Saat Jeritan Terbungkam, Pena Selalu Menjadi Saksi
Selamat datang, para pembaca rakus! Jika selera kamu untuk membaca tidak terpuaskan dan kamu suka meletakkan pena mu sendiri di atas kertas. Berima adalah tempat untuk kamu. Mari tumbuh bersama dengan mempelajari beberapa hal melalui kata-kata meski terkadang sulit di terjemahkan dalam satu pikiran.
pada malam yang selalu menciptakan sunyi
membungkam segala bising di luar jendela
namun tidak dalam pikiran
malam menghadirkan sunyi
untuk membuat lebih banyak suara yang terdengar
dalam pikiran manusia itu sendiri
terkadang merasa jengkel dengan hal itu
ketika sudah bersusah payah menutupi kesedihan dalam cangkang senyuman
dan pada matahari yang saat itu masih memimpin bumi dengan dominan
na'as harus tergantikan oleh malam
di mana ketika malam datang
tak ada satu pun tanda kehidupan
pikiran ini hidup tanpa permisi
dengan angkuhnya malam berkata
"aku tau kamu tak sekuat apa yang seperti mentari lihat."
"aku disini untuk mendengar tangismu."
"untuk melihatmu terpuruk, pada apa yang kamu pikirkan."
malam adalah saksi bisu
dari dinginnya asa yang kandas diterjang rasa
terjaga dalam detik demi detik yang kian berkedip
sabit di tengah kerumunan awan mendung
setengah enggan memancarkan cerahnya
hanya kerlip lampu malam memantul
dalam air danau yang merubah dari pandangan
sunyi di luar terasa menyeruak
namun dalam pikiran bising tak lagi mampu terjamah
sepenuh hati diri ini meminta diam
agar tak membangunkan jiwa-jiwa yang terlelap
tidak ada yang mampu mendengar lelahnya tubuh terseret gelombang
bagai imajinasi yang tak mampu diterjemahkan
rintihan letih menggaungkan sebuah realita