Betapa bahagianya aku bersamanya, tapi sayang dia tidak bisa melihatnya
Selamat datang, para pembaca rakus! Jika selera kamu untuk membaca tidak terpuaskan dan kamu suka meletakkan pena mu sendiri di atas kertas. Berima adalah tempat untuk kamu. Mari tumbuh bersama dengan mempelajari beberapa hal melalui kata-kata meski terkadang sulit di terjemahkan dalam satu pikiran.
Bagimana bisa dirinya memintaku berjanji, untuk tetap sebahagia sebelum aku mengenalnya, bisa membuka hatiku untuk orang baru dan tidak lagi membukanya untuk orang lama itu? wkwk
Kau pikir hatiku semurah barang cuci gudang yang bisa di dapatkan semua orang dengan mudah? Sedangkan dirinya tahu betul bagaiman rusaknya hati dan kepercaaan ku sebeumnya saat bersama orang lama sebelumnya. Dirinya tahu betul bagaiman aku tidak lagi memberi kesempatan orang baru untuk hadir karena aku rasa aku sudah tidak lagi memiliki hati yang diminta orang-orang termasuk dia.
Bahkan dirinya snediri yang meminta hati itu dnegan mengatakan jika "jangan biarkan hatimu dibawa lari oleh orang itu," ku pikir itu karena dia yang sangat menginginkan hatiku untuk bisa dimilikinya?
Berapakali dia meminta diriku untuknya? Mungkin dia lupa, tapi aku ingat.
Katanya cintanya juga besar, sayangnya juga sama dan sama membuthkan, tapi kenapa memilih lepas? Dibanding mengizinkan ku, mengizinkan kita memperbaiki semuanya.
Katanya, sudah terlalu banyak yang disampaikan dan bertolak belakang denganku. Padahal sekeras mungkin aku mengusahakan menerimanya, bukan karena terpaksa, tapi memang kenyamanan bukan yang dicari dalam sebuah hubungan?
Bagaimana bisa dirinya bicarakan masa depan jika dia cepat lelah dalam memberitahu ketidaksadaranku, padahal aku hanya butuh lebih tegas tanpa keinginan meninggalkan dan aku juga tidak akan menganggapnya egois, karena memang seperti itu cara hubungan bekerja bukan?
Aku selalu berharap dirinya tidak cepat lelah memberitahu dan membenahi diriku sama seperti aku yang tidak pernah lelah mengingatkan untuk minum air putih disetiap waktunya.
Aku tau, aku jauh dari kata sempurna. Penyelesaian masalah yang aku tangani untuk orang-orang disekitarku, ternya ahanya sebuh fiktif untuk diriku, nyatanya aku tidak pernah mampu menyelesaikan permasalahan yang hadir di dalam kehidupanku.
Menyakitkan rasanya, saat kamu bisa memberitahu orang, harus seperti apa dalam bersikap pada sebuah hubungan menjadi seorang pasangan, tapi nyatanya aku jauh dari kata bisa melakukannya. Egoku lahir cukup tinggi bersamaan dengan gengsiku. Ketidakpekaan ku terhadap sekeliling sudah terbentuk cukup baik sampai detik ini. Membuatku kurang bisa memahami dalam bertindak.
Tapi aku berani untuk meruntuhkan itu, sekeras-kerasnya. Ku kerahkan segala tenagaku melawan diriku sendiri, bukan karena terpaksa. Hanya saj amenruutku hal itu memang perlu diruntuhkan, meski harus melalui teguran keras, tapi begitulah cara kerja diriku bisa melebarkan pandangan. Aku membutuhkan dukungan yang tegas yang bisa di beri seseorang, tapi bukan untuk menyadarkanku lalu pergi meninggalkan.
Terkadang diri ini memang terlalu kerasa dan perlu sedikit keras bantuan dari luar untuk memperbaikinya. Wajar jika ku bangun pertahanan begitu keras bahkan terlampau kokoh, karena aku memerlukan pertahanan itu dnegan keadaanku yang selalu sendiri.
Aku senang sewaktu aku tidak perlu berusaa keras untuk membangun pertahanan itu lagi, karena sudah ada yang membantu untuk melindungiku. Namun, yah, pertahanan yang terlampau itu, tanpa sadar menyakiti orang yang ingin melindungiku. Aku berani meruntuhkannya.
Bukan karena dia yang memaksaku, tetapi aku yang ingin untuk meruntuhkannya dan memang seharusnya seperti itu. Aku tidak mungkin menyimpan ego untuk mempertahan pertahanan itu dan membuatnya tidak terlihat.
Keras sekali rasanya aku meruntuhkan bangunan itu dan syukur dia mau membantu, tapi ada kalanya aku terlalu lelah sehingga abai untuk melanjutkan sisa bangunan itu. Aku hanya membutuhkan keyakinan untuk meneruskan, mungkin dengan sedikit lebih keras.Tapi bukan dengan sebuah kepergian.
Pernahkah kamu merasakan sangat menjaga segalanya agar tetap baik-baik saja, tapi kamu bekerja begitu keras untuk hal itu? Kau tahu? Itu sangat menyulitkan dan tak jarang tetap saja menyakitkan. Kamu menahannya begitu keras dengan berbagai cara, bagaimanapun caranya, sampai kamu tidak tahu lagi caranya.
Kau tahu? Mengakui diri sendiri mengalah
adalah hal yang sangat di benci, sangat. Tapi kamu harus melakukan karena
memang begitu seharusnya(?) untuk menjaga agar segalanya tetap baik. Kau tahu? Aku
sangat tidak menyukai perdebatan, aku akan sangat menghindarinya, jika aku
bisa, dan jika diriku mau atau mampu(?)
Aneh bukan? Aku tidak suka perdebatan, tapi
aku benci jika harus mengakui diriku harus mengalah. Entahlah segalanya begitu
sulit, benangnya terlalu melilit satu sama lain. Bisakah membantu mengurainya? Tidak
ya? Yasudah tak apa.
Tapi aku tidak keberatan juga, aku menghadapi
perdebatan, mengalah, berusaha menahan agar tetap baik karena aku menginginkannya, karena aku mau dan membutuhkannya. Kalau hal-hal yang ku benci harus ku jalani,
aku akan berkendara di atasnya, tidak masalah. Aku akan melakukannya, jika itu membuat ini tetap.
Pernahkah kamu menjadi bintang
dalam penglihatan seseorang—
begitu terang, bersinar, dan...
melampaui batas.
Setinggi itu pula penglihatannya.
Ia menatapmu dari bawah
dengan harapan yang panjang,
mengira suatu hari ia bisa sampai
ke tempat kau berpendar.
Hingga suatu hari dirinya bisa mencapai bintang itu,
“Ternyata tak setinggi itu,” katanya.
“Yang melampaui batas hanya penglihatanku.”
Kamu tahu? Rasanya seperti terjatuh bermil-mil jauhnya
Aneh rasanya
Padahal aku pun bukan bintang
Dan aku tidak pernah memberi namaku bintang
Gotong royong adalah sebuah nilai yang sudah menjadi fondasi kehidupan di tengah masyarakat Indonesia untuk menghadapi tantangan besar di era modern. Berkembangnya sebuah nilai individualisme dan gaya hidup yang serba digital kini, membuat banyak pertanyaan, apakah nilai gotong royong masih relevan dan mampu bertahan di tengahnya.
Gotong royong sendiri merupakan sebuah budaya
bekerja sama demi mencapai tujuan secara bersama tanpa mengharap imbalan dalam
melakukannya. Konsep ini telah melekat kuat di tengah-tengah masyarakat Indonesia
yang mencerminkan bentuk empati, solidaritas, dan rasa tanggung jawab secara
sosial.
Tradisi gotong royong dapat di lihat di berbagai
kegiatan, seperti kerja bakti, membantu tetangga yang membutuhkan, atau gotong
royong dalam membangun rumah.
Terjadinya perubahan gaya hidup yang di kenal
sebagai individualistis menjadi tantang utama dalam sebuah nilai gotong royong.
Saat ini kebanyakan orang sudah lebih fokus pada kebutuhan pribadi, karier,
atau keluarga inti sehingga hal ini mengurangi partisipasi dalam kegiatan
sosial.
Majunya teknologi digital juga menjadi salah
satu tantangan besar. Meskipun kehadiran teknologi digital saat ini banyak
membantu aktivitas seseorang, salah satunya mempermudah dalam ranah komunikasi.
Namun, hal ini menjadi peran yang dapat menggantikan manusia berinteraksi
secara langsung. Platform daring membuat gotong royong berbasis fisik semakin
jarang di temui.
Selain itu, urbanisasi telah membawa perubahan
yang cukup signifikan dalam hidup masyarakat, terutama dalam aspek sosial dan
budaya. Seperti contoh, di perkotaan interaksi antarwarga cenderung bersifat
individualistik dan pragmatis, hal ini tentu berbeda dengan kebanyakan masyarakat
yang ada di pedesaan, yang lebih menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan
gotong royong.
Contoh lain dari bentuk urbanisasi adalah
banyaknya orang yang lebih memilih tinggal di apartemen atau perumahan dengan
sistem keamanan yang tertutup sehingga intensitas komunikasi dan interaksi
anatrtetangga menjadi sangat minim.
Hal ini kebalikan dengan suasana masyarakat di
pedesaan yang gemar berkumpul di balai desa atau bekerja sama di sawah yang
masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh gotong royong yang masih terjaga, yaitu seperti kegiatan kerja bakti yang masih terus di adakan baik di perumahan ataupun perkampungan, terutama menjelang musim hujan untuk dapat mengantisipasi banjir.
Selain itu, gotong royong juga masih terjaga bahkan berjalan beriringan dengan teknologi yang berkembang, contohnya dengan berbagai aplikasi yang digunakan untuk tempat penggalangan dana dengan berbagai kepentingan, seperti renovasi fasilitas umum, membantu dana untuk anak panti, atau membangun fasilitas di pelosok yang sulit terjangkau, dan masih banyak lagi. Dengan teknologi ini masyarakat bisa memanfaatkannya untuk membantu mereka yang membutuhkan dari jarak jauh.bn
Label: budaya gotong royong, Gotong royong, individualis, teknologi