Gotong Royong di Era Modern: Masihkah Menjadi Jiwa Masyarakat Indonesia?
Gotong royong adalah sebuah nilai yang sudah menjadi fondasi kehidupan di tengah masyarakat Indonesia untuk menghadapi tantangan besar di era modern. Berkembangnya sebuah nilai individualisme dan gaya hidup yang serba digital kini, membuat banyak pertanyaan, apakah nilai gotong royong masih relevan dan mampu bertahan di tengahnya.
Gotong royong sendiri merupakan sebuah budaya
bekerja sama demi mencapai tujuan secara bersama tanpa mengharap imbalan dalam
melakukannya. Konsep ini telah melekat kuat di tengah-tengah masyarakat Indonesia
yang mencerminkan bentuk empati, solidaritas, dan rasa tanggung jawab secara
sosial.
Tradisi gotong royong dapat di lihat di berbagai
kegiatan, seperti kerja bakti, membantu tetangga yang membutuhkan, atau gotong
royong dalam membangun rumah.
Tantangan Budaya Gotong Royong di Era Modern
Terjadinya perubahan gaya hidup yang di kenal
sebagai individualistis menjadi tantang utama dalam sebuah nilai gotong royong.
Saat ini kebanyakan orang sudah lebih fokus pada kebutuhan pribadi, karier,
atau keluarga inti sehingga hal ini mengurangi partisipasi dalam kegiatan
sosial.
Majunya teknologi digital juga menjadi salah
satu tantangan besar. Meskipun kehadiran teknologi digital saat ini banyak
membantu aktivitas seseorang, salah satunya mempermudah dalam ranah komunikasi.
Namun, hal ini menjadi peran yang dapat menggantikan manusia berinteraksi
secara langsung. Platform daring membuat gotong royong berbasis fisik semakin
jarang di temui.
Selain itu, urbanisasi telah membawa perubahan
yang cukup signifikan dalam hidup masyarakat, terutama dalam aspek sosial dan
budaya. Seperti contoh, di perkotaan interaksi antarwarga cenderung bersifat
individualistik dan pragmatis, hal ini tentu berbeda dengan kebanyakan masyarakat
yang ada di pedesaan, yang lebih menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan
gotong royong.
Contoh lain dari bentuk urbanisasi adalah
banyaknya orang yang lebih memilih tinggal di apartemen atau perumahan dengan
sistem keamanan yang tertutup sehingga intensitas komunikasi dan interaksi
anatrtetangga menjadi sangat minim.
Hal ini kebalikan dengan suasana masyarakat di
pedesaan yang gemar berkumpul di balai desa atau bekerja sama di sawah yang
masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu Apakah Budaya Gotong Royong Tetap Ada?
Contoh gotong royong yang masih terjaga, yaitu seperti kegiatan kerja bakti yang masih terus di adakan baik di perumahan ataupun perkampungan, terutama menjelang musim hujan untuk dapat mengantisipasi banjir.
Selain itu, gotong royong juga masih terjaga bahkan berjalan beriringan dengan teknologi yang berkembang, contohnya dengan berbagai aplikasi yang digunakan untuk tempat penggalangan dana dengan berbagai kepentingan, seperti renovasi fasilitas umum, membantu dana untuk anak panti, atau membangun fasilitas di pelosok yang sulit terjangkau, dan masih banyak lagi. Dengan teknologi ini masyarakat bisa memanfaatkannya untuk membantu mereka yang membutuhkan dari jarak jauh.bn
Label: budaya gotong royong, Gotong royong, individualis, teknologi





.png)
