup sakit untuk menceritakan pedihnya.

Perkataan, apa perlu? apa pantas? apa tahu diri? terkadang selalu terngiang di telinga tanpa henti, yang mengartikan bahwa diri ini tidak pernah baik-baik saja setiap harinya.

Semua hanya topeng yang harus dipakai demi terlihat tak apa, demi terlihat tidak lemah di mata orang yang dipaksa untuk kuat pula.

Tak pernah sekalipun goresan-goresan itu menghilang atau bahkan sembuh, hanya saja bedak atau foundation yang menutupinya dengan berhasil.

Tak pernah ada ruang dan wadah untuk sekedar mengatakan diri  ini payah.

Sekalipun harus merasakan hal itu, hari tetap saja terus berganti, detik tetap berjalan tanpa henti, mereka tidak mengenal kamu kenapa, kamu siapa, dan bagaimana keadaanmu.

Waktu juga berjalan sesuai yang telah dikehendaki. Barangkali ia juga terkadang merasa lelah untuk terus berjalan.

Namun, apa boleh buat? mereka sudah ditugaskan untuk terus memutar demi mengejar manusia lambat yang harus berlomba mencapai titik yang dituju, tanpa ingin tahu sebanyak apa luka mu dalam perjalanan, seberapa banyak kamu mengalami mati suri di setiap langkah yang kamu pijak.

Bagaimanapun memang semua harus berjalan seadanya. Jika mereka tak mampu untuk mendengar ceritamu ya tak apa, jika mereka tak mampu mengerti keadaanmu yasudah dan  jika memang tak ada wadah untuk sekedar bersuara biarlah.

Jika segala yang kamu ingin dapatkan dari seseorang tak pernah ada, menulis lah. 

Karena hanya dengan menulis suaramu dapat dengan lantang menceritakan segalanya, tanpa perlu terdengar suara orang yang malah mengadu nasib, tanpa perlu mendengar orang yang seakan-akan menghakimi baik buruknya kisahmu.

Hanya dengan menulis suaramu akan dimengerti, ruang kosong dalam dirimu dapat terisi dengan berbagai warna, di setiap diksi yang kau ciptakan dan gurat-gurat warna dalam sebuah kata-kata yang menjadikannya kalimat yang mempunyai warnanya sendiri.

Jika tidak sekarang, mungkin suatu saat nanti, melalui tulisanmu orang dapat memahami. Jika pun hari itu tidak pernah datang, yasudah, terpenting adalah kamu dapat mengerti dirimu sendiri dan kamu selalu menjadi wadah untuk dirimu sendiri, dan Setidaknya, kamu masih membersamai dirimu.

Label: , ,

Rabu, 13 Maret 2024

Kunci Bisu

pada malam yang selalu menciptakan sunyi

membungkam segala bising di luar jendela

namun tidak dalam pikiran


malam menghadirkan sunyi

untuk membuat lebih banyak suara yang terdengar 

dalam pikiran manusia itu sendiri


terkadang merasa jengkel dengan hal itu

ketika sudah bersusah payah menutupi kesedihan dalam cangkang senyuman

dan pada matahari yang saat itu masih memimpin bumi dengan dominan


na'as harus tergantikan oleh malam

di mana ketika malam datang 

tak ada satu pun tanda kehidupan


pikiran ini hidup tanpa permisi

dengan angkuhnya malam berkata


"aku tau kamu tak sekuat apa yang seperti mentari lihat."

"aku disini untuk mendengar tangismu."

"untuk melihatmu terpuruk, pada apa yang kamu pikirkan."

Label: , ,

Selasa, 05 Maret 2024

Sajak Malam Liar Pinggir Danau

malam adalah saksi bisu

dari dinginnya asa yang kandas diterjang rasa

terjaga dalam detik demi detik yang kian berkedip


sabit di tengah kerumunan awan mendung

setengah enggan memancarkan cerahnya

hanya kerlip lampu malam memantul 

dalam air danau yang merubah dari pandangan


sunyi di luar terasa menyeruak

namun dalam pikiran bising tak lagi mampu terjamah

sepenuh hati diri ini meminta diam

agar tak membangunkan jiwa-jiwa yang terlelap


tidak ada yang mampu mendengar lelahnya tubuh terseret gelombang

bagai imajinasi yang tak mampu diterjemahkan 

rintihan letih menggaungkan sebuah realita

Label: , , ,